Ketika saya membaca ayat, Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku bagaimana seandainya Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapaα kah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikan-nya kepadamu.” (al-An’am [6]: 46), saya menangkap isyarat bahwa ada makna yang sangat dalam dan perlu saya telusuri.
Bukan hanya pendengaran dan penglihatan yang menjadi inti ayat. Pada dasarnya, pendengaran hanyalah sarana untuk menangkap suara dari luar dan penglihatan adalah sarana untuk me mandang segala sesuatu. Maksud utama ayat tersebut ialah dua indra itu akan menyalurkan atau meneruskan apa yang didapatnya pada hati. Hatilah yang lalu merenungi apa yang didengar dan dilihat serta mengambil pelajaran dari apa yang diterimanya itu.
BACA JUGA: Ihwal Perilaku Mubalig
Setelah pendengaran dan penglihatan melakukan tugas menyampaikan apa yang didapatnya pada hati, masukan itu akan menuntun manusia kepada Sang Khaliq, membimbingnya untuk taat, mengarahkan manusia pada rasa takut akan siksaan-Nya dan kehati-hatian pada sikap menentang aturan-aturan hukum-Nya. Itulah hasil yang diharapkan dari kerja dan kegunaan indra pendengaran dan penglihatan. Jika hal itu tidak tercapai, belum tercapailah maksud penciptaan telinga dan mata.
Kita perlu memerhatikan makna lebih jauh. Ketika telinga dan mata digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan hawa nafsu, maka fungsi kedua indra itu akan kehilangan makna. Meski demikian, telinga tetaplah dapat mendengar dan mata pun masih bisa melihat. Namun, apa yang didapatkan keduanya menjadi hampa, seolah keduanya tidak berfungsi se-bagaimana mestinya. Apa yang diterima lewat keduanya membuat hati ditimpal kemalangan dan hampa. Manusia men jadi kehilangan kendali dan terbenam dalam dosa. Hati tidak lagi bisa membimbing manusia memahami apa yang didengar dan dilihatnya.
Orang seperti itu sudah tidak bisal merasa bahwa dirinya sedang ditimpa cobaan. Nasihat yang berguna tidak la gi dapat menembus hati, tidak tahu di mana sebenarnya ia berada dan apa arti keberadaannya. la hanya memerhatikan hal-hal yang manfaatnya sungguh sing kat dan sementara. Tidak mengambil pelajaran dari teman-temannya dan tidak berusaha meminta nasihat dari sahabat karibnya. la tidak lagi memikirkan kerugian akhirat dan tidak sempat mencari bekal untuk kehidupannya yang abadi.
BACA JUGA: Kelezatan Maksiat dan Kenikmatan Beribadah
Seorang penyair berkata:
Manusia terlelap dalam kelalaian
padahal ajal menggugahnya
Mereka tidak sadarkan diri hingga umur pun habis berlalu
Dengan diantar sanak familinya bersama-sama
Sambil mereka melihat bagaimana liang lahatnya
Mereka kembali pada kubangan mimpi yang membuatnya terlena
Seakan mereka tak pernah melihat. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

