Home KajianTalbis Iblis atas Orang Awam Terkait Pandangan Bebas Berbuat Kemaksiatan

Talbis Iblis atas Orang Awam Terkait Pandangan Bebas Berbuat Kemaksiatan

by Abu Umar
0 comments 103 views

Talbis Iblis lainnya, mendorong orang awam agar membebaskan diri dalam melakukan kemaksiatan. Ketika ditegur, mereka mengucap kata-kata kaum zindik. Seperti ucapan mereka ini: “Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang tunai (pasti) demi mendapatkan sesuatu yang tempo (belum pasti).”

Andaikan mengerti, niscaya mereka menyadari bahwa berbuat kemaksiatan bukanlah sesuatu yang tunai, karena perbuatan maksiat diharamkan. Sejatinya, mereka hanya diberi pilihan antara tunai atau tempo dalam hal mubah!

Mereka ibarat orang bodoh yang tengah sakit demam, lalu dia meminum madu. Saat ditanya alasannya minum madu, dia menyatakan: “Syahwat-minum madu-adalah sesuatu yang tunai sementara kesembuhan adalah sesuatu yang tempo.”

BACA JUGA:  Talbis Iblis dalam Berpegang Teguh terhadap Sesuatu yang Tidak Diwajibkan

Andaikata mengetahui hakikat iman, niscaya mereka menyadari bahwa sesuatu yang tempo tersebut hakikatnya adalah janji Allah yang pasti dipenuhi.

Seandainya mereka mengetahui kebiasaan pedagang yang sering berspekulasi dengan banyak uang demi sedikit laba yang diharapkan, tentu mereka menyadari bahwa apa yang mereka tinggalkan itu hanyalah sesuatu yang sepele, sementara apa yang mereka ingin dapatkan adalah sesuatu yang berharga.

Seandainya mereka bisa membedakan antara sesuatu yang harus diprioritaskan dan sesuatu yang harus disampingkan, tentu mereka bersegera melakukan apa yang bisa langsung menggantikan kehilangannya atas keuntungan abadi, yang pada gilirannya akan menjerumuskan kepada siksaan yang amat pedih. Sungguh, pengabaian ini merupakan kerugian nyata yang tidak mungkin bisa diperbaiki nanti.

Di antara mereka mengatakan: “Rabb Maha Pemurah, ampunan-Nya luas, dan harapan ialah bagian dari agama.” Mereka menyebut angan-angan dan teperdayanya sanubari sebagai harapan pasti. Anggapan inilah yang membinasakan para pelaku maksiat yang banyak berdosa.

Abu Amr bin al-Alla bercerita: “Aku menerima berita bahwa suatu hari al-Farazdaq menghampiri sebuah kaum yang membahas rahmat Allah. Dia orang yang paling lapang dada di antara mereka mengenai ‘harapan’. Mereka bertanya: “Mengapa engkau menuduh wanita-wanita baik berbuat nista?’ Al-Farazdaq menjawab: Jawablah tanyaku; jika aku berbuat dosa kepada kedua orang tuaku, dengan dosa yang sama yang aku perbuat kepada Rabbku, apakah keduanya rela melemparkan aku ke tungku yang penuh dengan bara api?’ Mereka menjawab: “Tidak, karena kedua orang tuamu menyayangimu.’ Lantas al-Farazdaq berkata: ‘Sungguh, aku lebih percaya kasih sayang Rabbku daripada kasih sayang kedua orang tuaku”.”

Aku tegaskan: “Ini kebodohan murni.” Sebab, rahmat Allah itu tidak bergantung pada kelembutan perasaan. Andai rahmat Allah sedemikian rupa, maka tidak akan ada burung yang dibunuh, tak ada anak kecil yang dimatikan, dan tidak seorang pun dimasukkan ke Neraka Jahanam.

Dari Abbad, dia berkata; Al-Ashma’i menceritakan: “Aku pernah tinggal bersama Abu Nuwwas di Makkah. Tiba-tiba, aku bertemu dengan seorang remaja belia yang tengah mencium Hajar Aswad. Abu Nuwwas pun berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan pergi sebelum bisa mencium remaja itu di dekat Hajar Aswad.”

Aku berkata: ‘Apa-apaan kamu ini! Takutlah kepada Allah! Ingatlah, kamu kini berada di negeri suci, dan di dekat rumah-Nya yang suci.’ Abu Nuwwas bersikeras: “Tetapi ini harus kulakukan.”

Selanjutnya, Abu Nuwwas mendekati Hajar Aswad. Lantas pemuda itu datang lagi dan mencium batu tersebut. Abu Nuwwas buru-buru melekatkan pipinya di pipi remaja belia itu dan menciumnya.

Aku melihat semua itu. Aku pun berkata, ‘Apa-apaan kamu ini! Patutkah kamu berbuat ini di tanah suci Allah.’ Abu Nuwwas menanggapi seruanku: “Jangan kamu pedulikan itu, toh Rabbku Maha Penyayang. Dia pun bersyair:

Dua pencinta saling menyatukan pipi kala mencium Hajar Aswad
Keduanya pun sama-sama puas tanpa perlu berdosa seakan keduanya sudah berjanji untuk itu.

Aku katakan; Perhatikan perilaku lancang dari sang pelaku. Dia hanya ingat rahmat Allah tatkala melakukan perbuatan haram! Dia lupa akan siksa-Nya yang pedih.

Di antara kalangan awam ada yang mengungkapkan: “Para ulama itu sebaiknya menjaga hukum-hukum Allah. Namun ternyata si fulan yang alim telah melakukan ini, dan fulan lainnya telah melakukan itu. Dan aku tidak jauh berbeda dari mereka.”

Tipu daya Iblis ini dapat terungkap oleh fakta bahwa tidak ada perbedaan antara orang bodoh serta orang alim dalam hal kewajiban. Namun, keberadaan orang alim yang dikuasai hawa nafsu tidak bisa dijadikan alasan oleh orang bodoh untuk melakukan dosa,

Ada pula yang berkata: “Seberapa besar dosaku hingga aku harus dihukum?”, “Siapa aku hingga harus dihukum?”, “Dosaku tidak membahayakan diri-Nya!”, “Ketaatanku ini tak bermanfaat bagi diri-Nya!”, dan: “Ampunan-Nya lebih besar daripada seluruh dosaku.” Atau ucapan penyair:

memangnya siapa aku ini di mata Allah hingga ketika aku bergelimang dosa dia tidak mengampuni dosaku

Ini merupakan kebodohan besar. Mereka seakan-akan meyakini bahwa Allah hanya menyiksa tandingan atau sekutu-Nya. Mereka tidak sadar bahwa dengan melakukan pelanggaran, sebenarnya mereka sudah berada pada posisiseorang penentang.

Suatu saat, Ibnu Aqil mendengar seseorang berkata: “Memangnya siapa aku ini hingga Allah menghukumku?’ Ibnu Aqil menegaskan kepadanya:

Dengan ini Anda mengetahui berbagai kesalahan kalangan awam di zaman modern. Ketika dungatkan tentang haramnya mencukur jenggot, misalnya, mereka berkata:

“Kamu ialah orang yang andaikan Allah mematikan seluruh makhluk, lantas yang tersisa hanya kamu, maka firman Allah ini: )

بأنها الناس

“Wahai manusial (QS. Al-Baqarah [2] 21) tidak lain ialah pembicaraan yang ditujukan kepada dirimu.”

Terdapat pernyataan lain dari kalangan orang awam yang terjerat oleh talbis dan atau tipu daya Iblis, yaitu: “Aku pasti akan bertaubat dan menjadi orang shalih.”

Ketahuilah, betapa banyak orang bodoh yang berangan seperti demikian, namun sayang, kematian terlebih dahulu merenggut segala sesuatu, sebelum sempat mewujudkan angan-angannya itu.

Maka tidaklah bijaksana menyegerakan kekeliruan dan menunda-nunda taubat. Karena mungkin tidak ada lagi waktu untuk bertaubat, atau mungkin saja taubat tersebut tidak sah, atau bisa jadi taubat tidak diterima. Andai pun ia diterima, rasa malu lantaran pernah melakukan perbuatan dosa tetap bertahan selamanya.

Getirnya menahan bisikan untuk melakukan maksiat, sampai bisikan tersebut benar-benar hilang, ini jauh lebih mudah daripada menanggung beban taubat, hingga taubat di atas diterima.

BACA JUGA:

Di antara para pendosa itu ada yang bertaubat, tetapi kemudian dia merusak jalan kembalinya tersebut, sehingga Iblis memasukkan berbagai tipu daya dalam hatinya, sebab musuh Allah ini tahu tekadnya tidak kuat.

BACA JUGA:  Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah yang Zuhud

Dari al-Hasan, dia bercerita: “Jika syaitan melihatmu tidak taat kepada Allah, maka syaitan menganggap kamu sudah mati (yakni mudah untuk disesatkan).

“Bagaimana mungkin hukumnya seperti itu, sementara syaikh anu saja mencukur jenggotnya, atau jenggotnya terhitung beberapa helai saja. Apakah kamu lebih alım daripada syaikh itu?” Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kesempurnaan dan keparipurnaan hujjah terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya. Muhammad, bukan pada pribadi syaikh-syaikh atau yang lainnya. Karena mereka hanyalah perantara untuk mengajarkan kebenaran kepada umat manusia, yakni dengan tujuan utama membawa kepada kebaikan. Tidak ada yang mengetahui atau menyadari manhaj tersebut selain mereka yang telah Allah lapangkan dadanya untuk menerima dan mengikuti manhaj Salaf

Dengan kata lain, Ibnu Aqil ingin berkata kepadanya. “Engkau adalah orang kafir.” Karena firman Allah: “Wahai manusia,” ditujukan kepada orang kafir atau manusia secara umum, bukan kepada orang yang beriman.

Adapun apabila syaitan melihatmu selalu taat kepada Allah, ia membuat kamu bosan dan menolak menyesatkan (menjerumuskan) dirimu.

Dan jika syaitan melihatmu sesekali berbuat ketaatan dan sesekali berbuat kemaksiatan, maka ia menjadi sangat berambisi untuk menjerumuskanmu.” []

Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119