Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu adalah salah satu tokoh paling mulia dalam sejarah Islam. Beliau merupakan khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, serta termasuk sahabat terdekat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal dengan akhlaknya yang sangat lembut, tenang, dan penuh kasih. Kepribadian beliau begitu menenteramkan, sehingga sahabat-sahabat lainnya sangat mencintai dan menghormatinya.
Sejak muda, Utsman memiliki kedudukan terhormat di tengah suku Quraisy. Beliau tumbuh dalam keluarga terpandang dan diberi kemampuan membaca serta menulis pada masa ketika hanya sedikit orang mampu melakukannya. Utsman tujuh tahun lebih muda dari Rasulullah ﷺ dan sejak diperkenalkan kepada Islam oleh sahabat mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau segera menerima kebenaran dan menjadi bagian dari barisan awal umat Islam. Meski harus menghadapi tekanan dan siksaan dari kaumnya, imannya tidak pernah tergoyahkan.
BACA JUGA: 12 Fakta Ustman bin Affan
Keutamaan Utsman semakin tampak ketika beliau menikah dengan Ruqayyah radhiyallahu’anha, putri Rasulullah ﷺ. Setelah wafatnya Ruqayyah, Nabi menikahkan beliau dengan putri lainnya, Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Karena itu beliau diberi gelar Dzul Nurain—pemilik dua cahaya—karena satu-satunya manusia yang menikahi dua putri Nabi ﷺ secara bergantian.
Sifat dermawan Utsman sangat masyhur di kalangan kaum muslimin. Pada hari-hari Jumat, beliau sering membeli budak kemudian membebaskannya sebagai bentuk amal dan pembelaan terhadap hak asasi manusia pada zamannya. Beliau juga menjadi pelopor dalam memperluas masjid Nabawi dan penyedia penting logistik ketika umat Islam membutuhkan. Kedermawanannya terlihat pula dalam kontribusi besar beliau terhadap kodifikasi mushaf Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an tersusun rapi dan terjaga autentisitasnya hingga kini.
Utsman memimpin kaum muslimin selama sekitar dua belas tahun. Enam tahun pertama berjalan dalam kedamaian dan kemakmuran, namun enam tahun terakhir dipenuhi fitnah dan keresahan yang ditimbulkan oleh kelompok pemberontak. Dengan kesabaran dan sifat memaafkan yang sangat tinggi, Utsman menolak membalas kekerasan demi menghindari pertumpahan darah antar kaum muslimin.
BACA JUGA: Utsman bin Affan Semasa Jahiliyah
Hingga akhirnya, beliau gugur sebagai syahid pada tahun 35 Hijriah, dalam usia sekitar 84 tahun, ketika sedang membaca Al-Qur’an di rumahnya. Tetesan darahnya membasahi mushaf yang ada di hadapannya—sebuah tanda akhir yang begitu mulia bagi seorang hamba yang hidup dalam ketaatan.
Sejarah mengenang Utsman bin Affan sebagai pemimpin yang penuh cinta, teladan kesabaran, pelindung Al-Qur’an, dan seorang sahabat besar yang meninggalkan warisan spiritual luar biasa bagi umat Islam di seluruh dunia. Semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita bersama beliau di surga-Nya. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

