Di istana yang lampunya tak pernah benar-benar padam, Harun ar-Rasyid berjalan pelan. Langkahnya mantap, tapi hatinya selalu ditambatkan pada langit. Ia seorang khalifah. Disegani. Ditakuti. Namun dalam sunyi malam, ia hanyalah hamba yang rindu sujud panjang. Tahun ini ia berhaji. Tahun depan ia mengirim utusan. Begitu seterusnya. Seolah dunia dan akhirat harus berjalan beriringan, tak boleh saling mendahului.
Harun mencintai ilmu sebagaimana ia mencintai ibadah. Di Bayt al-Hikmah, buku-buku diterjemahkan, akal diasah, dan peradaban ditenun. Ia duduk dekat para ulama, mendengar nasihat mereka, menundukkan kepalanya. Kekuasaan baginya bukan mahkota, melainkan amanah yang berat. Dan di balik beban itu, ada satu nama yang selalu menjadi sandaran: Zubaidah.
BACA JUGA: Kecintaan Para Sahabat terhadap Rasulullah
Zubaidah—Amatul Aziz—permaisuri dengan hati yang luas. Cantik, iya. Kaya, tentu. Tapi yang paling memikat adalah kesalehannya. Istana tempat ia berdiam tak hanya ramai oleh protokol, tetapi oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Bacaan para pelayan wanitanya bergaung seperti dengungan lebah. Lembut. Teratur. Menghidupkan. Di tengah hiruk-pikuk politik, ia menanamkan sakinah. Ia tahu, rumah tangga pemimpin adalah poros sunyi yang menentukan arah.
Cinta mereka bukan cinta yang ribut. Ia tenang. Saling menguatkan. Zubaidah mendorong Harun untuk terus memuliakan ilmu. Bukan sekadar agar kerajaan berjaya, tetapi agar umat tercerahkan. Dalam setiap keputusan besar, ada doa yang diam-diam dipanjatkan di ruang-ruang kecil istana.
BACA JUGA: Khalifah Harun Ar-Rasyid pada Syaikh Al-Ashma’i: Aku Mengirimkan Putraku untuk Diajari Ilmu dan Adab
Suatu musim haji, Zubaidah melihat kenyataan yang menyayat. Jamaah kehausan. Air mahal. Mekah seperti menahan napas. Di sana, cintanya menemukan bentuk yang lain. Ia membuka seluruh perbendaharaannya. “Gali,” katanya. “Belah gunung jika perlu.” Maka dibangunlah ‘Ain Zubaidah. Saluran air panjang, menembus batu dan waktu. Air mengalir. Hidup mengalir.
Harun melihatnya. Ia paham, inilah mawaddah dan rahmah yang sesungguhnya. Cinta yang tidak berhenti di dua hati, tetapi mengalir ke jutaan jiwa. Berabad-abad kemudian, air itu masih menyapa para peziarah. Mengajarkan kita satu hal: keluarga salehah bukan hanya yang saling mencintai, tetapi yang cintanya bermanfaat dan kekal. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

