Setiap muslim tentu menginginkan kemuliaan di sisi Allah. Kita berharap menjadi hamba yang dicintai, dijaga, dan diberi taufik untuk senantiasa berada di jalan ketaatan. Namun, ada sebuah kenyataan yang perlu direnungkan: tidak semua orang yang mengaku beriman mendapatkan kemuliaan tersebut. Salah satu penyebab terbesar hilangnya kemuliaan di sisi Allah adalah dosa dan maksiat yang terus-menerus dilakukan tanpa penyesalan.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
المعصية سبب لهوان العبد على ربه، وسقوطه من عينه.
قال الحسن البصري: هانوا عليه فعصوه، ولو عزوا عليه لعصمهم
“Maksiat adalah sebab hinanya seorang hamba di hadapan Rabbnya, dan jatuhnya ia dari pandangan-Nya.
Hasan Al-Bashri berkata:
‘Mereka menjadi hina di hadapan-Nya, maka mereka pun bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka memiliki kemuliaan di sisi-Nya, niscaya Dia akan menjaga (melindungi) mereka dari maksiat.’”
(Ad-Da’u wad Dawa’, hlm. 142)
BACA JUGA: Hati yang Selamat
Perkataan yang dalam ini mengajarkan bahwa maksiat bukan sekadar pelanggaran terhadap perintah Allah. Maksiat juga merupakan tanda bahwa seorang hamba sedang kehilangan penjagaan dan pertolongan dari Rabbnya. Ketika seseorang terus-menerus terjerumus dalam dosa, merasa nyaman dengannya, bahkan tidak lagi merasa bersalah, maka itu adalah keadaan yang patut ditakuti.
Sering kali manusia mengira bahwa kemuliaan diukur dengan harta, jabatan, popularitas, atau pujian manusia. Padahal ukuran kemuliaan yang sesungguhnya adalah bagaimana kedudukan seseorang di sisi Allah. Bisa jadi seseorang dipandang terhormat oleh manusia, tetapi di sisi Allah ia tidak memiliki nilai karena hidupnya dipenuhi kemaksiatan dan kelalaian.
Sebaliknya, ada orang yang tidak dikenal manusia, hidup sederhana, dan jauh dari sorotan, namun ia begitu mulia di sisi Allah karena ketakwaannya. Allah menjaganya dari dosa-dosa besar, menggerakkan hatinya untuk beribadah, dan memudahkannya untuk bertaubat ketika tergelincir.
Ucapan Hasan Al-Bashri rahimahullah juga mengandung pelajaran penting. Beliau tidak mengatakan bahwa manusia bermaksiat lalu menjadi hina. Namun beliau mengatakan bahwa ketika mereka menjadi hina di sisi Allah, mereka pun dibiarkan terjatuh ke dalam maksiat. Ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk taat adalah nikmat yang sangat besar. Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan membimbingnya menuju amal saleh dan menjauhkannya dari jalan dosa.
BACA JUGA: Kemuliaan Ahli Ilmu di Sisi Allah
Karena itu, ketika kita melihat diri kita mudah melakukan maksiat, berat menjalankan ibadah, malas membaca Al-Qur’an, atau tidak lagi merasakan penyesalan setelah berbuat dosa, hendaknya kita segera mengoreksi diri. Jangan-jangan hati kita sedang kehilangan kemuliaannya di sisi Allah.
Namun pintu harapan selalu terbuka. Selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, Allah masih menerima taubat hamba-Nya. Sebesar apa pun dosa seseorang, rahmat Allah jauh lebih besar.
Maka jangan biarkan maksiat menjadi kebiasaan. Segeralah kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus, memperbanyak istighfar, memperbaiki ibadah, dan memohon agar Allah menjaga hati kita. Sebab kemuliaan sejati bukanlah ketika manusia memuji kita, melainkan ketika Allah mencintai dan menjaga kita dari perbuatan yang mengundang murka-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

