Home KajianApa Itu Syafa’at dan Pembagiannya?

Apa Itu Syafa’at dan Pembagiannya?

Allah tidak ridha kepada kekafiran hamba-Nya, dan tidak menyukai kerusakan, keterikatan orang-orang musyrik dengan sembahan-sembahan mereka yang mereka sembah.

by Abu Umar
0 comments 94 views

Syafa’at diambil dari kata asy-syaf’u (genap) yaitu lawan dari ganjil, dan menjadikan sesuatu yang ganjil menjadi genap, seperti engkau menjadikan satu menjadi dua, tiga menjadi empat dan demikianlah, ini dari segi bahasa, adapun dari segi istilah adalah mencari perantara bagi selainnya untuk mendapatkan manfaat dan menolak mudharat.

Maksudnya yang memberi syafa’at itu sebagai perantara untuk memberi manfaat dan menolak mudharat bagi yang diberi syafa’at. Syafa’at ada dua macam:

JENIS PERTAMA: Syafa’at yang shahih dan benar, yaitu syafa’at yang telah ditetapkan Allah dalam kitab-Nya dan ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berhak mendapatkan syafa’at ini melainkan ahli tauhid dan ikhlas, karena Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Wahai Rasulullah siapa orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berkata laa ilaaha illaallah dengan ikhlas dari hatinya. (HR. al-Bukhari)

Syafa’at ini mempunyai tiga syarat:

Pertama: Ridha Allah kepada yang memberi syafa’at.

Kedua: Ridha Allah kepada orang yang diberi syafa’at.

Ketiga: Izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberi syafa’at.

BACA JUGA:

Syarat-syarat ini terkumpul dalam firman Allah:

وَكَم مِّن مَّلَكِ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن

يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَى {٢٦}

“Dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(-Nya).” (QS. an-Najm: 26)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَئِذٍ لَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً {۱۰۹)

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS. Thaahaa: 109)

Allah juga berfirman:

banner

وَلاَ يُشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah,” (QS. al-Anbiyaa’: 28) maka tiga syarat ini harus ada supaya syafa’at itu bisa bermanfaat.

Kemudian para ulama membagi syafa’at yang shahih ini menjadi dua bagian:

Bagian pertama: Syafa’at umum

Makna umum adalah bahwa Allah memberi izin kepada orang yang Dia kehendaki dari hamba-Nya yang shalih untuk memberi syafa’at kepada orang yang diberi izin Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan syafa’at. Dan syafa’at ini telah ditetapkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau dari para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Dan syafa’at itu untuk penghuni neraka dari kalangan orang beriman yang bermaksiat untuk dikeluarkan dari neraka.

Bagian kedua: Syafa’at khusus

Syafa’at yang dikhususkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebut syafa’at ‘uzhma (yang paling agung), terjadi pada hari kiamat ketika manusia mengalami kesedihan dan kesusahan. Tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kepada mereka, Allah saja yang bisa memberikan jalan keluar pada keadaan yang besar ini, maka mereka mendatangi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, mereka semua tidak bisa memberi syafa’at sehingga sampailah mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau berdiri dan memberi syafa’at disisi Allah untuk memberi jalan keluar hamba-Nya dari keadaaan yang besar ini, lalu Allah memperkenankan do’a beliau dan menerima syafa’atnya, inilah yang dimaksud kedudukan yang terpuji.

Allah telah menjanjikannya dalam firman-Nya:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةٌ لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مُحْمُودًا {۱۹}

“Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah engkau sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat engkau ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Israa’: 79)

Termasuk syafa’at yang khusus untuk beliau, yaitu syafa’at kepada ahli surga untuk memasukinya, sebab ahli surga ketika melewati shirathal mustaqim mereka berhenti diatas jembatan antara surga dan neraka, lalu dbersihkanlah hati-hati diantara sesama mereka antara satu dengan yang lain sampai bersih dan murni, kemudian dibukalah pintu surga dengan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuklah mereka ke dalamnya.

BACA JUGA:  Iman kepada Takdir

JENIS KEDUA Syafa’at yang batil yang tidak bermanfaat bagi pelakunya, dan inilah yang didakwakan orang musyrik bahwa sembahan-sembahan itu mempunyai syafa’at bagi mereka di sisi Allah. Padahal syafa’at ini tidak bisa memberikan manfaat kepada mereka sama sekali, sebagaimana Allah berfirman:

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشافعين

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir 48). Hal itu disebabkan karena Allah tidak ridha kepada kesyirikan orang-orang musyrik dan tidak mungkin mengizinkan untuk memberi syafa’at untuk mereka, karena tidak bisa memberi syafa’at kecuali untuk orang yang Dia ridhai.

Allah tidak ridha kepada kekafiran hamba-Nya, dan tidak menyukai kerusakan, keterikatan orang-orang musyrik dengan sembahan-sembahan mereka yang mereka sembah dan mereka berkata: “Mereka itulah yang memberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Ini adalah keterkaitan yang batil, tidak akan bermanfaat bahkan akan menambah mereka jauh dari Allah, mereka orang-orang musyrik itu mengharapkan syafa’at patung-patung mereka dengan perantaraan yang batil yaitu dengan beribadah kepada patung tersebut. Ini adalah suatu kebodohan. Mereka berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan apa yang justru tidak menambah bagi mereka melainkan semakin jauh dari Allah.

(Majmuu’ Fataawaa asy-Syaikh 2/44-45) []

Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Menguak Fenomena Kematian & Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat) / Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Pustaka Dhiya’ul Ilmi / Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119