Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia meyakini bahwa seluruh kejadian di alam semesta terjadi dengan ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keyakinan ini bukan hanya menjadi bagian dari akidah, tetapi juga menjadi sumber ketenangan hati ketika menghadapi berbagai peristiwa dalam kehidupan.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يؤمنُ عبدٌ حتى يؤمنَ بالقدَرِ خيرِه و شرِّه ، حتى يعلمَ أنَّ ما أصابه لم يَكن لِيخطِئَه ، و أنَّ ما أخطأه لم يكن لِيُصيبَه
Artinya:
“Tidak beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Dan sampai ia meyakini bahwa apa yang menimpanya tidak akan mungkin meleset darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan mungkin mengenainya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2144, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
BACA JUGA: Barangsiapa Beriman pada Allah dan Hari Akhir
Hadis ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir bukanlah perkara sampingan, melainkan bagian dari kesempurnaan iman. Seorang mukmin harus menerima bahwa segala nikmat, ujian, kesehatan, sakit, rezeki, maupun musibah telah ditetapkan oleh Allah dengan hikmah yang sempurna.
Allah Ta’ala juga berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).
Beriman kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha. Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja, berikhtiar, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Setelah itu, seorang hamba bertawakal dan menerima apa pun hasil yang Allah tetapkan. Inilah keseimbangan antara usaha dan tawakal yang diajarkan Islam.
Orang yang memahami takdir akan terhindar dari penyesalan yang berlebihan terhadap masa lalu. Ia tidak akan berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu hasilnya akan berbeda.” Sebaliknya, ia akan mengatakan, “Ini adalah takdir Allah, dan Dia berbuat sesuai kehendak-Nya.” Dengan keyakinan seperti ini, hati menjadi lebih lapang, sabar ketika diuji, dan tidak sombong ketika memperoleh keberhasilan.
Ulama salaf juga menaruh perhatian besar terhadap masalah ini. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan ridha terhadap sesuatu yang Allah benci baginya, dan membenci sesuatu yang Allah pilihkan untuknya.” Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa ridha terhadap ketetapan Allah, karena Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

