Home IbadahBolehkah Lakukan Shalat Dhuha dengan Niat untuk Dapatkan Rezeki?

Bolehkah Lakukan Shalat Dhuha dengan Niat untuk Dapatkan Rezeki?

Shalat Dhuha yang dilakukan dengan niat mengharap wajah Allah dan pahala akhirat tidak akan pernah sia-sia, sekalipun Allah memberinya kelapangan rezeki di dunia.

by Abu Umar
0 comments 275 views

Sebagian orang bertanya: “Apakah shalat Dhuha yang diniatkan untuk memperoleh rezeki akan sia-sia atau tidak diterima?”

Pertanyaan ini sering muncul di tengah masyarakat, terutama karena shalat Dhuha memang dikenal sebagai salah satu amalan yang memiliki keutamaan terkait kelapangan rezeki. Namun, penting bagi kita untuk memahami letak niat dan tujuan ibadah di hadapan Allah Ta’ala.

Ibadah untuk Dunia: Sebuah Kekeliruan Niat

Setiap amal yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan duniawi tanpa mengharap balasan akhirat termasuk dalam kategori syirik kecil (riya’ atau syirik niat). Hal ini karena ibadah seharusnya dilakukan ikhlas karena Allah, bukan demi keuntungan dunia.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Âlu asy-Syaikh rahimahullah menjelaskan dalam Fathul Majid (hlm. 350):

“Amalan yang diniatkan untuk kepentingan duniawi adalah bentuk syirik, karena hal itu bertentangan dengan tauhid yang wajib dan dapat menggugurkan amalan.”

Maka, jika seseorang shalat Dhuha hanya karena ingin usahanya lancar, gajinya bertambah, atau agar disayang atasan, namun tidak terlintas sedikit pun niat untuk mengharap ridha Allah dan pahala akhirat, ibadahnya bisa kehilangan nilai di sisi Allah.

BACA JUGA:  Shalat Dhuha Rasulullah

Ikhlas: Pondasi Setiap Amal

Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya ikhlas dalam niat.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Ibadah seperti shalat Dhuha, sedekah, atau dzikir memang bisa mendatangkan keberkahan dan keluasan rezeki — namun itu hanyalah buah dari keikhlasan, bukan tujuan utama. Allah Ta’ala Maha Pemurah, Dia memberi dunia kepada siapa pun yang Dia kehendaki, namun surga hanya diberikan kepada hamba yang ikhlas beribadah kepada-Nya.

Boleh Mengharap Keutamaan Dunia, Tapi Jangan Menjadikannya Tujuan

Apabila suatu amal memiliki keutamaan duniawi yang disebutkan dalam syariat — seperti shalat Dhuha mendatangkan rezeki, atau silaturahmi memperpanjang umur — maka tidak mengapa seseorang berharap kebaikan dunia tersebut selama tujuannya tetap mengharap ridha Allah.
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah:

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka dunia akan menjauh darinya. Namun barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.” (Al-Fawaid, hlm. 63)

Oleh karena itu, shalat Dhuha seharusnya dilakukan dengan niat: “Ya Allah, aku beribadah kepada-Mu agar Engkau ridha padaku, dan jika Engkau menghendaki, lapangkanlah rezekiku sebagai karunia-Mu.”

Inilah niat yang benar — memurnikan tujuan kepada Allah, namun tetap menyadari kemurahan-Nya dalam memberi kebaikan dunia.

Doa yang Seimbang: Dunia dan Akhirat

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٍ

“Di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tiadalah baginya bahagian di akhirat.”

وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.’”
(QS. Al-Baqarah: 200–201)

Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam — beramal dengan niat akhirat, namun tetap berharap keberkahan dunia sebagai anugerah dari-Nya.

BACA JUGA: Shalat Dhuha Nabi, Seperti Apa dan Kapan?

Penutup

Shalat Dhuha yang dilakukan dengan niat mengharap wajah Allah dan pahala akhirat tidak akan pernah sia-sia, sekalipun Allah memberinya kelapangan rezeki di dunia. Justru, semakin ikhlas seseorang, semakin besar limpahan karunia yang Allah berikan — baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana perkataan Sufyan ats-Tsauri rahimahullah:

“Tidaklah aku memperbaiki niatku selama empat puluh tahun, melainkan ia selalu kembali berubah.”

Itulah jihad terbesar dalam beramal — meluruskan niat setiap kali hati condong kepada dunia.

Wallahu a‘lam bish-shawab. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119