Home SirahTangan di Atas, Jiwa yang Merdeka: Kisah Hakim bin Hizam

Tangan di Atas, Jiwa yang Merdeka: Kisah Hakim bin Hizam

Hakim ibn Hazim adalah salah seorang hartawan Makkah. Dialah yang mengelambui Ka’bah sendirian setahun.

by Abu Umar
0 comments 148 views

Di lembah Hunain, matahari siang meneteskan cahaya seperti emas cair. Pasir memantulkan panas, dan angin membawa bau ternak serta debu peperangan yang telah reda. Di sanalah Rasulullah ﷺ berdiri, dengan wajah yang teduh, tangan yang lapang, dan hati yang lebih luas dari padang pasir.

Ghanimah terbentang seperti lautan rezeki. Kambing berkerumun, unta berbaris, emas dan perak berkilau dalam diam. Para ahli sirah kelak akan menghitungnya dengan angka—puluhan ribu kambing, ribuan unta—namun Rasulullah ﷺ menghitungnya dengan hikmah. Ia tidak membagi sekadar harta, tetapi menata hati manusia.

Abu Bakar, Umar, Mu’adz, Ubay, Abu Dzar, Abu Hurairah—mereka yang telah lama berakar dalam iman—tidak mendekat untuk meminta. Mereka kenyang oleh keyakinan. Mereka tahu, tangan yang memberi lebih ringan dari tangan yang menadah. Yang datang justru mereka yang baru menapaki Islam; iman mereka masih belajar berdiri, tauhid mereka masih mencari keseimbangan. Rasulullah ﷺ memahami: ada hati yang dikuatkan dengan dzikir, ada pula yang didekatkan lewat pemberian.

BACA JUGA:  Kisah Sa’id bin Amir Al-Jumahi: Menasihati Umar bin Khattab

Datanglah Hakim bin Hizam. Seorang bangsawan Makkah, seorang dermawan lama, yang pernah menyelubungi Ka’bah seorang diri. Ia melangkah dengan suara yang tenang, namun hasrat dunia masih berdesir di dadanya.

“Wahai Rasulullah, berilah aku.”

Rasulullah ﷺ menoleh. Di antara dua bukit, kambing-kambing seperti awan putih yang turun ke bumi. “Tidakkah engkau lihat ternak di antara dua bukit itu? Ambillah semuanya.”

Hakim tertegun. Ia mengambilnya.

Esok hari, ia datang lagi. “Wahai Rasulullah, berilah aku.”
“Ambillah ini,” jawab beliau, dan tangan itu kembali memberi.

Hari ketiga, permintaan itu terulang. Seratus unta berpindah kepadanya, seolah-olah dunia sendiri yang berjalan menuju Hakim. Hari keempat, ia datang lagi, dan saat itulah Rasulullah ﷺ menatapnya lebih lama. Tatapan yang bukan menolak, tetapi mendidik.

“Wahai Hakim,” sabda beliau, “sesungguhnya harta ini manis lagi hijau. Namun tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Kata-kata itu jatuh perlahan, namun menembus dalam. Manis dan hijau—dunia memang menggoda, segar, dan memikat. Tetapi keindahan sejatinya ada pada memberi, bukan meminta.

Hakim terdiam. Lalu ia bersumpah, dengan suara yang bergetar oleh kesadaran, “Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meminta kepada seorang manusia pun setelah engkau.”

BACA JUGA:  Pertanyaan-pertanyaan dalam Kepala Abu Bakar Ash-Shiddiq

Janji itu bukan sekadar kata. Ia menjadi jalan hidup. Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, Abu Bakar datang membawa ‘atho’, Hakim menolak. Umar datang dengan ketegasan yang lembut, Hakim tetap menolak. Ia memilih menjaga janji, meski dunia terbuka lebar di hadapannya.

Umar pun bersaksi di hadapan manusia, bahwa Hakim telah diberi namun memilih menahan diri. Seolah-olah lembah Hunain kembali bergema, bukan oleh suara ternak, melainkan oleh pelajaran abadi: iman tidak selalu tumbuh dengan menolak dunia, tetapi ia matang ketika dunia tak lagi menguasai hati. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119