Tubuh manusia diciptakan untuk menikmati hal-hal yang baik dan menjauhi segala hal yang buruk. Untuk itu, tubuh manusia dilengkapi dengan nafsu yang berguna mendorongnya mencari hal-hal yang bermanfaat. Demikian pula tabiat marah diberikan agar manusia dapat menangkal hal-hal yang buruk bagi dirinya.
Seandainya bukan karena nafsu makan, niscaya manusia tidak akan tertarik dan terangsang untuk menikmati berbagai jenis makanan, sehingga badannya tidak mungkin dapat tetap kuat berdiri. Saat kebutuhan itu telah terpenuhi, meredalah nafsu makannya. Demikian pula dengan kebutuhan terhadap minuman, pakaian, dan pernikahan.
Manfaat nikah ada dua.
Pertama, untuk melestarikan keturunan. Inilah tujuan yang utama.
BACA JUGA: Akibat Bermaksiat ketika Sendirian
Kedua, sebagai sarana membersihkan diri manusia dari tumpukan hormon yang berlebihan di dalam tubuh.
Seandainya tidak ada nafsu yang menggelora dalam diri manusia yang membuatnya condong untuk mengadakan hubungan badan, niscaya seseorang tidak akan ingin menikah. Akibatnya, keturunan manusia akan terputus dan sperma akan menumpuk di dalam tubuh sehingga dapat menimbulkan penyakit.
Orang-orang yang berilmu tentu memahami hal ini. Adapun orang-orang yang bodoh sama sekali tidak mengerti bagaimana mengarahkan hawa nafsunya pada jalan yang benar. Akibatnya, mereka condong kepada syahwat dan terbenam dalam arus besarnya. Sia-sialah perbuatan mereka. Hancurlah agama dan harta benda mereka. Mereka pun jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Betapa banyak orang yang berfoya-foya, membeli budak perempuan untuk memuaskan hawa nafsunya, namun setelah itu kehilangan kekuatan fisiknya. Betapa banyak pula orang yang sangat pemarah hingga melewati batas, sehingga hancurlah dirinya dan menjauhlah teman-teman yang dahulu mencintainya.
BACA JUGA: Hari-hari yang Terus Berputar
Sejatinya, nafsu dan amarah diciptakan untuk menjaga keseimbangan kehidupan jasmani manusia dalam mengarungi kehidupan dunia, bukan semata-mata untuk mengejar kenikmatan dunia. Kenikmatan hanyalah sarana untuk mencapai manfaat yang baik. Jika kenikmatan dijadikan tujuan, tentulah hewan lebih baik daripada manusia.
Alangkah bahagianya orang yang memahami hakikat segala sesuatu, berbuat secara wajar, dan tidak hanyut dalam arus deras hawa nafsu yang mender. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

