Saya merenungkan peristiwa yang sering terjadi di majelis-majelis taklim. Orang awam dan para ulama menganggap kegiatan mereka sebagai taqarub kepada Allah padahal sesungguhnya itu adalah kemungkaran.
Contohnya, seorang penyair yang mendendangkan syaimya dengan iringan tetabuhan. Para pemberi nasihat pun larut da lam lantunan syair, semisal Layla Majnun. Ada yang bertepuk tangan, bahkan sampai merobek-robek pakaian.
Mereka menyangka itu adalah sebuah upaya pendekatan diri kepada Allah, padahal musik yang membawa nafsu ke arah hal-hal yang merusak jiwa adalah sesuatu yang sangat tercela dan dosa besar.
Hal semacam itu perlu diperhatikan orang-orang yang sering menyampaikan. nasihat keagamaan dengan gaya yang mengumbar kesedihan. Cerita-cerita Itu dimaksudkan agar para wanita yang mendengarnya terisak-isak.
BACA JUGA: Kekayaan Terbesar
Setelah itu, mereka mendapat uang sebagai imbalan. Kebanyakan perempuan memang enggan memerhatikan omongan mereka jika berkaitan tentang kesabaran. Jelas, hal semacam ini sangat bertentangan de ngan syariat.
Ibnu Aqil menuturkan, “Kami pernah menghadiri takziyah seorang lelaki yang ditinggal mati seorang anak lelakinya. Seorang qari membaca al-Qur’an surah Yüsüf [12]: 84, Nabi Yaqub merintih, ‘Aduhai, betapa aku merasa kasihan pada Yusuf. Saya lalu menilai, “Bacaanmu (tentang ayat itu) adalah pelecehan terhadap al-Qur’an.
Ada pula yang membungkus khutbah dan nasihat dalam tirai makrifat dan mahabbah. Padahal, jika Anda perhatikan, di antara mereka terdapat orang-orang yang bodoh dan awam yang tidak me ngerti hukum-hukum shalat. Mereka m-robek-robek pakaian dengan alasan cinta yang begitu besar kepada Allah.
Ada lagi yang mengkhayalkan Tuhan dengan gambaran mereka sendiri. Digambarkan bahwa Tuhan laksana makhluk sehingga membuat para pendengarnya menangis saat mendengar kebesaran, rahmat, dan keindahan-Nya. Apa yang mereka khayalkan bukanlah al-mabüd (Allah) itu sendiri, sebab Allah mungkin dikhayalkan.
Memang tak mudah mengatakan kepada kalangan awam, bahwa mereka hampir saja dak bisa mengambil manfaat dari pahit-getirnya kebenaran. Para mubalig seharusnya tidak melewati batas kebenaran dan tidak membuat orang-orang awam itu hancur.
Wajib bagi mereka untuk menarik orang-orang itu dengan cara yang sebaik-baiknya dan dengan metode yang paling berkesan. Tentu membutuhkan seni tersendiri, karena kalangan awam sangat beragam kemampuannya dalam meneri ma nasihat.
Ada yang sangat tertarik hanya dengan kata-kata indah bersayap, ada juga yang tertarik dengan isyarat, ada yang senang dibacakan bait-bait syair.
Orang yang paling membutuhkan bahasa-bahasa retoris adalah para pemberi nasihat (dai atau mubalig) agar bisa menarik manusia. Namun, mereka harus memerhatikan apa yang seharusnya diucapkan dan berusaha mengeluarkan kata-kata yang menarik dan wajar, seperti seseorang yang memasukkan garam da lam masakan.
Setelah itu, barulah mengajak mereka mengenal Islam yang sebaik-baiknya dan menunjukkan kepada pendengarnya jalan kebenaran.
Ahmad bin Hanbal pernah menghadiri majelis al-Harits al-Muhasiby. Tatkala dia mendengar kata-kata al-Harits, dia menangis tersedu-sedu. Dia lalu berkata “Aku menangis karena situasi memang membuatku menangis.”
Beberapa ulama salaf menyarankan kita tidak perlu menghadiri majelis ahli hikayat atau para pendongeng. Namun, saya beranggapan, kalau pelarangan ini mutlak sifatnya, di zaman ini pendapat tersebut sangatlah tidak cocok.
BACA JUGA: Janganlah Terlalu Disibukkan dengan Dunia
Ada perbedaan zaman. Dahulu, orang-orang memang sangat sibuk dengan ilmu, sedangkan kini orang-orang malah berpaling dari ilmu. Tak ada salahnya lalu jika dalam majelis-majelis dibumbui sedikit hikayat. Sehingga mereka diarahkan pada upaya menghitung dosa-dosa dan dapat membuat mereka bertobat.
Yang tidak baik adalah jika orang-orang itu hanya bercuap-cuap dengan dongeng yang tiada berarti. Marilah kita bertakwa kepada Allah.
Pernyataan tersebut adalah sikap Ibnu al Jauzi yang menentang sikap dan pendapat kalangan Mujassimah, yaitu mereka yang memersonifikasikan atau menggambarkan sosok Allah seperti halnya manusia yang memiliki tangan, kaki, mata, hati, dan sebagainya. (Penj) []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

