Salah satu hukuman paling berat akibat dosa bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, melainkan ketika seseorang kehilangan arah hidupnya. Ia sibuk mengejar dunia, tetapi lupa tujuan penciptaannya. Ia berusaha membahagiakan jasadnya, namun mengabaikan keselamatan jiwanya. Inilah yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai akibat dari melupakan Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18–19).
BACA JUGA: Futur Itu Biasa, Namun Jangan Sampai Bermaksiat Ketika Futur
Menjelaskan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
﴿ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون – ولا تكونوا كالذين نسوا الله فأنساهم أنفسهم أولئك هم الفاسقون﴾
فأمر بتقواه ونهى أن يتشبه عباده المؤمنون بمن نسيه بترك تقواه، وأخبر أنه عاقب من ترك التقوى بأن أنساه نفسه، أي أنساه مصالحها، وما ينجيها من عذابه، وما يوجب له الحياة الأبدية وكمال لذتها وسرورها ونعيمها
“Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa kepada-Nya dan melarang orang-orang beriman menyerupai orang yang melupakan Allah dengan meninggalkan ketakwaan kepada-Nya. Allah mengabarkan bahwa Dia menghukum orang yang meninggalkan takwa dengan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. Maksudnya, Allah menjadikannya lupa terhadap berbagai kemaslahatan dirinya, lupa terhadap hal-hal yang dapat menyelamatkannya dari azab-Nya, serta lupa terhadap perkara yang mengantarkannya kepada kehidupan yang abadi, kesempurnaan kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan yang kekal.” (Ad-Da’u wad-Dawa’, hlm. 70).
Betapa banyak manusia yang tampak mengenal dirinya, tetapi hakikatnya justru melupakan dirinya sendiri. Ia tahu bagaimana menjaga kesehatan tubuhnya, merencanakan kariernya, dan mengembangkan hartanya. Namun, ia tidak pernah memikirkan bekal untuk kuburnya, amal untuk akhiratnya, atau keselamatan dari azab Allah. Padahal, itulah kebutuhan terbesar setiap manusia.
BACA JUGA: Maksiat Membuat Allah Melupakan Seorang Hamba
Inilah makna “lupa terhadap diri sendiri” yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim. Seseorang tidak lagi memahami apa yang benar-benar bermanfaat bagi dirinya. Ia melupakan jalan menuju surga dan sibuk mengejar kesenangan yang hanya sementara. Ia mengorbankan kenikmatan yang kekal demi kelezatan dunia yang sesaat.
Sebaliknya, orang yang selalu mengingat Allah akan lebih mengenal hakikat dirinya. Ia sadar bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan singkat menuju akhirat. Karena itu, ia memperbanyak amal saleh, menjaga ketakwaan, dan selalu mengevaluasi bekal yang telah dipersiapkannya untuk bertemu dengan Rabb-nya.
Marilah kita menjadikan ayat ini sebagai bahan muhasabah setiap hari. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lupa berzikir, lalai dari salat, menunda taubat, dan mengabaikan amal yang akan menyelamatkan kita kelak. Sebab, ketika seseorang melupakan Allah, hukuman yang paling menyedihkan adalah ia akan kehilangan kesadaran tentang apa yang paling dibutuhkan oleh dirinya sendiri. ]\
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

