Orang yang hidup di bawah bimbingan Allah, jiwanya akan jernih pada saat tenang dan damai. Ia tidak dianggap sebagai pahlawan kecuali tetap kukuh dan tegar pada saat penuh bahaya. Di situlah terjadi penentuan.
Allah akan selalu memberikan cobaan kepada manusia dengan kekurangan dan kelebihan menurut kehendak-Nya. Saat itulah akan terlihat dengan jelas mana yang asli dan mana yang palsu.
Orang-orang yang hanya tegar di saat nikmat melimpah, sebenarnya tabah karena nikmat yang sedang dirasakan. Namun, saat angin cobaan bertiup kencang, ketegarannya akan sirna.
Hasan Al-Bashri berkata:
“Manusia sama saja tatkala sama-sama dilimpahi nikmat. Namun, tatkala cobaan menimpa, saat itulah akan terlihat perbedaannya.”
BACA JUGA: Keinginan dalam Diri Manusia
Orang yang cerdas akan selalu menabung dan menyimpan untuk masa depan. Ia juga akan menyiapkan bekal dan menambahnya terus agar mampu menghadapi berbagai cobaan.
Bala itu pasti menimpa. Kalaupun tidak, bisa saja ia turun di saat-saat menjelang kematian. Jika seseorang tidak siap dengan bekal iman dan kemantapan agama—dan kita berlindung kepada Allah dari hal itu—niscaya ia akan terempas pada kekafiran.
Saya mendengar dari beberapa orang yang menurut saya baik dan sangat terhormat. Namun, saat menghadapi kematian, mereka malah mengatakan:
“Tuhan telah menzalimi diriku!”
Setelah mendengar perkataan itu, saya selalu menyiapkan berbagai bekal untuk menghadapi masa-masa kritis.
Saya tidak tahu apa jadinya jika tidak berbekal sejak sekarang, sementara setan selalu mengatakan kepada para pengikutnya di saat itu:
“Engkau wajib menghancurkan orang itu sekarang! Jika tidak, engkau tidak akan mampu melakukannya lain kali.”
Hati siapakah yang akan kukuh saat napas telah di ujung hayat?
Tatkala tahu bahwa saat perpisahan dengan orang-orang tercinta telah ada di depan mata?
Hati siapakah yang akan kukuh saat sadar sudah tidak tahu ke mana tempat kembalinya yang abadi?
Yang ada di depan mata saat itu hanyalah siksaan dan kuburan.
Kita memohon kepada Allah agar dikaruniai keyakinan pada saat kematian. Semoga kita tetap rida dan sabar terhadap qadha Allah.
Semoga Sang Maharaja melimpahkan segala nikmat sebagaimana hal itu dilimpahkan kepada hamba dan kekasih-Nya.
Kita menganggap bahwa perjumpaan dengan-Nya lebih kita sukai daripada keberadaan di dunia ini.
BACA JUGA: Kelalaian Orang-orang yang Beribadah
Kita memohon kepada-Nya agar penyerahan diri kepada-Nya adalah tindakan yang memang sangat kita cintai.
Kita berlindung kepada-Nya agar tidak terperosok ke dalam tipuan diri yang menilai bahwa apa yang kita lakukan telah mencapai derajat sempurna.
Jika terjadi sesuatu yang tidak kita senangi, kita mestinya tidak menyalahkan takdir. Yang demikian itu adalah kebodohan yang nyata.
Semoga Allah melindungi kita.
Kita memohon kepada Allah agar dikaruniai keyakinan pada saat kematian. Semoga kita tetap rida dan sabar terhadap qadha Allah. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

