Home IbadahBerdoa Tidak Harus Keras, Justru Lirih Lebih Dekat dengan Kekhusyukan

Berdoa Tidak Harus Keras, Justru Lirih Lebih Dekat dengan Kekhusyukan

Ketika suara direndahkan, hati lebih mudah berkonsentrasi. Seorang hamba lebih merasakan bahwa dirinya sedang berbicara kepada Rabb yang Mahakuasa.

by Abu Umar
0 comments 6 views

Doa adalah ibadah yang menunjukkan ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika berdoa, seorang muslim tidak hanya meminta sesuatu. Ia juga sedang menunjukkan kelemahan, kebutuhan, dan pengharapannya kepada Rabb semesta alam.

Karena itu, salah satu adab dalam berdoa adalah merendahkan suara dan tidak berlebihan dalam mengeraskannya.

Allah Memerintahkan Berdoa dengan Lirih

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً

“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan penuh ketundukan dan suara yang lirih.” (QS. Al-A’raf: 55)

Allah juga berfirman tentang Nabi Zakariya ‘alaihissalam:

إذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيّاً

“Yaitu ketika ia menyeru Rabbnya dengan suara yang lirih.” (QS. Maryam: 3)

Dua ayat ini menunjukkan bahwa berdoa dengan suara yang rendah memiliki keutamaan dan merupakan bagian dari adab ketika bermunajat kepada Allah.

BACA JUGA:  Doa Memohon Kenikmatan Memandang Wajah Allah

1. Menunjukkan Kesempurnaan Iman

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan salah satu faedah berdoa dengan suara lirih:

أنّهُ أعْظَمُ إيمَاناً؛ لأنَّ صَاحِبَهُ يَعلَمُ أنّ اللَّهَ يَسْمَعُ الدُّعاءَ الخَفِيَّ

“Hal itu lebih menunjukkan keimanan, karena orang yang melakukannya mengetahui bahwa Allah mendengar doa yang lirih.”

Seorang hamba tidak perlu berteriak agar Allah mendengarnya.

Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati. Allah mendengar suara yang sangat pelan. Bahkan, Allah mengetahui apa yang belum mampu kita ungkapkan dengan kata-kata.

Karena itu, doa yang lirih menunjukkan keyakinan seorang hamba terhadap kesempurnaan pendengaran Allah.

banner

2. Bentuk Adab kepada Allah

Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga menjelaskan bahwa merendahkan suara merupakan bentuk adab dan pengagungan kepada Allah.

Beliau berkata:

أنّهُ أعظَمُ في الأدَبِ والتّعظيمِ

“Hal itu lebih besar dalam adab dan pengagungan.”

Ketika seorang hamba berdiri di hadapan Rabbnya, ia sepatutnya menunjukkan ketundukan.

Tidak perlu berteriak.

Tidak perlu mengangkat suara dengan berlebihan.

Ia cukup memohon dengan hati yang rendah dan penuh harap.

3. Lebih Membantu Khusyuk

Faedah berikutnya adalah doa dengan suara lirih lebih mendorong kepada tadharru’ dan khusyuk.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

أنّهُ أبْلَغُ في التّضرُّعِ والخُشُوعِ الَّذِي هُو رُوحُ الدُّعاءِ ولُبُّهُ ومَقصُودُهُ

“Hal itu lebih mendalam dalam ketundukan dan kekhusyukan, yang merupakan ruh, inti, dan tujuan doa.”

Inilah yang sering terlupakan.

Doa bukan sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan. Doa adalah penghambaan.

Ketika suara direndahkan, hati lebih mudah berkonsentrasi. Seorang hamba lebih merasakan bahwa dirinya sedang berbicara kepada Rabb yang Mahakuasa.

Tidak Berarti Semua Doa Harus Selalu Pelan

Melirihkan suara bukan berarti seseorang tidak boleh mengeraskan suara dalam keadaan yang memang disyariatkan.

Ada kondisi tertentu ketika doa dilakukan dengan suara yang terdengar. Namun, yang perlu dihindari adalah berlebih-lebihan dalam meninggikan suara ketika berdoa.

Allah berfirman:

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

“Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya.” (QS. Al-Isra’: 110)

BACA JUGA:  Doa Memohon Surga, Berlindung dari Neraka, dan Memohon Takdir yang Baik

Maka, mari memperbaiki cara kita berdoa.

Tidak perlu berteriak agar Allah mendengar.

Tidak perlu mengeraskan suara agar doa terasa lebih kuat.

Berdoalah dengan hati yang tunduk.

Berdoalah dengan penuh keyakinan.

Berdoalah dengan suara yang lembut.

Sebab, Allah mendengar doa yang lirih, mengetahui isi hati yang tersembunyi, dan mengetahui kebutuhan kita bahkan sebelum kita mengucapkannya. []

Sumber
Al-Qur’an, QS. Al-A’raf: 55.
Al-Qur’an, QS. Maryam: 3.
Al-Qur’an, QS. Al-Isra’: 110.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Majmu’ al-Fatawa, Jam’ul ‘Allamah Ibnu Qasim, 15/15–16.
Dinukil dari Channel Telegram resmi Asy-Syaikh Al-‘Allamah Prof. Dr. Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhari hafizhahullah.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119