Home RenunganKenapa Engkau Bisa Hidup Setenang Itu?

Kenapa Engkau Bisa Hidup Setenang Itu?

Mungkin jawabannya sederhana: ia berdamai dengan Allah, berhati-hati dengan manusia, dan jujur dengan hatinya sendiri.

by Abu Umar
0 comments 130 views

Pernahkah engkau bertanya dalam hati, mengapa ada seseorang yang hidupnya tampak begitu tenang? Wajahnya biasa saja, hartanya tidak berlebih, masalahnya pun tidak sedikit. Namun entah kenapa, dadanya lapang, langkahnya ringan, dan lisannya jarang mengeluh.

Ketenangan itu bukan sulap, bukan pula warisan. Ia lahir dari pilihan-pilihan hidup yang sunyi dari tepuk tangan manusia, tapi penuh pandangan Allah.

Ketenangan sejati sering kali berawal dari satu keputusan penting: menjauhi maksiat. Dosa bukan sekadar pelanggaran, ia adalah beban jiwa. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka yang bermaksiat kepada Allah, meskipun keledainya bagus dan pakaiannya indah, tetap saja kehinaan maksiat itu ada di hati mereka.”

BACA JUGA:  Dosa, yang Menyebabkan Hati Tidak Tenang

Maksiat menggerogoti ketenangan dari dalam. Hati jadi gelisah, pikiran kusut, hidup terasa sempit meski dunia terbentang luas.

Lalu ia memperbanyak ibadah, bukan karena merasa suci, tapi karena sadar diri lemah. Shalat bukan hanya kewajiban, ia adalah tempat kembali.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dalam shalat ada kenikmatan, seandainya para raja mengetahuinya, niscaya mereka akan memerangi kita demi mendapatkannya.” Orang yang hidupnya tenang, biasanya punya waktu khusus antara dirinya dan Allah—waktu yang tak diganggu dunia.

Ia juga sedikit menyakiti orang lain. Lisannya dijaga, sikapnya ditimbang. Ia paham, melukai hati manusia bisa lebih berat hisabnya daripada dosa pribadi. Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Jika engkau ingin selamat, maka jagalah lisanmu.” Banyak kegelisahan lahir bukan karena musuh, tapi karena doa orang yang tersakiti.

Ketenangan juga tumbuh dari syukur. Bukan karena nikmatnya besar, tapi karena hatinya pandai melihat. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nikmat yang disyukuri akan bertahan, nikmat yang diingkari akan pergi.” Orang yang bersyukur jarang iri, jarang mengeluh, dan lebih mudah bahagia.

BACA JUGA:  Hidup, Hanyalah Kilasan Perjalanan

Dan jangan lupakan satu hal sederhana namun dalam: menyayangi orang terdekat. Rumah yang penuh doa, sabar, dan kasih sayang adalah sumber ketenangan paling awal. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali ia menghiasinya.”

Jadi jika engkau bertanya, “Kenapa engkau bisa hidup setenang itu?”

Mungkin jawabannya sederhana: ia mendekat diri pada Allah, berhati-hati dengan manusia, dan jujur dengan hatinya sendiri. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119