Home MuhasabahUsia Manusia yang Sebenarnya

Usia Manusia yang Sebenarnya

Padahal dunia hanya persinggahan sebentar. Tempat ujian, bukan tempat menetap dan lebar.

by Abu Umar
0 comments 201 views

Kala hati berpaling dari Sang Pencipta,
Terjerumus jiwa dalam gelap nestapa.
Maksiat mengalun bak nyanyian fana,
Menipu waktu, memalsukan bahagia.

Hari berlalu seolah tak berdosa,
Padahal ruh menangis, merintih lara.
Langkah-langkah dalam dunia yang semu,
Menuju akhir yang getir dan pilu.

Ibnu Qayyim berkata dalam hikmah yang dalam,
“Bila engkau tinggalkan Allah, hidup pun karam.”
Waktu yang berlalu bukanlah hidup sejati,
Melainkan fatamorgana yang memudar pasti.

BACA JUGA:  Mengapa Aku Malas Sekali Beribadah?

banner

Hari-hari emas yang semestinya jadi ladang,
Dibuang percuma, dibajak oleh bimbang.
Tak terasa usia pun semakin tua,
Namun bekal akhirat kosong tak ada.

Lalu datang waktu ketika jasad melemah,
Ketika nyawa hendak lepas dari arah.
Saat itulah sesal mengetuk keras dada,
“Ke mana aku dulu menghamburkan usia?”

Duhai, kiranya aku menyiapkan bekal,
Untuk hidup kekal, tempat akhir yang kekal.
Tapi kini semua hanya angan di ujung waktu,
Tak ada lagi kembali, tak bisa mengulang itu.

“يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي”

Begitu teriakan jiwa yang terlambat menyadari.
Sungguh celaka orang yang tertipu dunia,
Mengira kehidupan ini abadi selamanya.

Padahal dunia hanya persinggahan sebentar,
Tempat ujian, bukan tempat menetap dan lebar.
Yang abadi adalah akhirat di sana,
Tempat setiap amalan ditimbang maknanya.

Waktu tak akan menunggu yang lalai,
Takkan mundur untuk orang yang alai.
Setiap detik adalah kesempatan mulia,
Untuk kembali pada Allah dan bertaubat segera.

Jangan tunggu esok untuk berubah,
Bisa jadi esok tinggal dalam sejarah.
Selagi nafas masih Allah beri,
Bangunlah hati, jangan terus menyepi.

Tinggalkan maksiat, hapuskan gelap,
Dekap taubat, dekatkan langkah.
Karena siapa tahu malaikat datang tiba-tiba,
Menjemput nyawa tanpa tanda-tanda.

Jangan biarkan diri menyesal di ujung,
Saat amal kosong dan waktu pun buntung.
Lebih baik menangis kini dalam doa,
Daripada menyesal dalam azab yang nyata.

Beramallah untuk kehidupan hakiki,
Hidup abadi di negeri ilahi.
Karena hidup dunia ini hanyalah ilusi,
Yang lenyap cepat seperti mimpi.

Renungkanlah sabda dan ayat Tuhan,
Jangan biarkan hati terus dalam kelalaian.
Satu dosa mengundang yang lain,
Hingga hidup terjerat dalam rantai beban.

BACA JUGA: Renungan Kematian

Bertobatlah, kembali kepada Rabb-mu,
Sebelum engkau menjerit, “Duhai, aku dulu…”
Sesal di akhir takkan mengubah apa-apa,
Tapi sekarang, engkau masih punya masa.

Ambillah pelajaran dari yang telah lalu,
Jadikan Al-Qur’an sebagai penunjuk dan cahaya kalbu.
Karena hidup yang sejati bukan di sini,
Tapi di akhirat yang kekal dan abadi.

“يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي” (QS. Al-Fajr: 24)

“Duhai, kiranya aku dahulu menyiapkan bekal untuk hidupku.”

— Jangan biarkan ayat ini menjadi jeritan hatimu kelak. Jadikan ia peringatan sekarang. []

.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119