Di akhir masa hidupnya,
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berdiri di hadapan manusia.
Beliau berkhutbah dengan suara yang jernih.
Bukan tentang kekuasaan.
Bukan tentang kejayaan.
Tetapi tentang dunia yang sering menipu.
Beliau berkata,
sesungguhnya Allah memberikan dunia
bukan agar manusia tenggelam di dalamnya.
Tetapi agar dunia dipakai
untuk mencari akhirat.
BACA JUGA: Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Syahid dalam Keadaan Membaca Al-Qur’an
Dunia hanyalah alat.
Bukan tujuan.
Dunia adalah kendaraan.
Bukan tempat menetap.
Allah tidak memberi dunia
agar hati condong kepadanya.
Karena dunia akan hancur.
Sedangkan akhirat akan tetap ada.
Inilah kaidah besar dalam Islam.
Yang fana jangan mengalahkan yang abadi.
Dunia yang Sementara
‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mengingatkan,
jangan sampai dunia membuat kita sombong.
Jangan pula dunia melalaikan kita
dari kehidupan yang kekal.
Allah Ta‘ala berfirman,
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta serta anak.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini menampar kesadaran.
Dunia tampak besar.
Namun hakikatnya kecil.
Dunia tampak indah.
Namun cepat sirna.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Dunia itu hina.
Ia cepat pergi.
Dan tidak layak dijadikan tujuan.”
Pilih yang Abadi
‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menutup nasihatnya dengan kalimat tegas.
Pilihlah yang kekal
daripada yang akan lenyap.
Inilah pilihan hidup seorang mukmin.
Akhirat di atas dunia.
Ridha Allah di atas segalanya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Dunia itu penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)
Bagi orang beriman,
dunia bukan tempat bersantai.
Tetapi tempat beramal.
Tempat menanam.
Agar kelak memetik hasil di akhirat.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
“Dunia hanyalah tiga hari.
Kemarin telah pergi.
Hari ini sedang dijalani.
Dan esok belum tentu datang.”
Kembali Kepada Allah
BACA JUGA: 5 Keutamaan Utsman bin Affan
Pada akhirnya,
semua akan terputus.
Harta ditinggal.
Jabatan hilang.
Nama dilupakan.
Yang tersisa hanyalah amal.
Dan perjumpaan dengan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman,
“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali.”
(QS. An-Najm: 42)
Inilah penutup semua perjalanan.
Bukan dunia.
Tetapi Allah.
Maka gunakan dunia
sebagaimana nasihat ‘Utsman bin ‘Affan.
Jadikan ia jembatan.
Bukan rumah.
Jadikan ia ladang.
Bukan tujuan.
Karena dunia akan habis.
Dan akhirat akan terus hidup. []
RUJUKAN: BERBAGI AL-ILMU
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

