Di antara bentuk retaknya keluarga yang paling menyakitkan adalah durhaka kepada orang tua.
Betapa banyak ayah dan ibu yang dahulu membesarkan anak dengan air mata, tenaga, doa, dan pengorbanan… namun ketika usia mereka senja, yang mereka dapatkan justru:
diabaikan,
ditinggalkan,
dianggap beban,
bahkan dibuang secara halus.
Ada orang tua yang setelah lemah fisiknya, tidak lagi dianggap berharga oleh anak-anaknya. Ada yang dititipkan ke panti atau tempat perawatan bukan karena darurat, tetapi karena dianggap merepotkan. Ada pula yang sakit di rumah sakit, tetapi tak dikunjungi anak-anaknya berhari-hari.
Lebih tragis lagi, ada yang diperlakukan dengan kasar, dibentak, diusir, bahkan dipermalukan di masa tuanya.
BACA JUGA: Kisah Anak Durhaka pada Ibu: Balasan Itu Sesuai Jenis Perbuatan
Padahal dulu merekalah yang:
begadang saat kita sakit,
bekerja keras saat kita kecil,
menahan lapar demi kita kenyang,
dan mengorbankan masa muda mereka untuk membesarkan kita.
Sungguh, jika hati tidak lagi tersentuh oleh jasa orang tua, maka itu pertanda ada yang rusak sangat dalam dalam jiwa seseorang.
Allah Ta’ala berfirman:
{فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُواْ فِى الأَرْضِ وَتُقَطِّعُواْ أَرْحَامَكُمْ * أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ}
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Allah menulikan mereka dan membutakan penglihatan mereka.”
(QS. Muhammad: 22–23)
Retaknya Keluarga Tidak Berhenti pada Orang Tua, Tapi Menjalar ke Kerabat
Kalau hubungan dengan ayah dan ibu saja bisa rusak, maka jangan heran bila hubungan dengan paman, bibi, saudara sepupu, bahkan saudara kandung sendiri juga mudah retak.
Hari ini, banyak permusuhan keluarga besar bermula dari perkara-perkara kecil:
masalah warisan,
ucapan yang menyinggung,
salah paham,
gosip dan adu domba,
urusan harta,
urusan pasangan,
bahkan pertengkaran antar anak kecil.
Lalu apa yang terjadi?
Bertahun-tahun tidak saling sapa.
Tidak datang ketika sakit.
Tidak hadir ketika ada musibah.
Tidak saling mengunjungi.
Tidak saling mendoakan.
Bahkan sebagian sampai senang melihat kerabatnya susah.
BACA JUGA: Dakwah pada Orangtua
Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله pernah berkata:
“Orang mukmin itu tidak suka menuntut-nuntut, tidak suka banyak mencela, dan tidak suka memukul atau menyakiti.”
Kalimat ini sangat dalam. Sebab salah satu ciri jiwa yang belum matang adalah selalu merasa dirinya yang paling tersakiti, paling benar, dan paling layak membalas. []
Sumber:
QS. Muhammad: 22–23
QS. Ar-Ra’d: 21, 25
HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang silaturahmi
Kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله
Diadaptasi dari materi khutbah tentang fenomena retaknya keluarga (التفكك الأسري)
AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

