Bahwa para malaikat itu datang menemui Nabi Luth berupa pemuda yang berwajah tampan. Ia menjamu mereka, namun di sisi lain khawatir atas tindakan kaumnya nanti jika mengetahui keberadaan tamu-tamu tersebut, karena beranggapan bahwa mereka yang singgah di perkampungan itu tidak mengetahui tabiat dan perilakunya yang menimbulkan kerusakan.
Ketika para tamu tersebut masuk ke rumahnya, kaumnya mengetahuinya dan segera mereka berdatangan secara berkelompok dan perorangan ingin mengganggu para tamu dan berbuat dosa dengan mereka. Maka Luth menempatkan putri-putrinya di antara para tamu dan kaumnya, menawarkan mereka untuk menikah dengan putri-putrinya.
Akan tetapi, mereka menolak dan tetap bersikeras ingin melakukan perbuatan munkar yang mereka inginkan. Hal itu betul-betul membuat Nabiyullah Luth terpojok dan berangan-angan seandainya ada kekuatan yang bisa menolongnya untuk mencegah gangguan dan perlawanan kaumnya.
BACA JUGA: Hikmah dari Nabi Yusuf
Pada saat keadaan seperti itu, Jibril mengabarkan perkara yang sebenarnya bahwa para tamu itu adalah utusan-utusan Allah dan tidak bisa mereka yang lemah dan bodoh itu mendatangkan mudharat atau bahkan sekali-kali tidak akan mungkin bisa menyusahkan mereka. Maka, Jibril dengan sekali mengepak sayapnya yang membuat mereka tidak bisa melihat dan lari seperti tikus yang lari dengan penuh ketakutan.
Di akhir malam, para malaikat itu mengangkat rumah, kota, hewan, dan tumbuh-tumbuhan mereka ke atas langit hingga para malaikat mendengar suara hewan mereka di atas langit, rumah-rumah mereka dibalik, yang di atas jadi di bawah dan sebaliknya diikuti dengan bebatuan berapi yang jatuh bertubi-tubi. Tidak ada seorang pun yang selamat dari siksaan itu.
BACA JUGA: Umur Nabi Adam dan Kisah Nabi Dawud
Semua kisah di atas terdapat dalam Al-Qur’an. Yang baru yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa yang selamat dari keluarganya dari siksaan Allah adalah ketiga anak perempuannya.
Nabi Luth berjalan bersama ketiga anak perempuannya menuju negeri Syam. Anak pertamanya meninggal di dalam perjalanan menuju negeri Syam, kemudian Allah mengeluarkan mata air di tempat tersebut yang diberi nama Al-Wariyyah.
Kemudian ia melanjutkan perjalanan menjauhi negeri yang dibinasakan dengan adzab. Dalam perjalanan ini juga anak perempuan Nabi Luth yang paling kecil meninggal dan keluarlah mata air di tempat meninggalnya anak Nabi Luth yang dinamakan dengan Ar-Ra’ziyyah.
Tidak ada yang tersisa dari anaknya yang masih hidup kecuali anak yang kedua. []
Sumber: Kisah-kisah dalam Hadist Nabi Versi Tadabbur (Shahih Al-Qashash An-Nabiwi) / Penulis: Dr. Umar Sulaiman ‘Abdullah Al-Asyqar / Penerbit: Dar An-Nafa’is, Yordania / Cetakan Pertama: 1418 H/1997 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

