Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Di sanalah ia belajar mencintai, menghormati, dan memahami kehidupan. Ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran kedua orang tua secara utuh—baik karena wafat, perceraian, maupun kesibukan yang berlebihan—maka kondisi ini kerap melahirkan luka batin yang dalam.
Samiyah Humam, pakar psikologi anak, menyebutkan bahwa anak-anak broken home memiliki karakter tertentu yang perlu dipahami dengan penuh empati dan tanggung jawab.
1- Cemburu
Salah satu karakter yang sering muncul adalah rasa cemburu terhadap anak-anak lain yang tumbuh bahagia bersama kedua orang tuanya.
BACA JUGA: Mengajarkan Nilai Baik dan Buruk pada Anak
Rasa cemburu ini bukan sekadar perasaan sesaat, namun dapat berkembang menjadi dengki yang berbahaya jika tidak diarahkan. Islam sejak awal telah memperingatkan bahaya dengki. Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata, “Dengki memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” Jika tidak ditangani dengan bijak, luka batin anak dapat berubah menjadi penyakit hati yang merusak masa depannya.
2- Tertutup dan Sulit Percaya pada Orang Lain
Karakter berikutnya adalah tertutup dan sulit percaya kepada orang lain, terutama pada anak yang tumbuh di lingkungan ayah atau ibu tiri. Ketidaknyamanan emosional membuat mereka lebih memilih diam, memendam masalah, dan menyembunyikan perasaan.
Padahal, sikap tertutup ini seringkali bukan tanda kedewasaan, melainkan jeritan batin yang tidak terdengar. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata, “Anak kecil diajari dengan kasih sayang, dan orang dewasa diperbaiki dengan nasihat.” Maka anak-anak broken home sangat membutuhkan kasih sayang sebelum nasihat.
BACA JUGA: Mengajarkan Shalat kepada Anak Kecil dan Memerintahkannya
3- Tidak Memiliki Pegangan Hidup
Karakter yang paling mengkhawatirkan adalah tidak memiliki pegangan hidup. Anak menjadi bingung menentukan arah, nilai, dan prinsip. Terlebih ketika perceraian orang tua disertai konflik berkepanjangan, anak sering dijadikan pelampiasan emosi. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit anak yang akhirnya terjerumus pada perilaku durhaka, baik kepada orang tua maupun kepada Allah. Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata, “Rusaknya anak adalah akibat kelalaian orang tuanya.”
Islam memandang anak sebagai amanah besar. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Maka meskipun kondisi keluarga tidak ideal, orang tua tetap wajib menjaga akidah, akhlak, dan kesehatan jiwa anak. Jangan sampai luka masa kecil menjadi sebab kehancuran masa depan. Na’udzubillah. []
Sumber: Rumahku Madrasah Pertamaku / Penulis: Dr. Khalid Ahmad Syantut / Penerbit: Maskana Media / Cetakan Kedua, Januai 2009
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

