Home KajianJebakan Setan yang Halus: Salah Menempatkan Prioritas Amal

Jebakan Setan yang Halus: Salah Menempatkan Prioritas Amal

Seorang mukmin yang lurus adalah ia yang mampu menempatkan setiap amal pada tempatnya.

by Abu Umar
0 comments 107 views

Setan tidak pernah lelah. Ia terus mengintai manusia, berjalan mengelilingi hati dan pikiran, mencari celah sekecil apa pun yang bisa dimasuki. Bila pintu dosa besar tertutup rapat oleh iman dan rasa takut kepada Allah, setan tidak lantas menyerah. Ia mengganti cara, memperhalus jebakan, hingga akhirnya manusia terperdaya tanpa merasa sedang disesatkan.

Imam al-Harits al-Muhasibi rahimahullah menjelaskan dengan sangat tajam: ketika setan gagal menjerumuskan seorang hamba ke dalam dosa-dosa besar, ia akan mengalihkan godaannya pada perkara-perkara yang tampak ringan, bahkan terlihat baik. Manusia digiring untuk sibuk dengan hal-hal yang sia-sia, atau dengan amalan-amalan yang sebenarnya tidak salah, namun dikerjakan pada waktu dan posisi yang keliru.

BACA JUGA:  Umar bin Khattab, Kenapa Ditakuti Setan?

Setan, sebagaimana dikatakan beliau, menggoda manusia melalui maksiat yang samar. Maksiat yang tidak disadari. Bentuknya bukan selalu meninggalkan ibadah, tetapi justru memutarbalikkan urutan amal. Yang seharusnya didahulukan justru diakhirkan, dan yang semestinya diakhirkan malah diprioritaskan. Di sinilah banyak hamba tergelincir, merasa sedang berbuat kebaikan, padahal sedang kehilangan yang lebih utama.

Pada tahap ini, seorang hamba sangat membutuhkan ilmu. Ilmu yang mengajarkannya tentang fiqih prioritas, tentang timbangan amal di sisi Allah. Ia memahami bahwa yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah. Bahwa amalan utama lebih didahulukan daripada amalan yang keutamaannya di bawahnya. Setelah kewajiban tertunaikan dengan baik, barulah sunnah-sunnah muakkad dijaga, kemudian disusul sunnah-sunnah lainnya.

Selain itu, seorang hamba juga dituntut untuk bersikap seimbang dalam urusan dunia. Mencukupkan diri dengan yang halal sesuai kebutuhan. Tidak berlebih-lebihan. Sebab sikap berlebihan, termasuk dalam perkara agama, bukanlah jalan keselamatan. Justru dari sanalah banyak orang tergelincir, lelah di tengah jalan, lalu meninggalkan kewajiban yang lebih besar.

Betapa sering kita menyaksikan contoh yang halus namun berbahaya. Seseorang bersemangat menjaga shalat tahajud, tetapi karena kurang bijak mengatur diri, ia tertidur hingga kehilangan shalat Subuh berjamaah di awal waktu. Padahal, menjaga kewajiban dan syiar jamaah bersama kaum Muslimin lebih utama daripada memperbanyak ibadah sunnah yang menyebabkan kewajiban terlalaikan.

BACA JUGA:   Sabar terhadap Maksiat

Seorang mukmin yang lurus adalah ia yang mampu menempatkan setiap amal pada tempatnya. Ia bersungguh-sungguh menjaga shalat lima waktu berjamaah di masjid, dan pada saat yang sama tetap tekun menghidupkan shalat Dhuha, Rawatib, dan amalan sunnah lainnya. Ia tidak menukar yang pokok dengan yang cabang, dan tidak tertipu oleh jebakan setan yang dibungkus dengan rupa kebaikan.

Maka, kewaspadaan terhadap tipu daya setan bukan hanya dengan menjauhi maksiat besar, tetapi juga dengan menjaga keseimbangan, memahami prioritas, dan menapaki jalan ibadah dengan ilmu. Sebab tidak sedikit manusia yang tersesat bukan karena meninggalkan kebaikan, melainkan karena salah menempatkannya. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119