Home MuhasabahMujahadah (Bersungguh-sungguh Melawan Hawa Nafsu)

Mujahadah (Bersungguh-sungguh Melawan Hawa Nafsu)

Bagi orang yang lemah dalam mengendalikan dirinya—karena kelemahan tabiat manusia—maka mujahadah ini harus terus berlangsung hingga ruh berpisah dari jasad.

by Abu Umar
0 comments 8 views

Berkata Malik bin Dinar:
“Tidak ada satu pun amalan kebaikan melainkan di depannya ada rintangan. Jika pelakunya bersabar, maka rintangan itu akan mengantarkannya kepada ketenangan. Namun jika ia berkeluh kesah, ia akan kembali (mundur).”

Mujahadah dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan perkara yang diharamkan memiliki tahapan-tahapan. Seseorang bersungguh-sungguh melawan dirinya untuk menegakkan shalat dan menjaganya, hingga ia istiqamah, merasakan kebahagiaan dengannya, dan mulai mengecap manisnya ibadah.

Kemudian ia terus naik dari satu tahap ke tahap berikutnya, dari satu amal ke amal lainnya, hingga mencapai puncak mujahadah: berinteraksi dengan Allah tanpa melibatkan kepentingan makhluk, dan berinteraksi dengan makhluk tanpa mengikuti hawa nafsu.

BACA JUGA: Hawa Nafsumu

Tidaklah seseorang sampai pada derajat ini kecuali orang yang Allah ikhlaskan hatinya, karena kejujuran cintanya dan kesempurnaan penghambaan dirinya.

Dari Abdullah bin Amr bin al-As radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: pernah ditanyakan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ,
“Siapakah manusia yang paling utama?”

Beliau menjawab:
“Setiap orang yang hatinya bersih dan lisannya jujur.”

Para sahabat bertanya:
“Kami mengetahui (makna) lisan yang jujur, lalu apa itu hati yang bersih?”

Beliau menjawab:
“Yaitu hati yang bertakwa, suci, tidak mengandung dosa, tidak ada kezaliman, tidak ada kedengkian, dan tidak pula hasad.”
(HR. Ibnu Majah)

Seseorang juga bermujahadah untuk meninggalkan yang haram hingga ia terbiasa meninggalkannya. Lalu ia terus berjuang hingga sampai pada keadaan di mana jiwanya merasa jijik terhadap maksiat, bahkan heran terhadap orang yang melakukannya.

BACA JUGA: Menekan Nafsu agar Sabar Menempuh Ketaatan

Namun, bagi orang yang lemah dalam mengendalikan dirinya—karena kelemahan tabiat manusia—maka mujahadah ini harus terus berlangsung hingga ruh berpisah dari jasad.

Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, serta tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” []

SUMBER: AR-ISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119