Home » Mencurahkan Hati untuk Beribadah: Ketenangan dalam Zikir dan Tawakal kepada Allah

Mencurahkan Hati untuk Beribadah: Ketenangan dalam Zikir dan Tawakal kepada Allah

by haura nurbani
0 comments 1 views

Kesibukan dunia sering kali membuat manusia mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk mencari harta, mengejar kedudukan, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Tanpa disadari, urusan dunia dapat menyita perhatian hingga seseorang lalai dari tujuan utama penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah.

Padahal, hati yang dekat dengan Allah akan memperoleh ketenangan dan kecukupan yang tidak selalu dapat diukur dengan banyaknya harta. Dua hadis berikut mengingatkan kita tentang keutamaan mengutamakan ibadah, menjaga salat, dan bertawakal kepada Allah dalam menjalani kehidupan.

BACA JUGA: Bahaya Riya dalam Ibadah, Ketika Amal Kehilangan Keikhlasan

Luangkan Waktu untuk Beribadah kepada Allah

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, curahkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan mencukupkan kebutuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, Aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan, tetapi Aku tidak akan menghilangkan kefakiranmu.’”

Abu ‘Isa at-Tirmidzi رحمه الله menilai hadis ini sebagai hasan gharib.

Hadis ini mengajarkan pentingnya memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada ibadah. Jangan sampai kesibukan mencari penghidupan membuat kita melupakan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagai kewajiban kepada Allah.

Allah menjanjikan kecukupan bagi hamba yang mengutamakan ibadah kepada-Nya. Kecukupan tersebut tidak harus berarti memiliki harta yang melimpah, tetapi juga berupa hati yang merasa cukup, tenang, dan tidak terus-menerus dikuasai oleh keinginan duniawi.

Bukan berarti seorang muslim harus meninggalkan pekerjaan atau mengabaikan tanggung jawab keluarga. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar. Kita tetap bekerja, mencari nafkah, dan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi semua itu tidak boleh menggeser kedudukan Allah dalam hati kita.

Penggembala yang Mengumandangkan Azan di Puncak Gunung

Hadis berikutnya menggambarkan keutamaan seorang hamba yang tetap menjaga ibadah meskipun berada jauh dari keramaian manusia.

An-Nasa’i meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir رضي الله عنه, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةِ الْجَبَلِ يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ وَيُصَلِّي، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

“Rabbmu kagum terhadap seorang penggembala kambing yang berada di puncak gunung. Ia mengumandangkan azan untuk salat, kemudian mendirikan salat. Allah عز وجل berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku ini. Ia mengumandangkan azan dan mendirikan salat karena takut kepada-Ku. Sungguh, Aku telah mengampuni hamba-Ku dan memasukkannya ke dalam surga.’”

Kisah penggembala ini memberikan pelajaran berharga tentang keikhlasan. Ia berada di tempat yang jauh dari keramaian, tidak disaksikan banyak orang, dan tidak mengharapkan pujian manusia. Namun, ia tetap mengingat Allah dan menunaikan salat.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa kualitas ibadah tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang melihat. Seorang hamba yang ikhlas akan tetap beribadah, baik ketika berada di tengah masyarakat maupun ketika sendirian.

Ibadah yang Dilandasi Rasa Takut dan Harapan

Penggembala dalam hadis tersebut menunjukkan rasa takut kepada Allah melalui ketaatannya. Ia tidak membiarkan kesibukan menggembala membuatnya melupakan kewajiban salat.

Rasa takut kepada Allah semestinya melahirkan ketaatan, bukan keputusasaan. Seorang muslim berusaha menjauhi larangan-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan senantiasa berharap mendapatkan ampunan serta rahmat-Nya.

Di samping itu, ibadah harus disertai tawakal. Kita berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang halal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Hati tidak seharusnya bergantung sepenuhnya kepada harta, pekerjaan, atau kedudukan, sebab semuanya berada dalam ketetapan Allah.

BACA JUGA: Syarat Ibadah: Ikhlas dan Ittiba

Penutup

Kedua hadis ini mengingatkan kita agar tidak tenggelam dalam kesibukan dunia hingga melupakan ibadah. Luangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan jagalah salat dalam keadaan apa pun.

Jangan pula menganggap kecil amal yang dilakukan dengan ikhlas, meskipun tidak diketahui oleh manusia. Bisa jadi, amalan sederhana yang dilakukan dengan penuh keimanan menjadi sebab datangnya ampunan dan rahmat Allah.[]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119