Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat ini adalah keluarga yang saling terhubung, masyarakat yang saling menopang, dan hubungan kekerabatan yang hangat. Islam tidak membangun kehidupan di atas egoisme dan individualisme, tetapi di atas silaturahmi, kasih sayang, tolong-menolong, dan tanggung jawab bersama.
Karena itulah, keterikatan keluarga dan kokohnya hubungan sosial merupakan salah satu ciri agung syariat Islam. Masyarakat muslim yang sehat seharusnya memiliki jalinan yang kuat: orang tua dihormati, anak-anak dibimbing, kerabat disambung, tetangga diperhatikan, dan sesama muslim saling menguatkan.
Namun jika kita jujur melihat keadaan hari ini, kita akan menyadari bahwa retaknya keluarga bukan lagi sekadar gejala kecil, tetapi telah menjadi fenomena sosial yang mengkhawatirkan.
BACA JUGA: Lelaki, Carilah Nafkah untuk Keluargamu
Di tengah perubahan zaman, tekanan gaya hidup modern, derasnya arus globalisasi, dan semakin dominannya cara pandang materialistis, banyak keluarga mulai kehilangan ruhnya. Rumah masih ada, anggota keluarga masih lengkap, tetapi jiwa kebersamaan, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab perlahan memudar.
Inilah yang dalam banyak kasus melahirkan sesuatu yang sangat berbahaya:
disintegrasi keluarga atau retaknya ikatan keluarga.
Ketika Rumah Masih Berdiri, Tapi Hubungannya Sudah Runtuh
Salah satu tragedi terbesar di zaman ini adalah ketika sebuah keluarga masih terlihat utuh dari luar, tetapi sesungguhnya sudah rapuh dari dalam.
Ayah ada, ibu ada, anak-anak ada, rumah ada, kendaraan ada, fasilitas ada. Tetapi:
komunikasi minim,
kasih sayang kering,
penghormatan hilang,
perhatian menipis,
dan kehangatan nyaris tak terasa.
Retaknya keluarga tidak selalu dimulai dengan peristiwa besar. Ia sering bermula dari hal-hal yang dianggap sepele, seperti:
sibuk sendiri-sendiri,
tidak saling mendengarkan,
mudah tersinggung,
tidak peduli pada perasaan anggota keluarga,
lebih akrab dengan gawai daripada dengan orang serumah.
Lalu semua itu menumpuk, menjadi jarak, menjadi dingin, lalu berubah menjadi keterasingan di dalam rumah sendiri.
Gejala Retaknya Keluarga yang Makin Nyata
Jika diperhatikan, banyak masyarakat muslim hari ini sedang menghadapi berbagai gejala sosial yang saling berkaitan, di antaranya:
durhaka kepada orang tua,
orang tua yang terlalu longgar atau lalai mendidik,
berkurangnya fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan akhlak,
kenakalan remaja yang meningkat,
angka perceraian yang semakin tinggi,
konflik rumah tangga yang makin kompleks,
kekerasan dalam keluarga,
gangguan mental dan tekanan emosional dalam rumah,
hubungan kerabat yang renggang,
budaya saling menjauh antar saudara dan keluarga besar.
Di sisi lain, nilai-nilai yang dulu menguatkan keluarga seperti:
pengorbanan,
sabar,
memaafkan,
menahan diri,
menghormati yang tua,
menyayangi yang muda,
perlahan digantikan oleh nilai-nilai baru yang jauh lebih individualistik, seperti:
“yang penting aku nyaman,”
“yang penting hidupku,”
“yang penting aku tidak dirugikan,”
“aku tidak mau repot dengan keluarga.”
Jika pola pikir seperti ini terus tumbuh, maka yang terancam bukan hanya satu dua rumah tangga, tetapi struktur sosial umat secara keseluruhan.
Modernitas Tidak Selalu Membawa Kedewasaan
Tidak sedikit masyarakat muslim yang hari ini sedang mengalami masa transisi besar. Teknologi berkembang, gaya hidup berubah, cara berpikir bergeser, dan ukuran kebahagiaan makin sering ditentukan oleh materi, status, dan citra.
Masalahnya, ketika modernitas tidak dibarengi dengan iman, adab, dan ilmu, maka yang lahir bukan kemajuan yang sehat, tetapi keterasingan yang dibungkus kemewahan.
Kita melihat rumah-rumah yang lebih besar, tetapi hati yang lebih sempit.
Kita melihat fasilitas yang lebih lengkap, tetapi percakapan yang lebih miskin.
Kita melihat hubungan yang makin “terhubung” secara digital, tetapi makin jauh secara emosional.
Akibatnya, sebagian generasi tumbuh dengan pola sosial yang asing dari nilai Islam, bahkan asing dari fitrah keluarga itu sendiri. Mereka hidup dalam pola yang diwariskan budaya modern: cepat bosan, mudah marah, minim tanggung jawab, dan sulit berkorban.
BACA JUGA: Doa Nabi untuk Keluarganya
Barat Sudah Lama Mengalami Ini, Mengapa Kita Ikut Menirunya?
Kalau kita menengok masyarakat Barat, kita akan menemukan satu kenyataan pahit:
retaknya keluarga adalah salah satu luka sosial terbesar mereka.
Individualisme telah membuat banyak orang hidup sangat sendiri. Bahkan ada kasus-kasus memilukan ketika seseorang yang lanjut usia meninggal di rumahnya, lalu tidak ada yang menyadari kematiannya sampai berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Ini bukan sekadar kisah sedih. Ini adalah bukti bahwa ketika materi mengalahkan nilai, maka rumah bisa berubah menjadi tempat tinggal yang dingin, bukan tempat pulang yang menenangkan.
Yang lebih menyedihkan, sebagian masyarakat muslim justru mulai meniru pola hidup yang seperti ini, padahal mereka melihat sendiri ke mana arah kehancuran itu. []
Sumber:
QS. Muhammad: 22–23
QS. Ar-Ra’d: 21, 25
HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang silaturahmi
Kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله
Diadaptasi dari materi khutbah tentang fenomena retaknya keluarga (التفكك الأسري)
AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

