Memakai wangi-wangian yang semerbak baunya di hadapan laki-laki yang bukan mahram termasuk perkara yang diharamkan.

by Abu Umar
0 comments 7 views

Telah dijelaskan sebelumnya mengenai syarat-syarat pakaian wanita muslimah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan sifat-sifatnya, sebagaimana dijelaskan pula melalui hadits-hadits yang mulia dan perkataan para imam.

Wanita memiliki berbagai macam perhiasan. Di antaranya ada yang halal, seperti wangi-wangian yang telah disinggung sebelumnya, dan ada pula yang diharamkan.

Perhiasan yang Halal

1. Wangi-wangian untuk Menyambut Suami

Wangi-wangian yang dipakai wanita untuk menyambut suaminya tidaklah dilarang. Hal ini telah dibahas dalam pembahasan mengenai sunnah-sunnah fitrah.

2. Emas dan Sutera

Emas dan sutera keduanya halal bagi wanita, serta dibolehkan berhias dengannya.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا

“Dihalalkan emas dan sutera bagi perempuan dari umatku, dan diharamkan bagi laki-lakinya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi)

BACA JUGA:  Pantalon (Celana Panjang) bagi Wanita

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Dihadiahkan kepada Nabi ﷺ pakaian Siirā’. Kemudian beliau mengirimkannya kepadaku, lalu aku memakainya. Aku melihat kemarahan pada wajah beliau. Kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak mengirimkannya kepadamu untuk engkau pakai, tetapi agar engkau merobeknya menjadi kerudung-kerudung bagi para wanita.'” (Muttafaq ‘alaih)

Kata-kata, “Dihadiahkan kepada Nabi ﷺ”, maksudnya yang menghadiahkan pakaian tersebut adalah Raja Aylah yang masih musyrik.

Pakaian Siirā’ adalah sejenis burdah yang bergaris-garis kuning atau bercampur dengan sutera dan emas murni. Ada pula yang berpendapat bahwa pakaian tersebut seluruhnya terbuat dari sutera.

Pada lafaz, “bagi para wanita”, dalam salah satu riwayat disebutkan:

“Maka aku merobeknya untuk wanita-wanita keluargaku.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“…untuk Fatimah-Fatimah.”

Yang dimaksud ada tiga orang, yaitu:

Fatimah binti Rasulullah ﷺ.
Fatimah binti Asad, ibu Ali.
Fatimah binti Hamzah.

Kedua hadits tersebut merupakan dalil yang tegas bagi ulama yang mengharamkan sutera dan emas bagi kaum laki-laki, serta menghalalkannya bagi kaum wanita.

3. Memakai Baju Mu’ashfar di Rumah

Wanita dibolehkan memakai baju mu’ashfar di rumah, dengan syarat tidak bertujuan membanggakan diri atau menyombongkan diri di hadapan teman-teman maupun tetangganya.

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata:

“Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ dari sebuah tsaniyyah. Kemudian beliau menoleh kepadaku, sedangkan aku memakai baju tipis yang diwarnai dengan ashfar (warna kuning keemasan). Beliau bertanya, ‘Apakah ini?’ Maka aku mengetahui bahwa beliau tidak menyukainya. Aku pun pulang menemui keluargaku ketika mereka sedang menyalakan api di tungku, lalu aku melemparkan baju itu ke dalamnya. Keesokan harinya aku datang menemui beliau. Beliau bertanya, ‘Hai Abdullah, apa yang engkau lakukan terhadap baju itu?’ Aku pun menceritakan apa yang telah kulakukan. Beliau bersabda, ‘Mengapa engkau tidak memakaikannya kepada salah seorang perempuan dari keluargamu?'”

Ibnu Majah menambahkan:

“Hal itu tidak menjadi masalah bagi kaum perempuan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Al-Mu’ashfar adalah pakaian yang diwarnai dengan warna ashfar (kuning), sehingga menghasilkan warna kuning keemasan yang mengilap dan menarik perhatian.

Tsaniyyah adalah jalan yang berada di pegunungan.

Dari keterangan di atas menjadi jelas bahwa memakai baju mu’ashfar diperbolehkan bagi wanita.

BACA JUGA:  Mahram Seorang Wanita Muslimah

Perhiasan yang Haram

1. Perhiasan untuk Mencari Kemasyhuran

Perhiasan yang digunakan dengan tujuan mencari kemasyhuran, menunjukkan kesombongan, serta menarik perhatian banyak orang, tamu-tamu wanita, dan lainnya, termasuk perhiasan yang terlarang.

2. Wangi-wangian di Hadapan Selain Mahram

Memakai wangi-wangian yang semerbak baunya di hadapan laki-laki yang bukan mahram termasuk perkara yang diharamkan.

3. Menampakkan Perhiasan kepada Selain Mahram

Menampakkan perhiasan di hadapan laki-laki yang bukan mahram juga termasuk perkara yang terlarang. Pembahasannya telah dijelaskan pada bab “Pakaian Wanita.”

Wallahu a’lam. []

Sumber: Fiqih Muslimah, Ibadat – Muamalat, Karya: Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Pustaka Amani, Cetakan I, Rajab 1415 H (Desember 1994)

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119