Home IbadahUntuk Mereka yang Masih Berat Menunaikan Shalat Subuh

Untuk Mereka yang Masih Berat Menunaikan Shalat Subuh

by Abu Umar
0 comments 74 views

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.”[1]

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba’du.

Aku berwasiat kepada diriku dan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah عز وجل. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)

BACA JUGA:  Waktu Shalat Sunnah Shubuh

Pemandangan Menyedihkan di Waktu Subuh

Wahai kaum muslimin, di antara pemandangan harian yang menyedihkan pada zaman ini—bahkan sangat mengkhawatirkan—adalah apa yang kita lihat di masjid-masjid kita, khususnya pada shalat Subuh.

Betapa sedikit jumlah jamaahnya. Betapa jelas berkurangnya orang-orang yang berdiri, rukuk, dan sujud di rumah Allah. Yang lebih menyedihkan, banyak di antara yang tidak hadir itu adalah orang-orang yang sehat, mampu, aman, tidak sakit, tidak bepergian, dan tidak pula memiliki uzur syar’i.

Sungguh, seorang mukmin yang mencintai saudara-saudaranya akan merasa sedih melihat keadaan ini. Ia khawatir terhadap nasib mereka, dan juga terhadap keadaan masyarakat, jika kondisi seperti ini terus dibiarkan.

Ke manakah barisan-barisan yang biasa tampak pada shalat-shalat lainnya?
Ke manakah para lelaki yang biasa kita lihat di waktu-waktu selain Subuh?

Bukankah Allah adalah Al-Hayy Al-Qayyum, Dzat Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, Yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur?

Lalu bagaimana mungkin sebagian manusia tidak malu kepada-Nya? Mereka tertidur dari salah satu amal yang paling Allah cintai, lalu satu jam setelahnya—atau kurang, atau lebih—jalan-jalan menjadi penuh oleh mereka, kendaraan berdesakan, dan dunia dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas mereka. Mereka berangkat mengejar urusan dunia, mencari rezeki, dan berharap Allah melapangkan pemberian-Nya untuk mereka, padahal mereka baru saja lalai dari panggilan-Nya.

Fenomena yang Kian Mengkhawatirkan

Dahulu, rasa berat untuk shalat Subuh berjamaah biasanya hanya terlihat pada sebagian kecil pemuda. Namun pada zaman kita sekarang, hal ini bahkan tampak pada orang-orang yang telah melewati usia tiga puluh, bahkan empat puluh dan lima puluh tahun.

Alangkah buruknya kemunduran ini.
Alangkah parahnya kemerosotan ini.

Sungguh buruk menyia-nyiakan masa muda,
lalu bagaimana jika uban telah memenuhi kepala?

Benar, wahai kaum mukminin. Betapa buruknya jika seseorang yang rambutnya telah memutih, usianya telah banyak berlalu, dan semestinya akalnya telah matang serta pandangannya telah jernih, justru masih juga lalai dari jalan keselamatannya.

Padahal, semestinya ia telah mengetahui mana yang mengangkat derajatnya dan mana yang menjatuhkannya. Semestinya pula hatinya telah menjadi lebih lembut sebagaimana tulangnya telah melemah. Namun kenyataannya, ia masih menoleh ke kanan dan ke kiri, lalai dari sebab keselamatannya di alam kubur, dan menyia-nyiakan sebab terbesarnya untuk meraih keberuntungan pada hari kebangkitan.

Shalat Subuh Bukan Shalat Biasa

Shalat Subuh adalah shalat yang diwajibkan, dan pelaksanaannya secara berjamaah bagi laki-laki adalah perkara yang sangat ditekankan. Ia adalah Al-Qur’an yang disaksikan, kemuliaan yang besar, waktu turunnya para malaikat dan naiknya malaikat yang lain, serta waktu yang di dalamnya terdapat janji agung bagi orang beriman dan ancaman keras bagi orang munafik.[2]

Namun betapa banyak orang tetap tertidur.
Betapa banyak orang tetap terhalang.

Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Lima shalat telah Allah wajibkan. Barang siapa yang membaguskan wudhunya, melaksanakannya pada waktunya, menyempurnakan rukuk dan kekhusyukannya, maka ia memiliki janji dari Allah bahwa Allah akan mengampuninya. Dan barang siapa yang tidak melakukannya, maka ia tidak memiliki janji dari Allah; jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya, dan jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya.”[3]

Beliau ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa yang melaksanakan dua shalat yang dingin (Subuh dan Ashar), maka ia akan masuk surga.”[4]

Dan beliau ﷺ bersabda pula:

“Barang siapa yang shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah.”[5]

Betapa besar kemuliaan ini. Orang yang menjaga shalat Subuh berarti ia memulai harinya dalam perlindungan Allah.

Disaksikan oleh Para Malaikat

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Para malaikat bergantian mendatangi kalian pada malam hari dan pada siang hari. Mereka berkumpul pada shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian malaikat yang bermalam bersama kalian naik, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka—dan Dia lebih mengetahui keadaan mereka—: ‘Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datangi mereka dalam keadaan shalat.’”[6]

Lihatlah, wahai saudaraku, betapa agung kedudukan orang yang menjaga shalat Subuh. Ia bukan hanya sedang shalat, tetapi sedang disaksikan oleh para malaikat.

Pahala Besar bagi yang Menjaga Jamaah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang shalat Isya berjamaah, maka seakan-akan ia telah shalat setengah malam. Dan barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan ia telah shalat semalam suntuk.”[7]

Lalu bagaimana mungkin seseorang rela kehilangan pahala sebesar ini hanya karena rasa kantuk sesaat?

Tanda Kemunafikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”[8]

Hadis ini seharusnya membuat hati bergetar. Sebab beratnya hati untuk hadir di Subuh dan Isya adalah salah satu sifat orang munafik.

Ancaman Bagi yang Tidur dari Shalat Wajib

Dalam hadis mimpi Nabi ﷺ yang panjang, beliau melihat seorang laki-laki yang kepalanya dihancurkan dengan batu, lalu kembali seperti semula, kemudian dihancurkan lagi berulang-ulang. Ketika Nabi ﷺ bertanya tentang orang itu, dijelaskan:

“Adapun orang yang kepalanya dihancurkan dengan batu, maka dia adalah orang yang mengambil Al-Qur’an lalu meninggalkannya, dan dia tidur dari shalat wajib.”[9]

Ini adalah ancaman yang sangat keras. Tidur dari shalat wajib bukan perkara sepele. Ia bukan sekadar “kelelahan”, bukan sekadar “terlambat bangun”, tetapi bisa menjadi tanda penyakit besar dalam hati jika terus-menerus diremehkan.

Setelah Semua Dalil Ini, Masihkah Hati Tidak Bergerak?

Wahai kaum muslimin, apa lagi yang tersisa setelah semua nash yang agung ini? Semuanya datang dari lisan Rasulullah ﷺ yang tidak berbicara dari hawa nafsu.

Setelah semua ini, semestinya yang tersisa hanyalah dua keadaan:

Seorang mukmin yang dipenuhi keyakinan, lalu hatinya dipenuhi rasa takut terhadap ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat Subuh, sekaligus dipenuhi harapan terhadap pahala dan kenikmatan yang Allah janjikan.
Atau seorang munafik, yang justru semakin sempit dadanya, semakin berat melangkah, dan tetap bertahan dalam kelalaiannya.

Hari demi hari berlalu, umur berkurang, dosa bertambah, dan ia tetap tidak peduli… hingga suatu hari umurnya terputus, ajalnya datang, lalu ia menghadap Rabb-nya dalam keadaan dosa-dosanya telah mengepungnya.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Dahulu jika kami kehilangan seseorang pada shalat Subuh dan Isya, kami berburuk sangka kepadanya.”[10]

Bersegeralah Bertaubat

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin.

Barang siapa yang Allah beri taufik untuk menjaga shalat Subuh berjamaah, hendaklah ia memuji Allah atas nikmat besar itu. Sebab tidak ada nikmat yang lebih agung daripada nikmat istiqamah dalam ketaatan.

Adapun orang yang meninggalkan masjid, atau datang sesekali lalu hilang berhari-hari, hendaknya ia segera bertaubat dengan sebenar-benarnya sebelum datang kepadanya pemutus segala kenikmatan: kematian.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (dirikan pula) Al-Qur’an Subuh. Sesungguhnya Al-Qur’an Subuh itu disaksikan. Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 78–79)

Dua Rakaat Sunnah Subuh Saja Lebih Baik daripada Dunia

Masih ada satu hadis agung tentang shalat Subuh yang seharusnya mengguncang hati siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”[11]

Perhatikan baik-baik…

Jika dua rakaat sunnah Subuh saja lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya, lalu bagaimana dengan shalat Subuh yang wajib itu sendiri?

BACA JUGA:  Rizki Para Hamba di Antara Shalat Shubuh dan Terbitnya Matahari

Maka hendaklah setiap orang yang masih tidur dari shalat Subuh, atau masih malas menunaikannya di masjid, sadar bahwa ia sedang lebih memilih dunia daripada akhirat, lebih mendahulukan apa yang disukai hawa nafsunya daripada apa yang Allah cintai.

Dan demi Allah, ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya.

Penyakit ini lebih layak untuk segera diobati daripada penyakit jasad. Sebab penyakit tubuh paling jauh hanya mengantarkan pada kematian, sedangkan penyakit hati bisa berakhir dengan kesempitan kubur dan azab akhirat.

Penutup

Maka bertakwalah kepada Allah.
Jauhilah dosa dan maksiat.
Karena dosa-dosalah yang paling sering menjadi penghalang seseorang dari ketaatan.

Ingatlah suatu hari ketika seseorang akan dimasukkan ke dalam kuburnya sendirian. Tidak ada yang menerangi kegelapannya dan menghilangkan kesunyiannya selain amal salehnya. Dan amal yang paling baik dan paling agung adalah shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Beristiqamahlah kalian, meskipun kalian tidak akan mampu menghitung seluruhnya. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat, dan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.”[12]

Dan dalam riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat itu adalah cahaya.”[13]

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat, khususnya shalat Subuh berjamaah, dan semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang lalai. []

Footnote

[1] HR. At-Tirmidzi no. 223 dan Abu Dawud no. 561; dishahihkan oleh Al-Albani.
[2] Lihat QS. Al-Isra’: 78 dan hadis tentang pergiliran malaikat pada shalat Subuh dan Ashar.
[3] HR. Abu Dawud no. 425 dan An-Nasa’i no. 461; dishahihkan oleh Al-Albani.
[4] HR. Al-Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635.
[5] HR. Muslim no. 657.
[6] HR. Al-Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632.
[7] HR. Muslim no. 656.
[8] HR. Al-Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651.
[9] HR. Al-Bukhari no. 7047.
[10] HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani; dishahihkan oleh Al-Albani.
[11] HR. Muslim no. 725.
[12] HR. Al-Hakim dan Ibnu Hibban; dishahihkan oleh Al-Albani.
[13] HR. Muslim no. 223.

SUMBER: AR.ISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119