Home SirahKisah Sa’id bin Amir Al-Jumahi: Menasihati Umar bin Khattab

Kisah Sa’id bin Amir Al-Jumahi: Menasihati Umar bin Khattab

Sejurus kemudian Umar mengajak Sa'id untuk menjadi salah seorang pembantunya seraya berkata, "Ya Sa'id, kami mengangkatmu menjadi wali (gubernur) daerah Himsh."

by Abu Umar
0 comments 34 views

Sa’id bin Amir Al-Jumahi sering kali melihat Khubaib di kala tidur. Saat terjaga pun, Sa’id sering melihatnya dengan ilusi. Tergambar di benak Sa’id saat Khubaib melakukan shalat dua rakaat yang begitu tenang dan nikmat di depan kayu yang terpancang. Sa’id mendengar getaran suara Khubaib di telinganya saat Khubaib berdoa untuk kehancuran suku Quraisy. Sa’id menjadi khawatir terkena petir dibuatnya, atau takut terkena hujan batu yang jatuh dari langit karenanya.

Lalu Khubaib seperti telah mengajarkan Sa’id apa yang belum diketahui sebelumnya…. Khubaib mengajarkannya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di jalan akidah hingga mati. Khubaib mengajarkannya bahwa iman yang mantap akan menimbulkan banyak keajaiban dan mukjizat. Khubaib juga mengajarkannya hal lain, yaitu bahwa pria yang dicintai oleh para sahabatnya dengan cinta seperti ini tiada lain adalah seorang Nabi yang didukung oleh langit.

Pada saat itu pula, Allah Subhanahu wa Taala melapangkan dada Sa’id bin Amir untuk memeluk Islam. Maka ia berjalan menghampiri kerumunan manusia dan mengumumkan keterlepasan dirinya dari perbuatan dosa yang telah dilakukan suku Quraisy, dan ia berikrar akan meninggalkan segala berhala yang pernah disembanya dan ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.

BACA JUGA: Keimanan Umar bin Khattab Disebutkan dalam Hadist Nabi

Sa’id turut ikut berhijrah ke Madinah, dan ia senantiasa mendampingi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, la pun turut dalam Perang Khaibar dan perang perang lain setelah itu.

Setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kembali ke haribaan. Tuhannya, Sa’id menjadi pedang terhunus bagi Khalifah pengganti Rasul, yaitu Abu Bakar dan Umar, dan ia menjadi satu-satunya contoh bagi orang yang beriman yang berniat membeli kehidupan akhirat dengan dunianya. la rela mendahulukan Allah dan pahala yang akan diberikan daripada semua keinginan nafsu syahwat badan.

Kedua Khalifah Rasulullah mengetahui dengan baik kebenaran dan ketakwaan yang dimiliki oleh Sa’id. Mereka berdua sering mendengarkan dengan serius setiap nasehat dan ucapan Sa’id.

Sa’id mendatangi Umar saat Umar baru menjadi Khalifah. Sa’id berkata kepadanya, “Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu agar engkau takut kepada Allah dalam urusan manusia. Dan janganlah engkau takut kepada manusia dalam urusan Allah. Ucapanmu jangan pernah menyalahi perbuatanmu, sebab ucapan yang terbaik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan…

“Wahai Umar, perhatikanlah dengan baik orang yang telah Allah percayakan kepadamu urusannya dari kaum Muslimin, baik mereka yang jauh ataupun yang dekat. Cintailah mereka sebagaimana engkau menyayangi dirimu dan keluargamu. Buatlah mereka membenci apa yang engkau dan keluargamu benci. Goncanglah kumpulan manusia untuk menuju kebaikan, dan janganlah engkau khawatir terhadap kecaman orang selagi di jalan Allah!”

BACA JUGA: Rasa Tanggung Jawab dan Iman kepada Akhirat dari Para Sahabat Nabi

Umar pun bertanya. “Siapa yang mampu melakukan itu, wahai Sa’id?” Sa’id pun menjawab, “Yang mampu melakukan itu adalah orang sepertimu yang telah diberikan Allah kepercayaan untuk mengurusi permasalahan umat Muhammad. Tidak ada lagi jarak antara orang seperti dengan Allah.”

Sejurus kemudian Umar mengajak Sa’id untuk menjadi salah seorang pembantunya seraya berkata, “Ya Sa’id, kami mengangkatmu menjadi wali (gubernur) daerah Himsh.” Lalu Sa’id menjawab, “Ya Umar, demi Allah, janganlah engkau menimpakan fitnah (ujian) kepadaku.” Umar pun menjadi berang seraya berkata, “Celaka kalian…. Kalian meletakkan kepemimpinan ini di leherku, kemudian kalian mau lepas tangan dariku?! Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.” Lalu Umar mengangkat Said menjadi wali di daerah Himsh seraya bertanya, “Bolehkah kami menentukan gaji buatmu?” Sa’id menjawab, “Apa yang akan aku lakukan dengan gaji tersebut, wahai Amirul Mukminin?! Sebab gaji dari baitul maal melebihi kebutuhanku.” Dan akhirnya Sa’id pun berangkat ke Himsh. []

Sumber: Sirah, 65 Sahabat Rasulullah, Kisah Kehidupan dan Perjuangan 65 Sahabat Rasulullah Pilihan (Shuwar min Hayatish Shahabah 65 Syakhshiyyah) / Penulis: DR. Abdurrahman Ra’fat al-Basya / Penerbit: Penerbit Zikrul Hakim / Cetakan pertama, Maret 2016

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119