Home IbrahHadiah untuk Pengghibah: Akhlak Mulia Imam Hasan Al-Bashri

Hadiah untuk Pengghibah: Akhlak Mulia Imam Hasan Al-Bashri

Bisa jadi kalimat yang kita ucapkan terasa ringan di dunia, tetapi menjadi sebab hilangnya pahala yang sangat kita butuhkan di akhirat.

by Abu Umar
0 comments 14 views

Ghibah adalah salah satu penyakit lisan yang sering dianggap ringan, padahal dosanya sangat besar di sisi Allah. Seseorang bisa saja menjaga shalat, rajin berpuasa, dan gemar bersedekah, namun tanpa disadari lisannya justru menghapus pahala amal-amalnya. Karena itu, Islam sangat keras memperingatkan umatnya agar menjaga lisan dari membicarakan keburukan saudaranya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan ghibah. Allah mengibaratkannya seperti memakan bangkai saudaranya sendiri, sebuah gambaran yang sangat mengerikan agar setiap muslim menjauhinya.

BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele Dosa Ghibah

Di antara kisah indah yang menunjukkan kemuliaan akhlak para ulama salaf adalah kisah Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah. Suatu ketika beliau mendengar kabar bahwa ada seseorang yang telah menggunjing dirinya. Alih-alih marah atau membalas dengan keburukan yang sama, beliau justru mendatangi orang tersebut sambil membawa sekeranjang kurma.

Beliau kemudian berkata,

بلغنى انك اهديت إلي من حسناتك فاحببت ان اكافئك

“Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau menghadiahkan banyak kebaikanmu untukku. Karena itu, aku pun ingin membalasnya dengan kurma ini.”

(Tanbihul Ghafilin, hlm. 164, karya As-Samarqandi).

Perkataan ini bukan sekadar ungkapan yang indah, tetapi mengandung pemahaman yang mendalam tentang hakikat ghibah. Pada hari kiamat, orang yang menzalimi saudaranya dengan ghibah akan memberikan pahala amalnya kepada orang yang dizalimi. Jika pahala itu habis, dosa orang yang dizalimi akan dipindahkan kepada pelaku ghibah. Itulah sebabnya Imam Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa orang tersebut telah “menghadiahkan” kebaikan kepadanya.

Kisah ini juga mengajarkan bagaimana seorang mukmin menghadapi orang yang menyakitinya. Beliau tidak membalas dengan kemarahan, caci maki, atau dendam. Sebaliknya, beliau membalasnya dengan hadiah dan doa. Akhlak seperti inilah yang lahir dari hati yang dipenuhi keikhlasan, kesabaran, dan keyakinan kepada balasan Allah.

BACA JUGA:  Kegembiraan bagi yang Dighibahi, Kesedihan bagi yang Mengghibahi

Namun, kisah ini bukanlah ajakan agar seseorang membiarkan dirinya digunjing atau merasa senang ketika menjadi korban ghibah. Justru sebaliknya, kisah ini mengingatkan kita agar sangat berhati-hati menjaga lisan. Jangan sampai pahala yang dikumpulkan dengan susah payah berpindah kepada orang lain hanya karena beberapa menit membicarakan keburukannya.

Saudaraku, sebelum membicarakan aib seseorang, renungkanlah kisah Imam Hasan Al-Bashri ini. Bisa jadi kalimat yang kita ucapkan terasa ringan di dunia, tetapi menjadi sebab hilangnya pahala yang sangat kita butuhkan di akhirat. Maka jagalah lisan, sibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan sendiri, dan mohonlah kepada Allah agar dianugerahi akhlak mulia sebagaimana akhlak para salafus shalih. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119