Syukur kepada Allah bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah dengan lisan. Syukur adalah ibadah yang memiliki konsekuensi. Seorang hamba yang benar-benar bersyukur akan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang-Nya.
Secara umum, syukur dapat dibagi menjadi dua: syukur yang wajib dan syukur yang sunnah.
1. Syukur yang Wajib
Syukur yang wajib adalah dengan melaksanakan seluruh kewajiban sebagai seorang hamba dan meninggalkan semua perkara yang Allah haramkan.
Kesehatan, keselamatan, kekuatan, harta, waktu, pendengaran, penglihatan, dan berbagai nikmat lainnya tidak boleh digunakan untuk bermaksiat. Sebaliknya, semua nikmat tersebut harus diarahkan untuk menaati Allah.
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata dalam sebuah atsar:
“Setiap persendian kalian wajib disedekahi. Setiap shalat adalah sedekah, puasa adalah sedekah, haji adalah sedekah, membaca tasbih adalah sedekah, dan membaca takbir adalah sedekah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu al-Aswad)
BACA JUGA: Tanda Sempurnanya Iman: Akhlak yang Baik
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Jika ia tidak mampu melakukan kebaikan-kebaikan tersebut, hendaknya ia menahan diri dari keburukan, dan hal itu merupakan sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa meninggalkan keburukan juga merupakan bentuk syukur. Seorang hamba tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk menyakiti dirinya sendiri, merugikan orang lain, atau melakukan kemaksiatan.
Karena itu, sebagian ulama salaf berkata:
“Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan.”
Ada pula yang mengatakan:
“Syukur adalah tidak menggunakan nikmat yang diperoleh untuk melakukan maksiat.”
Ini adalah perkara penting. Tidak pantas seseorang menggunakan mata yang Allah berikan untuk melihat yang haram. Tidak layak menggunakan lisan untuk berdusta dan mencela. Tidak pantas menggunakan kekuatan untuk menzalimi. Dan tidak selayaknya menggunakan harta untuk sesuatu yang Allah murkai.
2. Syukur yang Sunnah
Adapun syukur yang sunnah adalah melakukan berbagai kebaikan setelah seorang hamba menunaikan kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang haram.
Di antara bentuknya adalah memperbanyak ibadah sunnah: shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, berzikir, membantu sesama, dan berbagai amal kebaikan lainnya.
BACA JUGA: Kemurahan Hati Rasulullah ﷺ dan Mendahulukan Orang Lain
Semakin banyak seorang hamba melakukan ketaatan setelah menunaikan kewajibannya, semakin tinggi pula tingkat syukurnya.
Rasulullah ﷺ sendiri merupakan teladan terbaik dalam hal ini. Beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kaki beliau bengkak.
Ketika ditanyakan mengapa beliau melakukan semua itu, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, Rasulullah ﷺ menjawab:
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah hakikat syukur yang sebenarnya.
Syukur wajib adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan keharaman.
Syukur sunnah adalah menambahnya dengan berbagai amal ketaatan dan kebaikan.
Maka, jangan hanya mengatakan “Alhamdulillah” ketika memperoleh nikmat. Buktikan syukur itu dengan ketaatan. Sebab, nikmat yang paling sempurna adalah nikmat yang membawa pemiliknya semakin dekat kepada Allah. []
Sumber: Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim / Penulis: Abdul Mun’im al-Hasyimi / Penerbit: Gema Insani / Cetakan 1. 1423 H
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

