Home MuhasabahGhirah: Api yang Menyucikan Hati

Ghirah: Api yang Menyucikan Hati

Manusia yang paling mulia dan paling tinggi semangatnya adalah mereka yang paling besar ghirah-nya terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

by Abu Umar
0 comments 6 views

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فالغيرة حرارته وناره التي تخرج ما فيه من الخبث والصفات المذمومة، كما يخرج الكير خبث الذهب والفضة والحديد، وأشرف الناس وأعلاهم همة أشدهم غيرة على نفسه وخاصته وعموم الناس، ولهذا كان النبي ﷺ أغير الخلق على الأمة، والله سبحانه أشد غيرة منه، كما ثبت في الصحيح عنه ﷺ أنه قال: «أتعجبون من غيرة سعد؟ لأنا أغير منه، والله أغير مني».

Ghirah merupakan salah satu sifat mulia yang Allah tanamkan dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman. Sifat ini bukan sekadar rasa cemburu dalam pengertian umum, melainkan kecemburuan yang lahir karena kecintaan kepada Allah, agama-Nya, dan kehormatan yang harus dijaga. Ghirah menjadi benteng yang melindungi seseorang dari sikap meremehkan dosa dan kemaksiatan.

BACA JUGA:  Dingin-Nya Kalbu Tatkala Dosa Mematikan Kepekaan Hati

Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan ghirah sebagai panas dan api hati yang berfungsi membersihkan berbagai kotoran serta sifat tercela yang ada dalam jiwa manusia. Beliau mengibaratkannya seperti alat peniup api yang digunakan untuk memurnikan emas, perak, dan besi dari berbagai kotoran yang menempel padanya. Sebagaimana logam mulia menjadi lebih bersih dan berharga setelah dimurnikan, demikian pula hati seorang mukmin akan menjadi lebih bersih ketika dihiasi dengan ghirah yang benar.

Seseorang yang memiliki ghirah terhadap dirinya tidak akan rela membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa dan kelalaian. Ia akan berusaha menjaga pandangan, lisan, pendengaran, serta seluruh anggota badannya dari perkara yang dimurkai Allah. Demikian pula terhadap keluarganya. Ia akan berupaya menjaga istri, anak-anak, dan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya agar tetap berada di atas jalan ketaatan.

Lebih dari itu, ghirah juga mencakup kepedulian terhadap kondisi kaum muslimin secara umum. Seorang mukmin merasa sedih ketika melihat agamanya dihina, syariat diremehkan, atau kemaksiatan dilakukan secara terang-terangan. Hatinya tidak mati dan tidak bersikap acuh terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi di sekitarnya.

Karena itulah Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa manusia yang paling mulia dan paling tinggi semangatnya adalah mereka yang paling besar ghirah-nya terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Kesempurnaan sifat ini tampak pada diri Rasulullah Muhammad ﷺ, yang merupakan manusia paling besar ghirah-nya terhadap umatnya. Beliau sangat menginginkan keselamatan umat dan sangat membenci segala hal yang dapat menyeret mereka ke dalam kebinasaan.

BACA JUGA: Lalat dan Perumpamaannya dalam Al-Quran

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki ghirah yang lebih besar daripada seluruh makhluk-Nya. Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

«أتعجبون من غيرة سعد؟ لأنا أغير منه، والله أغير مني»

“Apakah kalian merasa heran dengan ghirah Sa’ad? Sungguh, aku lebih besar ghirah-ku daripadanya, dan Allah lebih besar ghirah-Nya daripadaku.”

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya berusaha menumbuhkan ghirah dalam dirinya. Sebab ghirah yang dibimbing oleh ilmu dan ketakwaan akan menjadi api yang menyucikan hati, menjaga kehormatan, serta mengantarkan seorang hamba menuju keridhaan Allah Ta’ala.

📚 Ad-Da’u wad-Dawa’, hlm. 66. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119