Setiap dosa memiliki akibat. Ada dosa yang dampaknya langsung terasa di dunia, ada pula yang balasannya disimpan untuk hari akhirat. Namun, di antara hukuman paling berat akibat maksiat adalah ketika Allah membiarkan seorang hamba berjalan mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapatkan pertolongan dan taufik dari-Nya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Di antara hukuman dosa adalah bahwa dosa itu menyebabkan Allah melupakan hamba-Nya, membiarkannya, dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri dan setannya. Di situlah letak kebinasaan yang tidak bisa lagi diharapkan keselamatannya.” (Ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 70).
BACA JUGA: Petaka Maksiat
Yang dimaksud dengan Allah “melupakan” hamba-Nya bukanlah karena Allah lupa sebagaimana manusia lupa. Allah Mahasuci dari sifat tersebut. Maksudnya adalah Allah tidak lagi memberikan perhatian berupa taufik, pertolongan, penjagaan, dan bimbingan kepada hamba tersebut sebagai bentuk hukuman atas dosa-dosanya.
Inilah musibah yang jauh lebih mengerikan daripada kehilangan harta, jabatan, atau kesehatan. Sebab ketika Allah membiarkan seseorang bergantung kepada dirinya sendiri, ia akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu. Ketika hawa nafsu menguasai, setan pun semakin leluasa menyesatkan langkahnya. Akibatnya, dosa demi dosa dilakukan tanpa rasa takut, bahkan terkadang tanpa penyesalan.
Sebaliknya, seorang mukmin yang mendapatkan taufik dari Allah akan selalu dijaga. Jika tergelincir dalam dosa, Allah menggerakkan hatinya untuk segera bertaubat. Ia merasa gelisah setelah berbuat maksiat, menyesali kesalahannya, lalu kembali memohon ampun kepada Rabb-nya. Kegelisahan karena dosa adalah tanda bahwa Allah masih menghendaki kebaikan baginya.
BACA JUGA: Jauhi Maksiat, Wahai Anakku
Karena itu, jangan pernah meremehkan maksiat sekecil apa pun. Dosa yang terus-menerus dilakukan dapat mengeraskan hati sedikit demi sedikit. Lama-kelamaan seseorang tidak lagi merasa bersalah, tidak tersentuh oleh nasihat, dan tidak takut terhadap ancaman Allah. Inilah awal dari keadaan ketika seorang hamba dibiarkan bersama dirinya sendiri dan setannya.
Setiap kali terjatuh dalam kesalahan, segeralah kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus. Perbanyak istigfar, tingkatkan amal saleh, dan mohonlah agar Allah tidak menyerahkan diri kita kepada hawa nafsu walau hanya sekejap. Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa agar Allah senantiasa memberikan pertolongan dan tidak membiarkan hamba-Nya bergantung kepada dirinya sendiri. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

