Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam kesehariannya, ia selalu membutuhkan teman, sahabat, dan lingkungan tempat ia berinteraksi. Namun, Islam mengajarkan bahwa tidak semua pertemanan membawa manfaat. Ada sahabat yang mendekatkan kita kepada Allah, tetapi ada pula yang perlahan menjauhkan kita dari jalan-Nya.
Oleh karena itu, para ulama salaf sangat memperhatikan siapa yang mereka jadikan teman dekat. Mereka memahami bahwa agama seseorang akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan sahabatnya.
Di antara nasihat yang sangat berharga adalah perkataan Malik bin Dinar rahimahullah,
كل أخ وجليس وصاحب لا تستفيد منه خيرًا في أمر دينك؛ ففرّ منه
“Semua teman, teman duduk, dan sahabat yang engkau tidak mengambil faedah kebaikan agama darinya, maka hendaknya engkau lari darinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya).
BACA JUGA: Sahabat Calon Penghuni Surga
Nasihat ini bukan berarti kita harus memutus hubungan dengan semua orang yang tidak selevel dalam ilmu agama. Maksudnya adalah jangan menjadikan mereka sebagai sahabat dekat yang paling banyak memengaruhi hati dan kehidupan kita apabila keberadaan mereka tidak memberikan manfaat bagi agama, bahkan justru melalaikan kita dari ketaatan.
Sahabat yang baik akan mengingatkan ketika kita lalai. Ia akan mendorong kita menghadiri majelis ilmu, menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan menjauhi maksiat. Bersamanya, semangat beribadah bertambah dan keimanan terasa semakin kuat.
Sebaliknya, sahabat yang buruk sering kali mengajak kepada perkara yang sia-sia. Waktu habis untuk obrolan tanpa manfaat, hiburan yang melalaikan, atau bahkan perbuatan dosa. Sedikit demi sedikit, hati menjadi keras, ibadah terasa berat, dan dosa mulai dianggap biasa.
Rasulullah Muhammad ﷺ telah mengingatkan,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh para ulama.)
BACA JUGA: Bersahabat dengan Orang yang Shalih
Karena itu, salah satu cara menjaga istiqamah adalah memilih lingkungan yang saleh. Duduk bersama orang-orang yang mencintai ilmu, senang beribadah, dan memiliki akhlak mulia akan memberikan pengaruh yang besar, meskipun terkadang tanpa banyak nasihat. Melihat amal mereka saja sudah menjadi pelajaran.
Saudaraku, perhatikanlah siapa orang-orang yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita. Apakah setelah bertemu mereka hati kita semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin jauh dari-Nya? Ukuran sebuah persahabatan bukanlah lamanya kebersamaan, tetapi seberapa besar ia membantu kita meraih ridha Allah.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sahabat-sahabat yang saleh, yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, serta mempertemukan kita kembali bersama mereka di surga-Nya kelak. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

