Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak pernah memilih seorang nabi secara tiba-tiba tanpa persiapan. Demikian pula dengan Rasulullah Muhammad ﷺ. Jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul, Allah telah membersihkan hati, memuliakan akhlak, dan mempersiapkan ruh beliau untuk menerima amanah terbesar, yaitu menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia.
Salah satu bentuk persiapan itu adalah kecintaan Rasulullah ﷺ untuk beruzlah (menyendiri) di Gua Hira. Beliau menghabiskan waktu berhari-hari untuk bertafakur, merenungi penciptaan langit dan bumi, serta menjauh dari berbagai bentuk kemusyrikan yang merajalela di tengah masyarakat Quraisy.
Uzlah tersebut bukanlah pilihan yang beliau rencanakan sendiri untuk menjadi seorang nabi. Justru Allah-lah yang menggerakkan hati beliau agar siap menerima wahyu.
Hal ini tampak dari reaksi Rasulullah ﷺ ketika wahyu pertama turun. Beliau sangat terkejut, bahkan merasa takut atas pengalaman yang baru saja dialaminya. Seandainya sejak awal beliau mengetahui bahwa dirinya akan diangkat menjadi nabi, tentu beliau tidak akan mengalami kegelisahan seperti itu dan tidak akan meminta penjelasan kepada Khadijah radhiyallāhu ‘anhā mengenai apa yang terjadi di Gua Hira.
BACA JUGA: Muhammad ﷺ Jatuh
Kapan Rasulullah ﷺ Menyadari Bahwa Beliau Adalah Utusan Allah?
Para ulama menjelaskan bahwa kesadaran Rasulullah ﷺ sebagai utusan Allah semakin kuat setelah beberapa peristiwa penting.
1. Malaikat Jibril Menyatakan Kenabian Beliau
Saat wahyu pertama turun, Malaikat Jibril berkata kepada beliau,
“Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan aku adalah Jibril.”
Ucapan tersebut menjadi penegasan bahwa beliau benar-benar dipilih oleh Allah sebagai nabi terakhir.
2. Penjelasan Waraqah bin Naufal
Setelah peristiwa di Gua Hira, Rasulullah ﷺ bersama Khadijah radhiyallāhu ‘anhā menemui Waraqah bin Naufal, seorang yang memahami kitab-kitab terdahulu.
Setelah mendengar kisah Rasulullah ﷺ, Waraqah berkata,
“Itulah An-Nāmūs (Malaikat Jibril) yang dahulu pernah Allah utus kepada Nabi Musa ‘alaihissalām.”
Ia juga menyampaikan bahwa kelak Rasulullah ﷺ akan menghadapi penolakan dan permusuhan dari kaumnya karena membawa kebenaran.
Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad As-Siba’i, peristiwa ini semakin meneguhkan bahwa wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ benar-benar berasal dari Allah.
Hikmah Uzlah Sebelum Kenabian
Dr. Muhammad Ramadhan Al-Buthi menjelaskan bahwa uzlah Rasulullah ﷺ mengandung pelajaran besar bagi setiap muslim.
Sesekali seorang muslim membutuhkan waktu untuk menyendiri dari hiruk-pikuk dunia, bukan untuk mengasingkan diri dari masyarakat, tetapi untuk melakukan muhasabah, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan membersihkan hati.
Dalam suasana yang tenang, seseorang lebih mudah merenungkan nikmat Allah, mengingat dosa-dosanya, serta menata kembali tujuan hidupnya.
Uzlah yang disertai ibadah dan muhasabah dapat menjadi sarana membersihkan hati dari berbagai penyakit, seperti:
Kesombongan.
Ujub (bangga terhadap diri sendiri).
Riya’ (ingin dipuji manusia).
Hasad (dengki).
Cinta dunia yang berlebihan.
Karena itu, seorang muslim hendaknya menyediakan waktu untuk berkhalwat dengan Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan mengevaluasi dirinya, meskipun hanya beberapa saat di tengah kesibukan hidup.
BACA JUGA: Diangkat Menjadi Rasul Allah
Hikmah Rasulullah ﷺ Tidak Dapat Membaca dan Menulis
Di antara bukti nyata kebenaran kenabian Muhammad ﷺ adalah keadaan beliau sebagai seorang ummi, yaitu tidak dapat membaca dan menulis.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كُنْتَ تَتْلُوا مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
“Engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum Al-Qur’an dan tidak pula menulisnya dengan tangan kananmu. Seandainya demikian, niscaya orang-orang yang mengingkari akan ragu.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 48)
Keadaan ini merupakan hikmah besar dari Allah. Tidak adanya kemampuan membaca dan menulis pada diri Rasulullah ﷺ menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukanlah hasil pemikiran atau karangan beliau, melainkan benar-benar wahyu yang diturunkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. []
Sumber: The Great Story of Muhammad ﷺ : Referensi Lengkap Hidup Rasulullah ﷺ dari Sebelum Kelahiran hingga Detik-detik Terakhir / Penyusun: Ahmad Hatta, dkk. / Penerbit: Maghfirah Pustaka / Cetakan Keenam, September 2016
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

