Home MuhasabahBertobatlah, Wahai Jiwa

Bertobatlah, Wahai Jiwa

Tajamkan akal dan kewaspadaan, karena sering kali kelengahan dan kelalaian hanya akan menyeret seseorang ke jurang kehancuran.

by Abu Umar
0 comments 5 views

Saya merasakan ada sesuatu yang sangat ganjil dalam jiwa ini. Ia selalu menuntut kepada Allah agar seluruh kebutuhannya dipenuhi, tetapi pada saat yang sama ia lupa terhadap berbagai keburukan yang pernah dilakukannya.

Saya pun berdialog dengan jiwa saya.

“Wahai jiwaku, apakah sebenarnya yang engkau inginkan? Jika engkau hendak berbicara dan meminta, mintalah ampunan kepada-Nya terlebih dahulu.”

Jiwa itu menjawab,

“Kepada siapa aku harus menyampaikan keinginanku?”

BACA JUGA:  Berlaku Bijak terhadap Kenikmatan

Saya menjawab,

“Aku tidak melarangmu meminta apa yang engkau inginkan. Aku hanya ingin engkau memperbaiki tobatmu terlebih dahulu, kemudian setelah itu mintalah apa yang engkau kehendaki.”

Seseorang yang sedang dalam perjalanan dan berada dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai agar tidak mati kelaparan. Namun, hendaknya ia kembali kepada Allah dengan bertobat terlebih dahulu.

Demi Allah, alangkah tidak sopannya seseorang yang meminta kepada Allah ﷻ, tetapi pada saat yang sama melupakan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Seandainya Anda bersungguh-sungguh mengingat masa lalu dan berusaha memperbaikinya, niscaya berbagai harapan akan lebih mudah tercapai dengan izin-Nya.

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Allah berfirman,

“Barang siapa yang sibuk mengingat-Ku dan meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada apa yang diminta oleh para peminta.”

Demi Allah, sungguh tidak pantas seseorang terus-menerus meminta kepada Allah, sementara ia melupakan dosa-dosanya sendiri.

Suatu hari Bisyr al-Hafi mengangkat kedua tangannya ke langit untuk berdoa. Namun, beliau segera menarik kembali tangannya seraya berkata,

“Orang seperti aku tidak pantas meminta.”

Sikap seperti ini merupakan buah dari tingginya makrifat Bisyr al-Hafi kepada Allah.

BACA JUGA:  Hari-hari yang Terus Berputar

Seseorang yang berdoa kepada Allah seakan-akan sedang berbicara langsung dengan-Nya sehingga ia merasa takut jika melakukan kesalahan. Adapun orang-orang yang lalai dalam berdoa, mereka tidak merasakan kedekatan dengan Allah ﷻ.

Pahamilah apa yang saya uraikan ini. Sibukkanlah diri Anda dengan bertobat. Berhati-hatilah dalam setiap langkah agar tidak tergelincir. Jangan merasa bangga dengan doa-doa yang Anda panjatkan, karena sering kali yang diminta hanyalah urusan dunia. Jangan sampai Anda lebih bersungguh-sungguh meminta kebaikan dunia daripada memohon kejernihan hati dan lurusnya agama.

Perhatikanlah setiap urusan Anda. Tajamkan akal dan kewaspadaan, karena sering kali kelengahan dan kelalaian hanya akan menyeret seseorang ke jurang kehancuran. Jadikan rasa takut terhadap dosa-dosa masa lalu lebih besar daripada besarnya harapan yang Anda miliki. Hasan al-Bashri merupakan teladan seorang hamba yang memiliki rasa takut kepada Allah ﷻ yang sangat mendalam. []

Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119