Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan tujuan hidup manusia dalam firman-Nya:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapakah yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini memberikan pelajaran besar yang sering kali terlewatkan. Allah tidak mengatakan aktsaru ‘amalan (yang paling banyak amalnya), tetapi ahsanu ‘amalan (yang paling baik amalnya). Ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan seorang hamba bukan pada kuantitas amal, melainkan kualitasnya.
BACA JUGA: Doa Agar Amal Ibadah Diterima
Banyak orang beramal dengan jumlah yang banyak, namun belum tentu diterima di sisi Allah. Sebaliknya, ada amal yang tampak sedikit, tetapi karena keikhlasan dan kesesuaiannya dengan sunnah, justru menjadi sangat besar nilainya di sisi-Nya.
Seorang ulama besar, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat ini:
أَحْسَنُ عَمَلًا أي: أخلصه وأصوبه
“Yang paling baik amalnya; yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan Nabi ﷺ).” (Taisirul Karimir Rahman)
Dua syarat diterimanya amal pun menjadi jelas: ikhlas karena Allah dan benar sesuai sunnah Rasulullah ﷺ. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut terancam tertolak.
Para ulama salaf sangat memperhatikan kualitas amal ini. Mereka lebih takut amalnya tidak diterima daripada sedikitnya amal yang mereka lakukan. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Amal yang paling ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima, dan amal yang benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima, sampai amal itu ikhlas dan benar.”
Inilah yang menjadi pembeda antara orang-orang yang hanya sibuk beramal dengan orang-orang yang benar-benar memahami tujuan hidupnya. Mereka tidak hanya mengejar banyaknya ibadah, tetapi memastikan setiap amal dilakukan dengan hati yang bersih dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.
BACA JUGA: Jebakan Setan yang Halus: Salah Menempatkan Prioritas Amal
Di akhir zaman, manusia sering terjebak pada penampilan amal. Ingin terlihat banyak berbuat, ingin dipuji, atau sekadar mengikuti kebiasaan tanpa ilmu. Padahal, yang Allah nilai bukanlah apa yang tampak di mata manusia, tetapi apa yang tersembunyi di dalam hati dan sejauh mana amal itu sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya.
Maka, hendaknya kita bermuhasabah. Bukan sekadar bertanya “sudah berapa banyak amal yang kita lakukan?”, tetapi “sudah seberapa baik amal itu di sisi Allah?”. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan banyaknya amal, tetapi amal yang ikhlas dan benar. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

