Saya melihat sebagian besar ulama terlalu daihukkan dengan menuntut ilmu di masa muda daripada memperoleh harta Setelah itu, barülah merasakan kebutuhan men desak yang harus dipenuhinya. Namun, mereka tak mendapatkiäh apapun dari baitul mel atau kas negara, tidak juga dan sumbangan teman-temannya. Hal itu lalu memaksanya untuk melakukan hal-hal yang rendah nilainya.
Saya menemukan dua hikmah dari kejadian itu
Pertama, kebanggaan mereka yang berlebihan dengan ilmunya, dijawab Allah dengan direndahkannya martabat mereka.
Saya lalu mengasah pikiran ini. Ada satu hal yang sangat menarik. Sesungguhnya, jiwa yang tak terlalu cinta akan dunia, tak akan bisa memasukkan ke dalam hatinya. Pada saat yang sama, hilanglah kecenderungan hati yang kuat padanya.
BACA JUGA: Akibat Bermaksiat ketika Sendirian
Kedua, Allah memberikan manfaat kepada mereka dengan pahala.
Orang-orang mutazohhid (mengaku-aku zuhud) sering melecehkan para ulama yang kaya. Mereka berlaku seperti itu tidak lain karena ketidaktahuan. Seandainya kaum yang berpura-pura zuhud itu memiliki ilmu yang cukup, niscaya tidak akan menghina dan melecehkan para ulama.
Sebab yang lain, watak masing-masing orang itu berbeda. Seseorang mungkin bisa hidup menderita, namun tidak dengan yang lainnya. Sangat tidak adil jika seseorang memaksakan apa yang mampu dilakukannya kepada orang lain yang belum tentu mampu.
Pada prinsipnya, kita telah diberi Allah pedoman berupa syariat. Kita mengenal adanya rukhsah (keringanan) dan ada pula lazimah (hal yang wajib dilakukan tanpa rukhsah). Sangatlah tidak arif mencemooh orang-orang yang merasa cukup dengan pedoman yang ada. Mungkin saja, suatu saat rukhsah lebih baik daripada azimah, karena ada nya manfaat yang besar di balik suatu kewajiban.
Seandainya para mutazahhid itu tahu bahwa ilmu bisa mengantarkan manusia mengenal Allah, pastilah hati merasa takut kepada-Nya. la akan senantiasa berlaku wajar dan berhati-hati terhadap badan, agar kuat menjalani hidup ini.
BACA JUGA: Hakikat Sabar
Sarana untuk beroleh ilmu adalah hati dan akal. Wajiblah kedua hal itu dijaga kondisinya dan disegarkan. Saat sarana itu berfungsi dengan baik, pekerjaan akan berjalan lancar. Semua ini tak bisa diketahui tanpa ilmu.
Ilmu bisa mengantarkan manusia mengenal Allah.
Kebodohan para mutazahhid akan ilmulah yang membuat mereka mengingkari apa yang tidak mereka ketahui. Mereka menyangka, bahwa zuhud adalah menjadikan badan letih dan membiarkan hewan-hewan tunggangan kurus. Mereka tidak tahu, bahwa rasa takut yang benar membutuhkan rasa tenang dan damai, sebagaimana kata mutiara, “Tenangkanlah hati, niscaya eng kau akan nikmat berzikir”. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

