Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu.”
(Beliau mengucapkannya berulang kali).
“Jika salah seorang di antara kalian terpaksa harus memuji, maka ucapkanlah, ‘Saya kira si fulan demikian kondisinya,’ jika ia memang menganggapnya demikian. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah, dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.”
(HR. Sahih Bukhari no. 52)
Hadits yang agung ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga hati manusia dari penyakit yang halus namun berbahaya: ujub dan kesombongan akibat pujian.
BACA JUGA: Imam Hasan Al-Bashri dan Akhlak Terpuji
⚠️ Apa Maksud “Memotong Leher Temanmu”?
Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan Nabi ﷺ ini adalah bentuk peringatan keras.
Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah, maknanya adalah:
Pujian berlebihan bisa “membinasakan” orang yang dipuji, karena ia dapat merasa kagum pada dirinya sendiri, sombong, atau lalai dari memperbaiki amal.
Sedangkan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pujian di hadapan orangnya sangat berbahaya jika:
- Orang tersebut belum kuat imannya
- Ia mudah bangga diri
- Ia belum benar-benar seperti yang dipuji
Seakan-akan, pujian itu “memotong lehernya” karena bisa menjatuhkannya dalam kebinasaan spiritual.
🌿 Islam Tidak Melarang Pujian Secara Mutlak
Perlu dipahami, Islam tidak mengharamkan semua pujian. Nabi ﷺ sendiri pernah memuji para sahabat, seperti memuji Abu Bakar, Umar, dan sahabat lainnya.
Namun ada adabnya:
- Tidak berlebihan
- Tidak memastikan kesucian hati seseorang
- Tidak membuat orang tersebut terjatuh dalam kesombongan
- Disertai dengan kalimat kehati-hatian
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Jika harus memuji, maka katakanlah: Saya kira si fulan demikian, dan Allah lebih mengetahui hakikatnya.”
Ini adalah bentuk tawadhu dan kehati-hatian dalam berbicara.
💔 Bahaya Pujian yang Tidak Terkontrol
Beberapa dampak buruk dari pujian berlebihan:
1️⃣ Menumbuhkan Ujub
Orang yang sering dipuji bisa merasa dirinya hebat dan sempurna.
2️⃣ Menimbulkan Riya
Ia bisa mulai beramal agar terus mendapat pujian manusia.
3️⃣ Membuat Lalai dari Muhasabah
Karena merasa sudah “baik”, ia berhenti memperbaiki diri.
4️⃣ Menzalimi Orang Lain
Pujian berlebihan pada satu orang bisa menyakiti atau merendahkan orang lain.
🕊️ Adab Memuji yang Diajarkan Nabi ﷺ
Berikut cara yang benar jika ingin memuji seseorang:
- Gunakan kalimat: “حسبه كذلك والله حسيبه”
(Saya kira dia demikian, dan Allah yang menghisabnya) - Jangan memastikan isi hati seseorang
- Jangan mengatakan: “Dia pasti ahli surga”
- Hindari pujian di hadapan orang yang mudah bangga diri
- Lebih baik mendoakan daripada memuji
BACA JUGA: 3 Penyakit Hati: Cinta Dunia, Kedudukan, dan Pujian
🌙 Pelajaran untuk Kita
Hadits ini mengajarkan bahwa:
- Lisan adalah amanah
- Hati manusia mudah terbolak-balik
- Pujian bisa menjadi ujian
- Kesucian seseorang hanya Allah yang tahu
Dalam kehidupan hari ini, terutama di era media sosial, pujian sangat mudah tersebar. Seseorang bisa dielu-elukan, dipuja, bahkan dianggap suci dan sempurna. Padahal Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan kita agar tidak berlebihan.
Sikap terbaik seorang mukmin adalah:
- Rendah hati ketika dipuji
- Takut ketika disanjung
- Mengembalikan segala kebaikan kepada Allah
Karena yang mengetahui hakikat hati hanyalah Allah Ta’ala.
Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit ujub dan riya, serta menjadikan kita hamba yang ikhlas dalam setiap amal. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

