Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira melalui firman Allah dalam Surah Al-‘Alaq, wahyu sempat terhenti selama beberapa waktu. Masa terputusnya wahyu ini dikenal dengan istilah fatratul wahyi. Hikmah dari jeda tersebut di antaranya adalah untuk menghilangkan rasa takut yang sempat dirasakan Rasulullah ﷺ setelah pengalaman luar biasa menerima wahyu pertama, sekaligus menumbuhkan kerinduan dan kesiapan beliau untuk kembali menerima risalah dari Allah Ta’ala.
Selama masa itu, Rasulullah ﷺ senantiasa menantikan datangnya wahyu. Hati beliau dipenuhi harapan agar Malaikat Jibril kembali datang membawa petunjuk dari Allah. Penantian tersebut akhirnya berakhir setelah beliau selesai berkhalwat dan merenung di Gua Hira.
Suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ turun dari Gua Hira menuju Kota Makkah, beliau mendengar suara yang memanggil namanya. Beliau menoleh ke kanan, tetapi tidak melihat seorang pun. Beliau menoleh ke kiri, namun tetap tidak menemukan siapa-siapa. Ketika melihat ke depan maupun ke belakang, keadaan tetap sama, tidak ada seorang pun yang tampak.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengangkat pandangannya ke langit. Saat itulah beliau dikejutkan oleh pemandangan yang sangat luar biasa. Di antara langit dan bumi tampak Malaikat Jibril, malaikat yang pernah datang kepada beliau di Gua Hira. Jibril terlihat duduk di atas sebuah kursi yang memenuhi cakrawala.
BACA JUGA: Bayi Muhammad, Berkah bagi Keluarga Halimah
Pemandangan yang begitu agung membuat Rasulullah ﷺ sangat terkejut dan ketakutan. Beliau segera bergegas pulang menemui istrinya, Khadijah radhiyallāhu ‘anhā, dengan tubuh yang gemetar.
Beliau berseru,
«زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي»
“Selimuti aku! Selimuti aku!”
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau juga meminta agar disiram dengan air dingin karena rasa takut yang masih menyelimuti dirinya.
Khadijah radhiyallāhu ‘anhā, sebagaimana biasanya, segera menenangkan dan menyelimuti Rasulullah ﷺ tanpa banyak bertanya. Kesabaran, kelembutan, dan dukungannya menjadi penghibur bagi Rasulullah ﷺ pada saat-saat yang sangat berat tersebut.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang berselimut, Allah Ta’ala kembali menurunkan wahyu melalui Malaikat Jibril.
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala bentuk perbuatan dosa (terutama penyembahan berhala).” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 1–5)
Ayat-ayat mulia ini menjadi titik awal dimulainya tugas kerasulan Rasulullah ﷺ secara terbuka. Jika wahyu pertama dalam Surah Al-‘Alaq merupakan awal kenabian (nubuwwah), maka turunnya Surah Al-Muddatstsir menandai dimulainya tugas menyampaikan risalah (risalah) kepada seluruh manusia.
Sejak saat itu, wahyu turun secara berkesinambungan. Rasulullah ﷺ mulai berdakwah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, meninggalkan penyembahan berhala, dan menjalankan syariat Islam. Peristiwa ini terjadi sebelum diwajibkannya shalat lima waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.
BACA JUGA: Muhammad ﷺ Jatuh
Perjalanan dakwah yang dimulai dari ayat-ayat tersebut bukanlah perjalanan yang mudah. Rasulullah ﷺ harus menghadapi berbagai bentuk penolakan, penghinaan, bahkan penyiksaan dari kaum Quraisy. Namun, dengan pertolongan Allah, beliau tetap teguh menyampaikan risalah hingga agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Di balik kisah ini terdapat pelajaran yang sangat berharga. Seorang dai atau penyeru kepada kebaikan membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, dan tawakal kepada Allah. Selain itu, dukungan keluarga yang saleh sebagaimana yang dicontohkan Khadijah radhiyallāhu ‘anhā juga memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan dakwah.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada keluarga. Beliau bersabda,
«إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا لِنِسَائِهِمْ»
“Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.” (HR. Ibnu Majah)
Semoga kisah turunnya kembali wahyu ini semakin meneguhkan keyakinan kita kepada kerasulan Muhammad ﷺ serta mendorong kita untuk meneladani kesabaran, keberanian, dan keteguhan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam. []
Sumber: The Great Story of Muhammad ﷺ : Referensi Lengkap Hidup Rasulullah ﷺ dari Sebelum Kelahiran hingga Detik-detik Terakhir / Penyusun: Ahmad Hatta, dkk. / Penerbit: Maghfirah Pustaka / Cetakan Keenam, September 2016
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

