Home SirahMimpi Memeluk Bintang

Mimpi Memeluk Bintang

Ada getaran yang merasuk ke dalam dirinya, sementara dadanya bergemuruh oleh perasaan yang sulit diungkapkan; antara hasrat, kasih sayang, dan harapan.

by Abu Umar
0 comments 6 views

Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita yang gigih, memiliki semangat tinggi, berwawasan luas, serta mencintai nilai-nilai religius, kebersihan, dan kesucian. Karena itu, ia dikenal di kalangan wanita Quraisy dengan julukan Ath-Thahirah (wanita suci). Dengan sifat-sifat tersebut, ia berada di barisan terdepan orang-orang yang mendambakan keagungan.

Khadijah sering mendengar penuturan sepupunya, Waraqah bin Naufal, tentang kisah para nabi dan agama. Dalam kondisi seperti itu, angan-angannya melambung ke angkasa keutamaan dan kebaikan yang sangat jarang ditemukan pada siapa pun yang hidup pada masa itu.

Pada suatu malam, ketika bintang-bintang seakan enggan menampakkan dirinya dan gelap gulita menyelimuti dunia, Khadijah duduk di dalam rumahnya setelah menyelesaikan beberapa putaran thawaf di sekeliling Ka’bah. Lalu ia beranjak menuju peraduannya dengan rasa puas dan seuntai senyum yang menghiasi bibirnya. Ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik perasaannya saat itu. Tidak lama kemudian, dirinya pun terbuai dalam tidur yang tenang.

BACA JUGA: Mulianya Khadijah

Di dalam tidurnya, Khadijah bermimpi melihat sebuah matahari besar turun perlahan dari langit Kota Makkah dan berhenti tepat di atas rumahnya. Seluruh sudut rumah diterangi oleh cahaya yang begitu indah. Sinar itu memancar ke segala penjuru, menerangi apa pun yang ada di sekitarnya, sehingga menyejukkan hati sebelum memanjakan mata setiap orang yang memandangnya.

Khadijah terkejut dan langsung terbangun. Pandangannya menyapu setiap sudut rumahnya. Namun ternyata malam masih menyelimuti bumi dengan pekat gulitanya dan menutupi setiap benda yang ada di atasnya. Meski demikian, cahaya terang yang ia lihat dalam mimpinya tetap memenuhi perasaannya dan memancar di dalam lubuk hatinya.

Keesokan harinya, ketika malam telah berganti pagi, Khadijah meninggalkan rumah di bawah sinar matahari yang baru menyingsing. Ia bergegas menuju rumah sepupunya, Waraqah bin Naufal. Ia berharap dapat menemukan penafsiran atas mimpi indah yang dialaminya pada malam sebelumnya.

Khadijah langsung memasuki rumah Waraqah dan mendapatinya sedang membaca lembaran-lembaran kitab suci yang sangat ia cintai dan selalu dibacanya setiap pagi dan petang. Ketika mendengar suara Khadijah, Waraqah segera menyambutnya seraya berkata dengan sedikit rasa terkejut, “Apakah itu Khadijah, sang wanita suci?”

Khadijah menjawab, “Ya, benar.”

Waraqah kembali bertanya, “Apa yang membuatmu datang ke sini sepagi ini?”

Khadijah pun duduk, lalu menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi dengan perlahan. Waraqah mendengarkan dengan penuh perhatian hingga ia lupa pada lembaran-lembaran kitab suci yang berada di tangannya. Ada suatu kekuatan yang seakan menarik seluruh perasaannya, sehingga ia terus menyimak penuturan Khadijah sampai selesai.

Setelah mendengar kisah mimpi itu, roman wajah Waraqah memancarkan kebahagiaan. Seuntai senyum menghiasi bibirnya. Dengan suara yang tenang dan berwibawa, ia berkata,

“Berbahagialah, wahai sepupuku. Seandainya Allah benar-benar menjadikan mimpimu kenyataan, maka cahaya kenabian akan masuk ke rumahmu. Dan darinya akan terpancar cahaya risalah nabi terakhir.”

Allahu Akbar.

Apa yang sebenarnya baru saja didengar oleh Khadijah? Apa makna perkataan sepupunya itu?

Khadijah hanya mampu terdiam beberapa saat. Ada getaran yang merasuk ke dalam dirinya, sementara dadanya bergemuruh oleh perasaan yang sulit diungkapkan; antara hasrat, kasih sayang, dan harapan.

BACA JUGA: 6 Anak dari Khadijah

Sejak saat itu, Khadijah menjalani hari-harinya dengan penuh cita-cita dan diliputi semerbak harapan dari mimpi yang dialaminya. Ia sangat berharap mimpinya menjadi kenyataan, menjadi sumber kebaikan bagi seluruh manusia, dan menjadi cahaya yang menerangi dunia. Khadijah memiliki kebesaran hati yang menjadi sumber berbagai kebaikan. Pikirannya yang tajam membuatnya mampu memahami setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan beradaptasi dengan baik terhadapnya.

Apabila ada seorang tokoh Quraisy yang datang melamarnya, Khadijah akan mempertimbangkannya dengan ukuran mimpi yang pernah dialaminya, ditambah penafsiran yang diberikan oleh sepupunya yang kharismatik, Waraqah bin Naufal. Akan tetapi, hingga saat itu, sifat-sifat nabi terakhir belum tampak pada orang-orang yang datang melamar dan mempersuntingnya.

Karena itulah, Khadijah menolak mereka dengan cara yang baik. Ia memberikan alasan bahwa dirinya tidak ingin menikah lagi.

Namun, jauh di dalam hatinya, intuisi Khadijah merasakan bahwa takdir Allah sedang menyembunyikan sesuatu yang kelak akan membawa kebahagiaan yang sangat besar baginya. Ia tidak mengetahui seperti apa bentuk kebahagiaan itu. Akan tetapi, penantian tersebut justru menghadirkan ketenangan yang mendalam di dalam hatinya. []

Sumber: 35 Sirah Shahabiyah (35 Sahabat Wanita) Rasulullah ﷺ, Jlid 1, Karya: Mahmud Al Misri, Penerbit:Al I’tishom Cahaya Umat, Cetakan ke-11 November 2018  

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119