Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi pengakuan hati atas kelemahan diri di hadapan Allah. Ia adalah pintu kembali bagi jiwa yang letih oleh dosa, lalai oleh kesibukan dunia, dan jauh dari cahaya ketaatan. Dengan istighfar, seorang hamba merendahkan dirinya, mengakui kekurangan, dan berharap ampunan dari Rabb Yang Maha Pengampun.
Para ulama salaf menanamkan istighfar sebagai wirid kehidupan, bukan hanya saat terjatuh dalam dosa besar, tetapi juga ketika merasa telah berbuat baik. Mereka memahami bahwa istighfar adalah sebab datangnya ketenangan, dilapangkannya rezeki, dan dibukanya pintu-pintu kebaikan. Karena itulah, istighfar bukan tanda kelemahan iman, melainkan bukti hidupnya hati dan kesadaran seorang hamba.
BACA JUGA: Istighfar: Kunci Turunnya Rahmat dan Rezeki
Istighfar dapat dilakukan secara muthlaq (bebas dan umum) dan muqayyad (terikat oleh sebab dan waktu). Untuk yang muthlaq, kita bisa melakukan di saat kapan pun dan di mana pun, sebanyak-banyaknya.
Lebih utama mengikuti yang Rasulullah lakukan yaitu 70 kali lebih dalam sehari, atau juga 100 kali dalam sehari, sebagaimana hadis:
وإني لأستغفر الله، في اليوم مائة مرة
Aku benar-benar beristighfar kepada Allah dalam sehari 100 kali. (HR. Muslim no. 2702)
BACA JUGA:
Keutamaan Istighfar yang Besar
Ada pun yang muqayyad, dapat kita lakukan karena beberapa sebab atau kondisi, contoh:
1. Setelah berbuat dosa (QS. Ali Imran: 135)
2. Setelah selesai shalat (dibaca 3 kali astaghfirullah). (HR. Muslim)
3. Sebelum berdoa. Imam Ibnul Qayyim mengatakan dalam Jawabul Kafi, bahwa Istighfar sebelum berdoa merupakan adab dan sebab dikabulkannya doa. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

