Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan dan menggantungkan hidup kepada pemberian orang lain. Sebaliknya, Islam mendorong setiap Muslim untuk berusaha, bekerja, dan mencari rezeki yang halal dengan tetap bertawakal kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
“Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 11).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah menjadikan siang terang benderang agar manusia dapat beraktivitas mencari penghidupan. Pada waktu itulah manusia bekerja, berdagang, bepergian, dan melakukan berbagai urusan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ayat ini mengingatkan bahwa bekerja merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam menjalani kehidupan. Allah menyediakan siang sebagai kesempatan untuk berusaha, sementara rezeki tetap berada dalam ketetapan dan kemurahan-Nya.
BACA JUGA: Itqān, Bekerja dengan Sempurna
Jangan menjadikan pemberian orang lain sebagai sandaran hidup
Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, seorang ulama dari kalangan tabiin, memberikan peringatan tentang orang yang hanya berdiam diri di masjid, meninggalkan pekerjaan, lalu berharap pemberian dari orang lain datang kepadanya.
Perkataan ini dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis (hlm. 300). Pesan yang dapat diambil adalah bahwa ibadah tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan ikhtiar mencari nafkah, padahal seseorang mampu bekerja dan memenuhi kebutuhannya.
Tentu, hal ini bukan berarti setiap orang yang menerima bantuan atau pemberian dianggap tercela. Orang yang sakit, tidak mampu bekerja, tertimpa musibah, atau sedang berada dalam kesulitan berhak mendapatkan pertolongan. Membantu mereka justru merupakan bagian dari kebaikan dan kepedulian dalam Islam.
Yang perlu dihindari adalah sikap sengaja meninggalkan usaha, padahal memiliki kemampuan, kemudian membiasakan diri menggantungkan kebutuhan kepada orang lain.
BACA JUGA: Apa Hukum Bekerja di Bank?
Bekerja juga dapat bernilai ibadah
Mencari nafkah bukan semata-mata untuk mengumpulkan harta. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan di dalamnya: memenuhi kebutuhan diri sendiri, menafkahi keluarga, membayar kewajiban, dan menjaga kehormatan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).
Karena itu, jangan malu dengan pekerjaan yang halal, sekecil apa pun penghasilannya. Jangan pula meremehkan usaha sederhana selama dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh.
Beribadahlah dengan sungguh-sungguh, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab, dan mintalah rezeki hanya kepada Allah. Sebab, tawakal bukan berarti berpangku tangan, melainkan berusaha sebaik mungkin seraya menggantungkan hati kepada-Nya. []