Home Kisah Nabi-nabiKisah Nabi Adam dan Penetapan Umur Keturunannya

Kisah Nabi Adam dan Penetapan Umur Keturunannya

Kemudian Adam mengingkari dan anak keturunannya pun mengingkari. Ia lupa dan anak keturunannya pun lupa."

by Abu Umar
0 comments 3 views

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Saat Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya. Lalu dari punggungnya berjatuhan setiap jiwa yang diciptakan Allah dari keturunan Adam hingga hari kiamat. Dia menjadikan kilatan cahaya di antara kedua mata setiap orang dari mereka. Kemudian mereka dihadapkan kepada Adam.

Adam bertanya, ‘Wahai Rabb, siapa mereka?’

Allah menjawab, ‘Mereka adalah keturunanmu.’

Adam melihat seseorang dari mereka. Kilatan cahaya di antara kedua matanya membuatnya kagum. Adam bertanya, ‘Wahai Rabb, siapa dia?’

Allah menjawab, ‘Ia adalah orang akhir umat dari keturunanmu. Namanya Dawud.’

BACA JUGA:  Doa Nabi Adam ‘alaihissalam: Doa Memohon Ampunan dan Rahmat

Adam bertanya, ‘Wahai Rabb, berapa lama Engkau menetapkan umurnya?’

Allah menjawab, ‘Enam puluh tahun.’

Adam bertanya, ‘Wahai Rabb, tambahkanlah empat puluh tahun dari umurku untuknya.’

Saat usia Adam telah ditentukan, Malaikat Maut mendatanginya. Lalu ia berkata, ‘Bukankah usiaku masih tersisa empat puluh tahun?’

Malaikat Maut berkata, ‘Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu, Dawud?’

Adam membantah, lalu keturunannya juga membantah. Adam dibuat lupa, dan keturunannya juga dibuat lupa. Adam salah, dan keturunannya juga salah.”

Abu ‘Isa berkata:

“Hadis ini hasan sahih.”

Hadis ini juga diriwayatkan melalui sanad lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ.

At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tatkala Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh kepadanya, ia bersin. Lalu ia mengucapkan, ‘Alhamdulillah.’ Ia memuji Allah dengan seizin-Nya. Kemudian Rabbnya mengucapkan, ‘Yarhamukallah.’

‘Wahai Adam, pergilah kepada para malaikat itu, kepada kelompok mereka yang sedang duduk-duduk, dan ucapkanlah: As-Salamu ‘alaikum.’

Mereka pun menjawab, ‘Wa ‘alaikas salam wa rahmatullah.’

Kemudian Adam kembali kepada Rabbnya. Allah berfirman, ‘Ini adalah ucapan salammu dan ucapan salam anak-anakmu di antara mereka.’

Kemudian Allah berfirman kepadanya, sementara kedua tangan-Nya tergenggam, ‘Pilihlah di antara keduanya yang engkau kehendaki.’

Adam berkata, ‘Saya memilih yang kanan, wahai Rabbku.’ Dan kedua tangan Rabbku adalah kanan yang mendapatkan berkah.”

Kemudian Allah membuka tangan-Nya. Ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak-anak keturunannya.

Adam berkata:

“Wahai Rabbku, siapakah mereka?”

Allah berfirman:

“Mereka adalah anak keturunanmu.”

Ternyata setiap orang telah tertulis umurnya di antara kedua matanya. Di antara mereka terdapat orang yang paling bersinar.

Adam bertanya:

“Wahai Rabbku, siapakah orang ini?”

Allah berfirman:

“Ini adalah anakmu, Dawud. Aku telah menuliskan umurnya empat puluh tahun.”

Adam berkata:

“Wahai Rabbku, tambahlah umurnya.”

Allah berfirman:

“Itu yang telah Aku tulis untuknya.”

Adam berkata:

“Wahai Rabbku, aku telah memberikan sebagian umurku untuknya, yaitu empat puluh tahun.”

Allah berfirman:

“Itu adalah hakmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kemudian ia ditempatkan di surga sesuai dengan yang dikehendaki Allah, kemudian diturunkan darinya. Dan Adam menghitung umurnya sendiri.”

Beliau ﷺ bersabda:

“Kemudian Malaikat Maut datang kepadanya. Adam berkata kepadanya, ‘Engkau telah terburu-buru. Telah dituliskan untukku umur seribu tahun.’

BACA JUGA:  Apa Surganya Nabi Adam ‘Alaihis Salam?

Malaikat tersebut berkata, ‘Benar, akan tetapi engkau telah memberikan enam puluh tahun untuk anakmu, Dawud.’

Kemudian Adam mengingkari dan anak keturunannya pun mengingkari. Ia lupa dan anak keturunannya pun lupa.”

Beliau ﷺ bersabda:

“Maka, sejak saat itu, ia diperintahkan untuk menulis dan mendatangkan saksi.”

At-Tirmidzi berkata:

“Hadis ini adalah hadis hasan gharib dari sisi ini. Hadis ini telah diriwayatkan tidak hanya dari satu jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, melalui riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ.” []

Sumber: Kisah-kisah dalam Hadist Nabi Versi Tadabbur (Shahih Al-Qashash An-Nabiwi) / Penulis: Dr. Umar Sulaiman ‘Abdullah Al-Asyqar / Penerbit: Dar An-Nafa’is, Yordania / Cetakan Pertama: 1418 H/1997 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119