Home Baiti JannatiMengajarkan Adab Minum kepada Anak

Mengajarkan Adab Minum kepada Anak

Tidak minum dari gelas perak dan emas, atau dari gelas yang retak karena Rasulullah melarang hal tersebut.

by Abu Umar
0 comments 89 views

Mengajarkan adab minum kepada anak bukan sekadar menanamkan sopan santun lahiriah, tetapi juga mendidik hati agar mengenal rasa syukur dan kesadaran akan nikmat Allah. Para ulama salaf sangat memperhatikan adab dalam perkara sekecil apa pun, sebab mereka tahu bahwa kemuliaan seorang mukmin terlihat dari akhlaknya dalam hal-hal sederhana.

Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.” Maka, mengajarkan anak untuk minum dengan tangan kanan, tidak terburu-buru, dan menyebut nama Allah sebelum meneguk air adalah bentuk pendidikan ruhani yang membangun karakter sejak dini—agar setiap nikmat yang masuk ke tubuhnya disertai kesadaran, syukur, dan cinta kepada Sang Pemberi Nikmat.

BACA JUGA: Didik Anak Menuju Masjid Sebelum Menuju Sekolah

Ajarkan buah hati Ayah dan Bunda untuk:

1 – Duduk ketika minum.

Duduk ketika minum adalah adab yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai bentuk kehati-hatian, ketenangan, dan penghormatan terhadap nikmat Allah. Dengan duduk, tubuh lebih stabil, aliran air ke organ pencernaan menjadi lebih teratur, dan terhindar dari tersedak atau gangguan lambung. Ulama salaf menekankan bahwa adab kecil seperti ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cermin ketaatan hati terhadap sunnah Nabi ﷺ, karena orang beriman tidak menganggap remeh amalan yang mendatangkan keberkahan dalam setiap tegukan airnya.

2- Mengucapkan bismilah sebelum minum dan mengucapkan alhamdulillah sesudah minum.

3- Minum dengan 3 kali tegukan, setelah itu bernapas di luar gelas.

4- Tidak terburu-buru saat minum.

BACA JUGA:  Kapan Reward dan Punishment Diberikan pada Anak?

5- Tidak minum dari gelas perak dan emas, atau dari gelas yang retak karena Rasulullah melarang hal tersebut.

6- Ketika menyuguhkan minuman untuk tamu, dahulukan orang yang paling tua, kemudian orang yang ada di sebelah kanannya.

Tertib ini mencerminkan keseimbangan antara menghargai kedudukan dan menjaga sunnah, sebagaimana Nabi ﷺ pernah mendahulukan yang kanan setelah meminta izin kepada yang lebih tua. Para ulama salaf menilai adab seperti ini bukan hal sepele, karena ia menunjukkan kelembutan hati, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap sesama—akhlak yang menjadi ciri orang beriman sejati. []

Sumber: Rumahku Madrasah Pertamaku / Penulis: Dr. Khalid Ahmad Syantut / Penerbit: Maskana Media / Cetakan Kedua, Januai 2009

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119