Manusia pada umumnya memiliki kecenderungan untuk mengejar sesuatu yang banyak, baik berupa harta, jabatan, usaha, maupun berbagai kenikmatan dunia lainnya. Tidak sedikit orang yang mengukur kebahagiaan dan kesuksesan berdasarkan banyaknya apa yang dimiliki. Padahal dalam pandangan Islam, ukuran kebaikan bukanlah sekadar banyak atau sedikitnya sesuatu, melainkan seberapa besar keberkahan dan manfaat yang terkandung di dalamnya.
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
« فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى »
Artinya: “Sesungguhnya sesuatu yang sedikit namun mencukupi itu lebih baik daripada sesuatu yang banyak namun melalaikan.”
📚 (Potongan hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Imam Al-Hakim menilainya shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
BACA JUGA: 4 Amalan Mendatangkan Rezeki
Hadits yang mulia ini mengajarkan sebuah prinsip penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu bahwa keberkahan lebih utama daripada sekadar jumlah. Harta yang sedikit namun halal, mencukupi kebutuhan, dan membantu seseorang untuk tetap taat kepada Allah Ta’ala jauh lebih baik daripada harta yang melimpah tetapi membuatnya lalai dari ibadah dan mengingat Allah.
Betapa banyak orang yang memiliki kekayaan berlimpah, namun hidupnya dipenuhi kegelisahan, kesibukan tanpa akhir, dan jauh dari ketaatan. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya tenang, keluarganya harmonis, dan ibadahnya terjaga. Inilah salah satu bentuk keberkahan yang sering kali tidak dapat diukur dengan angka dan materi.
Para ulama salaf sangat memahami hakikat ini. Mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Mereka merasa cukup dengan rezeki yang halal dan tidak berlebihan dalam mengejar kemewahan yang dapat melalaikan hati dari akhirat.
Allah Ta’ala juga mengajarkan kepada hamba-Nya untuk memiliki sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang telah Allah karuniakan. Qana’ah bukan berarti meninggalkan usaha atau enggan bekerja, tetapi menerima dengan lapang dada hasil yang Allah tetapkan setelah melakukan ikhtiar yang maksimal. Dengan qana’ah, hati menjadi tenang dan terhindar dari sifat tamak yang tidak pernah mengenal batas.
BACA JUGA: 4 Amalan Penghambat Rezeki
Hadits ini juga menjadi peringatan agar seorang muslim tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Banyaknya harta, kesibukan, atau berbagai fasilitas hidup tidak selalu menjadi tanda kebaikan apabila semua itu justru menjauhkan seseorang dari shalat, dzikir, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, dan berbagai amal saleh lainnya.
Karena itu, hendaknya kita lebih mengejar keberkahan daripada sekadar kelimpahan. Mintalah kepada Allah Ta’ala rezeki yang halal, baik, dan mencukupi. Sebab sesuatu yang sedikit tetapi cukup dan mendekatkan kita kepada Allah jauh lebih berharga daripada sesuatu yang banyak namun membuat hati lalai dari mengingat-Nya. Itulah kekayaan sejati yang membawa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

