Saudaraku,
Ada hati yang masih bergetar ketika melihat kemaksiatan. Ia sedih. Ia takut. Ia khawatir dirinya tergelincir. Itulah tanda bahwa iman masih hidup.
Namun, ada keadaan yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Bukan lagi ketika seseorang terjatuh dalam dosa. Melainkan ketika dosa tidak lagi terlihat sebagai dosa. Saat kemaksiatan mulai dianggap biasa. Bahkan dipandang indah dan layak dibanggakan.
Inilah salah satu tanda matinya rasa cemburu terhadap agama.
BACA JUGA: Saudaraku, Orang Shaleh VS Maksiat
Saudaraku, hati yang sehat akan membenci keburukan. Ia mungkin lemah untuk meninggalkannya. Tetapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang baik.
Sebaliknya, hati yang telah sakit akan mengalami kebalikan. Ia kehilangan kepekaan. Yang buruk tidak lagi terasa buruk. Yang haram mulai dicari alasan pembenarannya. Yang tercela dihiasi dengan berbagai istilah yang terdengar indah.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وكثير من هؤلاء لا يقتصر على عدم الاستقباح، بل يحسن الفواحش والظلم لغيره، ويزينه له، ويدعوه إليه، ويحثه عليه، ويسعى له في تحصيله
“Banyak dari mereka yang tidak hanya berhenti pada tahap tidak menganggap buruk kemaksiatan, bahkan dia menganggap baik perbuatan keji dan kezaliman terhadap orang lain. Dia menghiasinya, mengajak orang kepadanya, mendorong untuk melakukannya, dan berusaha keras agar orang lain dapat melakukannya.” Ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 67
Perhatikan urutannya.
Awalnya hanya tidak merasa bahwa maksiat itu buruk. Lama-kelamaan ia mulai menyukainya. Setelah itu ia menghiasinya dengan kata-kata yang memikat. Kemudian mengajak orang lain untuk ikut melakukannya. Bahkan merasa bangga jika semakin banyak yang mengikuti jalannya.
Saudaraku, inilah bahaya yang sering tidak disadari.
Setan tidak selalu membuat manusia mencintai dosa dalam sekejap. Ia memulainya dengan menghilangkan rasa malu. Mengikis rasa cemburu terhadap kehormatan agama. Sampai akhirnya hati menerima keburukan sebagai sesuatu yang wajar.
Hari ini kita melihat banyak kemaksiatan dipromosikan. Dihiasi dengan hiburan. Dikemas dengan kreativitas. Disebut sebagai kebebasan. Bahkan dianggap sebagai kemajuan.
BACA JUGA: Saudaraku, Bacalah Quran setiap Hari
Yang menasihati disebut kolot. Yang menjaga diri dianggap berlebihan. Sedangkan yang terang-terangan bermaksiat justru mendapat tepuk tangan.
Saudaraku, jangan biarkan hati kita ikut terbiasa.
Mintalah kepada Allah agar selalu diberikan hati yang hidup. Hati yang masih mampu membedakan antara yang hak dan yang batil. Hati yang tetap merasa sedih ketika melihat kemaksiatan. Dan hati yang tidak pernah ridha jika dosa dipandang sebagai sesuatu yang indah.
Karena musibah terbesar bukanlah banyaknya dosa yang dilakukan. Melainkan ketika dosa telah kehilangan wajah buruknya di mata manusia. Saat itulah hati sedang berada di ambang kebinasaan. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

