Talbis Iblis yang sering dilancarkan kepada para ahli ibadah yang zuhud ialah riya yang samar. Sementara riya yang uyata-yakni yang terang-terangan dan mudah untuk dideteksi atau disadari seorang yang paham agama-tidak termasuk di dalamnya.
Contoh riya yang nyata yakni memperlihatkan badan yang kurus, muka pucat, dan rambut acak-acakan sehingga mengesankan kezuhudan. Begitu pula dengan melirihkan suara untuk menampakkan kekhusyuan hati, mengerjakan shalat karena ingin dilihat orang lain, dan memberi sedekah dengan motif memperoleh sanjungan seseorang. Ini semua termasuk riya yang nyata, bukan riya yang samar.
Di sini kami hanya membahas atau menyinggung riya yang samar, karena Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya tiap amalan bergantung pada niatnya.”
Saat seseorang mengerjakan suatu amalan yang bukan karena Allah, maka amalan tersebut tidak akan diterima. Malik bin Dinar berkata: “Katakanlah kepada orang yang belum jujur: ‘Jangan pernah lelah (untuk berusaha jujur).'”
Ketahuilah bahwa orang mukmin yang sejati itu tidaklah beramal melainkan untuk Allah semata. Hanya saja, saat amalannya tersusupi riya yang samar, urusannya menjadi kabur, dan dia sulit lepas dari penyakit riya ini.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah
Dinukilkan dari Yasar, ia berkata: “Yusuf bin Asbath menasihatiku: ‘Belajarlah untuk mengetahui mana amalan yang shahih dan yang tidak, karena aku sudah mempelajarinya sejak 22 tahun silam.”
Lantaran khawatir terjerumus ke dalam riya, orang-orang shalih menutupi amalan kebaikan dengan menampakkan kebalikannya. Ibnu Sirin terbiasa tertawa pada siang hari, namun pada malam harinya dia menangis. Ibrahim bin Adham, ketika sedang sakit, di dekatnya terlihat makanan orang-orang yang sehat.
Dari Bakkar bin Abdullah, bahwasanya dia mendengar Wahab bin Munabbih menuturkan: “Dahulu, ada seorang laki-laki yang termasuk salah satu tokoh yang terbaik pada masanya. Banyak yang datang berkunjung, lantas dia pun memberi mereka nasihat. Suatu hari mereka berkumpul di dekatnya, kemudian dia mengutarakan: ‘Kita pasti keluar dari dunia ini, meninggalkan keluarga dan juga harta benda karena khawatir berbuat semena-mena. Akan tetapi dalam kondisi tadi, aku khawatir kita disusupi perilaku tersebut melebihi sikap semena-mena yang menyusupi orang-orang berada di dalam menggunakan harta yang dianugerahkan kepadanya. Menurutku, salah seorang dari kita pastilah ada yang menginginkan keperluannya selalu terpenuhi. Atau, pada saat ditemui seseorang, dia selalu berharap diberikan ucapan salam dan dihormati karena kedudukan agamanya yang kuat.’
Kata-kata laki-laki tadi tersebar luas, hingga terdengar oleh seorang raja. Sang raja yang kagum terhadap dirinya tidak keberatan melakukan perjalanan jauh selama dapat menyalami dan melihat sosoknya langsung.
Lantas laki-laki ini melihat kedatangan sang raja, dan diberitahukan kepadanya: ‘Paduka raja datang dengan iringan ucapan salam kepadamu.’
‘Ada keperluan apa?” tanyanya.
‘Paduka ingin membicarakan ihwal nasihat yang kamu sampaikan,” jawab orang tersebut.
Laki-laki ini pun kemudian bertanya kepada budaknya: ‘Apakah kamu punya makanan?’
‘Ada; yakni buah yang biasa engkau makan pada waktu berbuka puasa, jawab si budak.
Laki-laki ini memerintah si budak agar menyuguhkan buah tersebut. Maka si budak membawakan buah itu di atas suatu wadah yang terbuat dari anyaman bulu, lalu dia pun meletakkannya di hadapannya. Diambillah buah tadi serta sebagiannya dimakan, padahal laki-laki ini biasa berpuasa pada siang hari dan bahkan tidak pernah tidak berpuasa.
Sang raja kemudian berdiri di hadapan laki-laki ini dan mengucapkan salam untuknya. Salam tersebut dijawabnya secara lirih, sambil mengambil buah tadi untuk disantap.
Sang raja bertanya: ‘Mana orangnya?’
Seseorang menjawab: ‘Dia itu orangnya.’
‘Orang yang sedang makan ini?” tanya sang raja.
‘Ya,’ jawab orang-orang.
Maka sang raja berkomentar: ‘Orang seperti ini tiada memiliki kebaikan, dan langsung pergi dari situ.
Laki-laki tadi pun menyahut: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memalingkan Anda dariku berkat sesuatu yang tidak Anda sukai.”
Disebut dalam riwayat lain dari Wahab bin Munabbih: “Saat Raja datang, si laki-laki menyuguhkan makanannya. Dia mengumpulkan sayuran dalam satu genggaman, lantas semuanya dicelupkan ke dalam minyak, lalu dia pun makan dengan lahap. Melihat perilaku tersebut, sang raja bertanya: ‘Bagaimana kondisimu, wahai fulan?’
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah
‘Sama seperti orang lain,” jawabnya.
Raja memutar hewan tunggangannya serta menyeru: “Orang seperti ini tiada memiliki kebaikan.’
Maka laki-laki ini berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah membuatnya pergi dariku sambil mencelaku.”
Ada manusia yang menerapkan zuhud lahir dan batin. Namun dia berbicara kepada teman-teman maupun istrinya tentang tekadnya meninggalkan dunia ini sehingga mudah baginya bersabar. Sungguh, seandainya dia berniat untuk bersikap zuhud dengan ikhlas, niscaya dia makan bersama keluarganya sebatas melenyapkan wibawa diri, dan tidak perlu membicarakan kezuhudan yang sedang dijalani.
Dawud bin Abu Hindi a berpuasa selama 20 tahun, dan selama itu keluarganya sendiri tidak mengetahuinya. Dia tetap membawa makan siangnya, tetapi ke pasar, lalu dia menyedekahkannya kepada seseorang di tengah jalan. Ya, orang-orang pasar mengira dirinya sudah makan siang di rumah, sedangkan keluarga mengira dirinya sudah makan siang di pasar. Seperti itulah akhlak kaum Salaf. []
Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

