Saya merenungi ungkapan para filosof tentang cinta, sebab-sebabnya, dan bagaima na mengobatinya. Saya pun telah menulis buku khusus tentang itu yang berjudul Dzamm al-Hawa (Kutukan terhadap Hawa Nafsu).
Dalam karya itu, saya menguraikan beragam ungkapan filosof tentang cinta. Mereka berpendapat, cinta adalah satu gejolak yang muncul akibat kekosongan jiwa. Sebagian berkata, rasa cinta tidak akan dialami kecuali orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi dan ketam-panan. Sebagian yang lain berpendapat, cinta akan melanda mereka yang lalai akani hakikat sesuatu.
Akhirnya saya temukan makna yang sangat indah. Ketahuilah, cinta tidak melanda kecuali orang-orang yang terlalu kaku dalam bersikap pada sesuatu. Bagi orang-orang yang memiliki kemauan dan ambisi yang tinggi, ketika terlalu mencin tai sesuatu, saat itu muncul aib dan cela dari hal yang dicintainya.
Hati akan meraasa gembira melihat hakikat dari apa yang selama ini dicintai dan lalu akan segera mencari ganti yang lain, la tidak akan terpaku pada sikap mencintai sesuatu hingga sikap itu menyiksanya. Yang akan terperangkap dalam gejolak cinta tiada henti hanyalah orang-orang yang kaku dalam menyikapi atau mencintai sesuatu.
BACA JUGA: Ketaatan Akal pada Hikmah Allah
Adapun orang yang bijaksana akan memandang setiap sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan. la akan senantiasa memperbaiki sikapnya dalam mencintai sesuatu. Ia tidak mengenal rintangan dan hambatan. Cintanya pada sesuatu tidak akan membuatnya hilang akal.
Mungkin saja di awal interaksi akan cenderung sangat mencintai karena belum berpikir jauh atau kurang mendalam-nya interaksi. la kurang tahu persis aib dan cela yang ada padanya. Bisa jadi, seseorang menyukai orang lain karena. adanya suatu kecocokan antara dua jiwa yang memiliki banyak kesamaan.
Contohnya, pertemuan orang yang cerdas de-ngan yang cerdas pula, atau yang gagah dengan gagah. Akibatnya, muncullah rasa cinta.
Sepintas memang sangat sulit mema-hami cinta. Cinta akan selalu berjalan se-suai dengan kadar pemahaman orang yang sedang dimabuk cinta. Sesungguhnya kecenderungan itu tak akan pernah dicapai secara sempurna di dunia nyata.
Seseorang yang sedang jatuh cinta se-benarnya tiada mendapatkan sesuatu yang sempurna dari orang yang dicintai, Seandainya tahu bahwa pada orang yang dicintai itu ada aib dan cela, pastilah tidak lagi menoleh padanya.
Adapun ketergantungan cinta kepa-da Sang Khaliq seharusnya tidak boleh terhalang kecintaan kepada selain Dzat-Nya. Kecintaan kepada-Nya akan menjadikan seseorang tercurahkan perhatiannya untuk berpaling dari selain-Nya. Rasa cinta yang mendalam akan membuahkan rasa rindu dan memunculkan gejolak yang membakar jiwa.
Rabi’ah berkata:
Aku mencinta Kekasihku, tak tercela aku karena cintaku kepada-Nya
Namun ketika mencintai mereka, banyak cela yang kuderita
Diriwayatkan, bahwa se orang zahid yang sangat miskin berjumpa dengan seorang wanita yang sangat cantik, la lalu tertarik dan jatuh hati. Dipinangnyalah wanita itu melalui ayahnya. Lalu keduanya menikah.
Setelah sampai di rumah istrinya, digantilah pakaian kumal si zahid itu dengan pakaian yang baru. Ketika malam tiba, si fakir itu berteriak-teriak, “Bajuku! Bajuku! Aku kehilangan bajuku. Aku telah kehilangan apa yang pernah aku dapatkan!”Peristiwa itu jelas sangat memalukan dan menggambarkan bagaimana tidak seriusnya si fakir itu.
Mungkin saja cinta yang sangat khusyuk hingga jauh keluar alam sadar manusia dialami para ahli makrifat yang telah sangat dekat dengan Allah dan sudah tidak lagi berurusan dengan maksiat dan dosa. Kejadian seperti itu bisa dibanding-kan dengan seseorang yang sedang me nikmati makanan yang sangat lezat.
BACA JUGA: Maksiat yang Diikuti dengan Maksiat Lainnya
Saat itu, akal tidak lagi berpikir dan memikirkan bagaimana makanan itu dibolak-balik da lam mulutnya dan bagaimana pula mulut mengunyah dan menelannya.
Orang-orang yang memiliki tingkat kesadaran yang sangat tinggi (orbab al-yaqzhah) akan selalu menunaikan cinta kepada Rabbnya tanpa pernah dituntut dan diminta. Rasa cintanya telah tertanam dan tumbuh dengan tulus dari dalam hati. Mereka senantiasa merasakan kenikmatan hidup dan terhindar dari kehinaan dunia. Semakin dalam pengetahu an seseorang akan akibat cinta yang akan dideritanya, maka akan semakin ringan pula rasa cinta itu di dalam hatinya. Namun, jika akal telah membeku dan sikap selalu kaku, yang terjadi adalah kesedihan yang tiada berujung.
Al-Mutanabbi pernah berpesan:
Andai saja seseorang dapat memindai muara keelokan sesuatu
niscaya ia takkan terperangkap untuk mencintainya []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

