Tidak ada kehidupan yang lebih nikmat di dunia ataupun di akhirat selain kehidupan makrifat. Seorang ahli makrifat akan damai bersama-Nya dalam keheningan dan kesendirian. Jika nikmat datang, ia tahu siapa yang memberinya. Jika kepahitan hidup menimpa, ia justru merasakannya begitu manis dalam dirinya, karena tahu kebesaran Pengujinya.
Jika meminta, ia menyerahkan segalanya kepada Sang Penguasa. Ia sadar bahwa semua yang diminta akan berjalan sesuai dengan takdir. Yakin bahwa apa pun yang terjadi pasti membawa maslahat baginya. Yakin bahwa Dia-lah Yang Mahatahu segala urusan hamba-Nya.
Seorang yang arif selalu terpusat perhatiannya pada kebaikan-kebaikan Allah. Selalu merasa dekat dengan-Nya. Ia melihat-Nya dengan pandangan yang yakin. Yang demikian itu telah memberikan dampak yang positif pada gerak dan langkahnya.
BACA JUGA: Jangan Menganggap Remeh Dosa
Seorang arif yang ditimpa suatu cobaan tak pernah mengarahkan perhatian pada sebab cobaan itu datang. Ia justru merenungi apa yang dikehendaki Sang Pemberi cobaan. Jadilah hidupnya dipenuhi dengan ketenangan.
Jika diam, ia berpikir tentang bagaimana cara menunaikan hak-hak Allah. Jika bicara, selalu diniatkan untuk menggapai ridha-Nya. Hatinya tak selalu tertumpu pada istri ataupun anak. Cintanya tak pernah terbelah dengan selain Sang Khaliq.
Dia bergaul dengan manusia lahir dan batin. Dunia begitu kecil dan ia tak pernah merasa susah untuk menghadapi perjalanan abadi. Dia tidak merasa takut dalam kuburnya yang sempit, tidak pula gentar saat di Padang Mahsyar.
Adapun orang yang tak sampai pada tingkatan arif, maka hatinya akan selalu gundah, gelisah, dan merana saat ditimpa musibah. Ia sungguh tak mengerti keagungan Sang Penguji. Merasa sedih saat kehilangan nikmat karena tak mengerti maslahatnya.
BACA JUGA: Bertobatlah, Wahai Jiwa
Ia hanya damai dengan makhluk sesamanya, karena tak mendapatkan rasa damai bersama Tuhannya. Takut menghadapi perjalanan abadi, karena sama sekali belum memiliki bekal yang memadai dan tak tahu jelas di mana jalan-jalan yang harus dilalui.
Betapa banyak orang alim dan zahid yang tak dikaruniai makrifat, kecuali seperti apa yang dikaruniakan kepada orang-orang awam dan penganggur.
Namun, tak sedikit pula orang awam yang dikaruniai makrifat, sesuatu yang tidak dikaruniakan kepada orang zahid dan alim, padahal mereka telah berusaha sekuat mungkin mendapatkannya.
Makrifat adalah karunia yang Allah limpahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

