Di antara para ahli ibadah yang zuhud, ada yang jika diminta mengenakan pakaian lembut maka dia tidak mau melakukannya, supaya wibawa zuhudnya tidak berkurang. Bahkan dia rela mati lantaran tidak makan dan kelaparan, asalkan hal itu terlihat serta disaksikan orang lain. Dia juga tidak mau tersenyum, apalagi tertawa, hanya demi menjaga reputasi dan wibawanya.
Talbis Iblis mengena sehingga bisa mengelabui mereka dengan membuatnya mengira bahwa tindakan itu berguna untuk memperbaiki hubungan antar sesama manusia.
Padahal sebenarnya, semua itu ditunjukkan karena riya semata, mengingat tindakan itu sudah menjadi aturan baku untuk meraih sebuah kehormatan. Dari situlah Anda melihat orang itu selalu mengangguk-anggukkan kepalanya dan menampakkan tanda-tanda kesedihan. Namun tatkala dia sedang menyendiri, tidak berada di hadapan orang lain, Anda dapat melihatnya begitu buas dan liar.
Perbuatan di atas amat kontras jika dikaitkan dengan para Salaf yang senantiasa menghindari segala sesuatu dan menjauhi tempat yang diduga kuat akan membuat mereka menjadi pusat perhatian orang banyak.
BACA JUGA: Talbis Iblis atas Ahli Ibadah yang Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar
Yusuf bin Asbath menuturkan: “Aku pergi meninggalkan Sabaj dengan cara berjalan kaki dan memanggul bekalku di pundak, hingga tiba di Mishishah”. Sesampainya di sana, keluarlah seseorang dari kedai untuk mengucapkan salam kepadaku, kemudian ada orang lain yang turut mengucapkan salam kepadaku. Setelah tiba di masjid, aku pun meletakkan barang bawaanku-bekal tadi-dan masuk ke dalam masjid untuk shalat dua rakaat. Orang-orang memperhatikan dan menatapku dengan tajam. Lalu muncullah seorang pria di hadapanku. Aku bergumam dalam hati: ‘Seberapa lama hatiku dapat bertahan dari kondisi ini?’ Maka, aku segera mengambil barang bawaanku lalu kembali ke Sabaj dengan cucuran keringat dan kesusahan pribadi. Sungguh, aku tidak sempat mengoreksi hatiku selama dua tahun.”
Ada pula orang zuhud yang berpakaian robek tanpa dijahit, tidak merapikan serban yang dikenakan, dan tidak menyisir jenggot untuk memperlihatkan bahwa dia tidak berhasrat kepada hal-hal duniawi.
Ini termasuk pintu riya, meskipun yang bersangkutan benar dalam berpaling dari ambisi diri. Pertanyaan senada pernah ditanyakan terhadap Dawud ath-Thai: “Tidakkah engkau menyisir jenggotmu?” Dia menjawab: “Aku sibuk dengan aktivitas lain sehingga tak sempat mengurusnya.” Perlu diketahui, Dawud ath-Thai ini telah menempuh jalan yang menyimpang. Sungguh jalan yang ditempuh Rasulullah dan para Sahabat tidaklah seperti itu.
Beliau menyisir rambut, memakai minyak rambut, dan memakai wewangian, padahal beliau adalah manusia yang paling sibuk dengan urusan akhirat.
Abu Bakar dan Umar mengecat rambutnya dengan daun inai dan katm (sejenis tanaman) meskipun keduanya adalah sahabat yang paling takut kepada Allah dan paling zuhud.
Maka siapa pun yang mengklaim suatu tingkatan yang melebihi sunnah dan amalan orang-orang besar umat ini, dia tidak perlu digubris atau dipedulikan.
Di antara orang zuhud ada yang terus-menerus diam, mengucilkan diri dari keluarga, sehingga secara tidak langsung, atau tanpa disadari, dia sudah menyakiti mereka dengan akhlak buruk dan sikap tertutup ini. Dia melupakan sabda Nabi Muhammad:
(( إِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا. ))
“Sungguh keluargamu punya hak yang wajib atas dirimu.””
Rasulullah kadang bercanda dan bermain-main dengan anak-anak, berbincang bersama istri-istri beliau, berlomba lari dengan Aisyah”, dan mempraktikkan berbagai akhlak lembut nan mulia selainnya.
Namun si zuhud palsu membuat istrinya seperti janda, membuat anaknya seperti yatim, karena dia selalu menjauh dari keluarga serta memperlihatkan akhlak yang tidak baik kepada mereka. Semua itu terjadi dikarenakan ia mengganggap bergaul bersama keluarga dapat menghalangi akhirat. Dia tidak sadar, karena ilmunya yang minim, bahwa sikap baik kepada keluarga membantu diri menggapai ukhrawi.
Disebutkan dalam kitab ash-Shahihain; Bahwa Nabi bersabda kepada Jabir:
(( هَلَّا تَزَوَجْتَ بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ ))
“Mengapa kamu tidak menikahi gadis perawan, agar kamu bermain dengannya dan dia dapat bercanda denganmu?”
Terkadang sikap tidak acuh pun mendominasi si zuhud palsu ini, sehingga ia tidak menggauli istrinya. Akibatnya, ia pun mengabaikan kewanban hanya karena melakukan amalan nafilah (sunnah). Sungguh, sikap demikian tidak baik.
Ada orang zuhud yang kagum ketika mengamati amal perbuatannya sendiri. Jika dikatakan kepadanya: “Kamu termasuk pasak bumi.” maka dia menganggap kata-kata tersebut benar adanya.
Di antara mereka ada juga yang menantikan munculnya karamah di dirinya, sehingga selalu terbayang di benaknya ketika mendekati air, bahwa dia dapat berjalan di atasnya. Namun ketika dia mengalami sesuatu kesulitan lalu berdoa dan doanya tidak dikabulkan, maka dalam hati dia marah.
Dia sama dengan seorang buruh yang tengah meminta upah atas pekerjaannya. Jika orang ini dikaruniai pemahaman yang mendalam, niscaya dia menyadari bahwa dirinya hanya seorang hamba sahaya, yang tidak berhak mengungkit-ungkit amalannya. Seandainya ia melihat taufik yang dikaruniakan atas dirinya hingga bisa melakukan suatu amal shalih, tentu dia sadar akan keharusan bersyukur atasnya, lalu khawatir dirinya ceroboh dalam melaksanakan amalan tersebut.
Jadi, seharusnya rasa takut itu-bahwa amalan tersebut dikerjakan dengan kecerobohan-membuat dirinya sibuk hingga dia tidak lagi memandang atau menghitung-hitungnya.
Hal tersebut sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Rabi’ah: “Aku memohon ampunan kepada Allah atas minimnya kejujuranku dalam setiap ucapan.” Dikatakan padanya: “Pernahkah kamu berbuat suatu amalan dan kamu tahu amalan itu diterima?” Rabi’ah menjawab: “Andaikan ada satu amalan saja. Aku justru khawatir amalan tersebut akan tertolak (karena kelalaian atau kecerobohanku).”
Salah satu talbis Iblis yang merasuk ke dalam diri orang-orang zuhud akibat minimnya ilmu mereka adalah mereka beramal berdasarkan kenyataan yang dihadapi, tanpa memperhatikan penjelasan seorang faqih (fuqaha).
Ibnu Aqil berkata: “Abu Ishaq al-Khazzaz adalah orang muslim yang shalih. Dia orang pertama yang mengajariku Kitab Allah. Dia punya kebiasam diam, tidak berbicara, di bulan Ramadhan. Dan, dia berbicara dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Saat memberi izin, dia berkata-yakni mengutip ayat al-Qur-an berikut:
ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ …
“Serbulah mereka melalui pintu gerbung (kota) itu….” (QS. Al-Maidah (5) 23)
Saat sore hari puasa, dia berkata kepada anaknya:
بَعْلِهَا وَقَابَهَا ….
“Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya…” (QS. Al-Baqarah (2): 61)
Maksudnya, memerintahkan si anak supaya membelikan sayur-sayuran.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah yang Zuhud
Aku mengemukakan kepadanya: ‘Yang kamu yakini ibadah ini sebenarnya merupakan kemaksiatan. Maka dia terlihat sulit menerima kata-kataku. Aku pun menegaskan: ‘Al-Qur-an itu diturunkan untuk menerangkan hukum syar’i. Janganlah gunakan ia untuk berbagai keperluan duniawi. Apa yang kamu lakukan ini tidak ubahnya seperti menyelipkan daun bidara dan lumut ke lembaran-lembaran mushaf, atau menjadikan mushaf sebagai bantal. Dia pun lantas memutuskan hubungan denganku tanpa mau mendengarkan bujjah (dalil) yang aku sampaikan.
Dahulu, para kaum Salaf mengingkari seorang zuhud yang menyampaikan fatwa meskipun mempunyai banyak ilmu, karena dia tidak memenuhi persyaratan-persyaratan untuk memberikan fatwa.
Lantas bagaimana kiranya jika mereka melihat kerancuan orang zuhud palsu pada saat ini dalam memberikan fatwa terkait berbagai realitas yang terjadi.
Dari Ismail bin Syabah, dia menuturkan: “Suatu ketika aku bertamu ke kediaman Ahmad bin Hanbal-saat itu, Ahmad bin Harbi baru tiba dari Makkah. Lantas Ahmad bin Hanbal bertanya padaku: “Siapakah orang Khurasan yang baru datang itu? Aku menjawab: ‘Dia seorang yang dikenal zuhud dalam hal ini dan itu, juga wara dalam hal ini dan itu. Ahmad bin Hanbal menegaskan: ‘Orang yang seperti itu tidak patut memberikan fatwa. []
Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

