Home NasihatHikmah dari Nabi Yusuf

Hikmah dari Nabi Yusuf

Dan jika ia tidak diuji, ia tidak akan diangkat menjadi bendaharawan negeri. Rahmat Allah sering turun lewat jalan yang terasa pahit.

by Abu Umar
0 comments 145 views

Saudaraku, kehidupan ini memang Allah ciptakan penuh dengan warna gundah, lelah, dan kesedihan. Tidak ada kenikmatan dunia yang benar-benar abadi. Keadaan terus berputar, kebahagiaan dan kesempitan saling berganti. Hari ini tertawa, esok bisa jadi air mata. Inilah sunnatullah dalam kehidupan manusia, agar hati tidak bergantung pada dunia, tetapi kembali kepada Rabb semesta alam.

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam menjadi cermin yang jernih bagi hati-hati yang letih. Ia diuji dengan ujian yang tidak ringan: dikhianati saudara kandungnya sendiri, dilempar ke dalam sumur, lalu dijual dengan harga yang sangat rendah. Allah Ta’ala mengabadikan peristiwa itu dalam Surah Yusuf ayat 19–20. Seorang nabi, seorang yang mulia di sisi Allah, justru memulai hidupnya dalam kesempitan dan kehinaan menurut pandangan manusia.

BACA JUGA: Hasad Saudara-saudara Yusuf

Namun, para ulama salaf mengajarkan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari mudahnya hidup. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Allah menguji seorang hamba bukan karena Dia membencinya, tetapi agar Dia mendengar doa dan rintihannya.” Ujian adalah tanda perhatian, bukan tanda kebencian.

Jika kita membandingkan musibah kita dengan ujian Nabi Yusuf, niscaya kita akan lebih pandai bersyukur. Yusuf ‘alaihis salam mengajarkan bahwa ketenteraman, kelapangan dada, dan rida bukanlah buah dari harta dan kedudukan, melainkan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Bahkan, sering kali ketenangan itu justru hadir di tengah sempitnya keadaan. Allah berfirman tentang wali-wali-Nya, bahwa tidak ada rasa takut dan sedih bagi mereka, selama iman dan takwa tetap terjaga (QS. Yunus: 62–64).

Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata, “Apa yang dapat dilakukan musuhku terhadapku? Surgaku ada di dalam dadaku.” Kalimat ini lahir dari keyakinan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari hati yang dekat dengan Allah, bukan dari luar diri.

Saudaraku, setiap takdir Allah selalu mengandung hikmah. Jika Yusuf tidak dilempar ke sumur, ia tidak akan sampai ke Mesir. Jika ia tidak dipenjara, ia tidak akan dikenal sebagai penakwil mimpi yang jujur. Dan jika ia tidak diuji, ia tidak akan diangkat menjadi bendaharawan negeri. Rahmat Allah sering turun lewat jalan yang terasa pahit.

BACA JUGA: Hikmah Tak Diketahuinya Waktu Kiamat

Ketika semua itu berlalu, Yusuf ‘alaihis salam tidak menyimpan dendam. Ia justru mengakui kelembutan Allah dan berdoa agar diwafatkan dalam keadaan muslim serta digabungkan dengan orang-orang saleh (QS. Yusuf: 100–101). Inilah puncak kebahagiaan seorang hamba: hati yang tunduk, rida pada takdir, dan berharap akhir yang baik.

Maka, bersabarlah saudaraku. Luka hari ini bisa jadi pintu kemuliaan esok hari. Selama Allah masih menjadi sandaran, tidak ada ujian yang sia-sia. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119